Category Archives: Tokoh

Sekilas Tentang Muhammad Arsyad Al-Banjari

Arsyad AlBanjari 251x300 Sekilas Tentang Muhammad Arsyad Al BanjariMuhammad arsyad al-banjari atau yang akrab dikenal oleh orang banjar (suku dikalimantan selatan) dengan sebutan datu kalampayan, lahir di desa lok gabang martapura, kalimantan selatan pada 15 safar 1122H, bertepatan dengan 19 maret 1710m.dia merupkan putra tertua dari lima bersaudara,ayahnya bernama abdullah dan ibunya benama siti aminah.muhammad arsyad lahir di lingkungan keluarga yang terkenal taat beragama.kondisi lingkungan yang baik ini mempunyai andil yang besar dalam membentuk kepribadian muhammad arsyad selanjutnya.

Ketika dia berumur sekitar 7 tahun, sultan Tahlillah (1700-1745)m, penguasa kesultanan banjar padan waktu itu meminta kepada orang tua muhammad arsyad agar bersedia menyerahkan anaknya untuk dididik dan di besarkan di lingkungan istana sekeligus diadopsi sebagai anak angkatnya.keinginan ini dilakukan karena sultan tertarik dengan kecerdasan dan keterampilan arsyad muda ketika mengadakan kunjungan kerja ke desa lok gabang. Meskipun Abdullah dan aminah, orang tua Muhammad Arsyad, sebetulnya mereka keberataan untuk melepaskan anak tertuanya itu untuk di adopsi sultan, namun mereka tidak kuasa untuk menolak maksud baik sultan. Merekapun meyerahkan anaknya kepada sultan untuk tinggal bersama anak-anak dan cucu-cucu keluarga istana. Muhammad Arsyad tinggal di lingkungan istana kesultanan Banjar ini selama sekitar dua puluh tahun,karena pada umur sekitar 30 tahun dia merantau untuk menuntut ilmu di Haramain; Mekkah dan Madinah. Ia belajar di Mekkah kurang lebih 30 tahun dan belajar di Madinah kurang lebih 5 tahun. Dia kembali lagi ke Banjar pada Bulan Ramadhan 1186 H/Desember 1772.

Sebelum berangkat menuntut ilmu kemekkah dan madinah, Muhammad Arsyad dikawankan oleh sultan dengan seorang wanita bernama Bajut yang ditinggalkannya dalam kondisi hamil.Istrrinya ini melahirkan seorang bayi perempuan yang kemudian diberi nama Syarifah, Ketika Muhammad Arsyad masih berada di perantauan,sibuk menggeluti pelajaran-pelajarannya.Ktika Syarifah sudah beranjak dewasa, dia ( sebagai wali mujbir ) mengawinkan dengan sahabatnya sendiri ‘Abd Al wahab Bugis, sedangkan sultan (sebagai wali hakim) juga menikahkan dengan sesorang yang bernama Usman (permasalahan ini dibahas lebih lanjut dalam pemikiran Syekh Arsyad dalam Ilmu Falak).

Sekembalinya dari tanah suci, syekh arsyad aktif melakukan penyebaran agama islam di wilayah kalimantan selatan melalui jalur pendidikan, dakwah, tulisan dan keluarga.dalam jalur pendidikan, dia mendirikan pondok pesantren lengkap dengan sarana dan prasarananya, termasuk sestem pertanian untuk menopang kehidupan para santrinya. Dalam jalur dakwah, dia mengadakan pengajian-pengajian umum baik untuk kalangan kelas bawah maupun kalangan istana.dalam tulisan, dia aktif menulis kitab-kitab yang bisa dibaca hingga sekarang.sedangkan dalam jalur keluarga, dia melakukan dakwah dengan mengawini para wanita-wanita terhormat untuk mempermudah penyebaran islam di masyarakat, sehingga dalam catatan sejarah, ada 11 orang isteri dalam kehidupannya.dia mengawini para isterinya tidak bersamaan dan tidak lebih dari empat orang dalam hidupnya, tetapi apabila salah seorang isterinya meninggal, dia menikah lagi dan begitu seterusnya. Syekh arsyad dapat berlaku bijaksana dan adil terhadap para isterinya, sehingga mereka hidup rukun dan damai.

Isteri-isteri syekh arsyad tersebut adalah: 1. Bajut; melahirkan syarifah dan aisyah. 2. Bidur; melahirkan Kadi H. Abu Suud, saidah, Abu Na’im, dan Khalifah H. Syahab Al-Din. 3. Lipur; melahirkan Abd Al-Manan, H.Abu Najib, alim al-Fadhil H. Abd Allah, Abd Al-Rahman, dan alim al-Fadhil Abd Al-Rahim. 4. Guwat (keturunan cina; Go Hwat Nio); melahirkan Asiyah, Khalifah H.Hasanuddin, Khalifah H.Zain Al-Din,Rihanah,Hafsah, dan Mufti H.Jamal Al-Din.Dalam perkawinan ini, Syekh Arsyad berusaha menyebarkan islam dikalngan Tionghoa, dia tidak merubah nama isterinya untuk menunjukkan bahwa islam tidak akan merubah tradisi mereka, asal tidak bertentangan dengan ajaran pokok islam. 5. Turiyah; melahirkan Nur’ain, Amah, dan Caya. 6. Ratu Aminah;melahirkan Mufti H.Ahmad, Safia, Safura, Maimun, Salehah, Muhammad, dan Maryamah. 7. Palung; melahirkan salamah, salman, dan saliman. 8. Kadarmik. 9. Mardikah. 10. Liyyuhi. 11. Dayi.(keempat isteri yang terakhir ini tidak memberikan keturunan).

Syekh Arsyad melakukan dakwah di Banjar selama kurang lebih 40 tahun. Menjelang ajalnya, dia menderita sakit lumpuh, darah tinggi, dan masuk angin dan akhirnya meninggal 6 Syawal 1227H/13 Oktober 1812M dalam usia 105 tahun (hitungan tahun hijriyah) atau 102 tahun (hitungan masehi), dan dimakamkan di Kalampayan, Astambul, Banjar,Kalimantan Selatan.

 

Riwayat Pendidikan

Muhammad Arsyad hidup di tengah-tengah lingkungan keluarga yang taat beragama, dan di sinilah, untuk pertama kalinya dia memperoleh pendidikan dan teladan yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Di usia yang sengat belia (sekitar umur tujuh tahun), dia telah fasih membaca al-Qur’an. Ketika sultan Tahlil Allah, penguasa kesultanan Banjar pada waktu itu, mengadakan kunjungan kerja ke Desa Lok Gabang, Sultan tertarik dengan kecerdasan dan keterampilan Arsyad muda dan meminta kepada orang tuanya untuk dididik di lingkungan istana dan dijadikan anak angkat. Di sinilah Muhammad Arsyad memperoleh pendidikan yang lebuh berkualitas dari para guru yang didatangkan Sultan ke istana.

Ketika Syekh Muhammad Arsyad berusia sekitar 30 tahun, Sultan Tahlillah mengirimkan dia ke Mekkah untuk menuntut ilmu dengan biaya istana. Ketika berada di Mekkah, Syekh Arsyad belajar bersama dengan tokoh-tokoh abad ke-18 lainnya; Syekh Abdussamad Al-Palimbani dari Palembang Sumatera Selatan, Abdul Wahab Bugis, dan Syekh Abdurrahman Al-Masri Al-Batawi Jakarta. Keempat serangkai ini adalah sama-sama murid seorang sufi besar, Syekh Muhammad bin Abdul Karim Al-Sammani Al-Madani dari Madinah.

Pada mulanya, empat serangkai ini bermaksud melanjutkan studinya ke Mesir, tetapi oleh gurunya, Syekh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi, mereka disarankan pulang ke kampung halaman masing-masing. Imam Haramain tersebut menilai bahwa bekal keilmuan mereka sudah memadai untuk membina umat di daerah-daerah tempat asal mereka, sehingga mereka tidak perl lagi melanjutkan studi ke Mesir, lagi pula umat di kampung halaman masing-masing lebih membutuhkan pembinaan dari mereka. Namun menurut Azyumardi Azra (1998) mereka memutuskan tetap pergi ke Mesir, tetapi hanya berkunjung, bukan melanjutkan studinya. Indikasi ini ditunjkkan dengan pemberian gelar kepada salah seorang teman Syekh Arsyad, yaitu Syekh Abdurrahman dari Betawi dengan gelar al-Misry pada namanya.

 

Karir Keilmuan

1. Bidang fatwa

2. Bidang Ilmu Falak

a.  kasus arah kiblat

b. kasus perkawinan

3. Bidang Pendidikan dan Pertanian

4. Bidang Dakwah

5. Bidang Tasawuf

6. Bidang Kenegaraan

a.  pembentukan syari’at islam

b. pembentukan mahkamah syari’ah dan jabatan mufti

7. Bidang Fiqih

a.  shalat berjama’ah

b. zakat

c.  penguburan mayat

 

Karya

Karya terbesar Syekh Arsyad adalah Kitab Sabilal Muhtadin, Kitab yang ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu tulisan Arab ini merupakan kitab fiqih mazhab Syafi’i, ditulis mulai tahun 1193-1195 H/ 1779-1781 M, terdir dari dua jilid yang masing-masing berisi 500 halaman.

Kitab-kitab fiqih lainnya adalah Luqthah al-Ajlan, Kitab al-Nikah, Kitab al-Faraidh, dan Hasiyah Fath al-jawad (Komentar terhadap Buku Pembukaan Kemurahan Hati).

Kitab-kitabnya dalam bidang tauhid, di antaranya: Ushul al-Din, Tuhfah al-Raghibin fi bayan Haqiqah Imam al-Mu’minin wa Mayufsiduh min Riddah al-Murtaddin (Hadiah Bagi Para Pencinta dalam Menjelaskan Hakikat Imam para Mukmin dan Apa yang Merusaknya;Kemurtadan Orang-Orang Murtad), Qaul al-Mukhtashar fi Alamah al-Mahd al-Muntadzar (pembicaraan Singkat tentang Tanda Imam Mahdi yang Ditunggu), dan Tarjamah Fath al-Raman. Sedangkan kitabnya dalam bidang tasawuf adalah Kanz al-Ma’rifah (Gudang Pengetahuan). Disamping itu, dia juga menulis Mushaf al-Qur’an dengan tulisan tangan Syekh Arsyad dalam ukuran besar yang hingga sekarang masih dipajang di dekat makamnya.

Abdul Hamid Abulung dan Pandangan Tasawuf Wahdah Al-Wujud

Abdul Hamid Abulung adalah salah seorang ulama Banjar yang sangat berpengaruh pada zamannya (Abad ke-18). Kehidupan syekh Abdul Hamid secara umum sukar dilacak datanya. Namun demikian, yang pasti ia menyaksikan kesultanan Banjar dipimpin oleh Sultan Tamhidillah, yang berkuasa pada 1778-1808 M.

Abdul Hamid atau yang lebih dikenal dengan sebutan Datu Abulung, bisa dikatakan senasib dengan Syeikh Siti Jenar di Jawa yang meninggal karena dibunuh para wali akibat perselisihan mengenai pandangan tasawufnya.

Baik Syeikh Siti Jenar maupun Syeikh Abdul Hamid Abulung, keduanya sama-sama mengajarkan satu cabang filsafat, yang kini kurang populer, yaitu metafisika. Pemikiran mereka sama dengan pemikiran Henry Bergson pada masa modern, Lao Tse dan krishnamurti di Timur, Paraselsus dan Plato serta beberapa filusuf awal dalam pemikiran Islam.

Pandangan Tasawuf Wahdah Al-Wujud

Wahdat al-Wujud yang telah menimbulkan kontroversi dikalangan para ulama, karena faham tersebut dinilai membawa faham reinkarnasi, atau faham serba Tuhan, yakni Tuhan menjelma dengan berbagai ciptaan-Nya. Sehingga dapat menggangu keberadaan zat Tuhan. Wahdat al-Wujud adalah lanjutan dari faham hulul. Ibn Arabi yang nama lengkapnya Muhy al-Din Ibn Arabi lahir di Murcia, Spanyol pada tahun 1165 M.

Faham Wahdat al-Wujud ini timbul dari faham bahwa Allah sebagaimana diterangkan dalam uraian tentang hulul, ingin melihat diri-Nya diluar diri-Nya. Oleh karena itu dijadikan-Nya alam ini. Maka alam ini merupakan cermin bagi Allah dikala ia ingin melihat diri-Nya, ia melihat kepada alam. Pada benda-benda yang ada dalam alam, karena dalam tiap-tiap benda itu terdapat sifat Tuhan. Tuhan melihat diri-Nya. Dari sini timbullah faham kesatuan yang ada dalam alam ini kelihatan banyak, tetap sebenarnya itu satu. Tak ubahnya hal ini sebagai orang yang melihat dirinya dalam berbagai cermin yang diletakkan disekelilingnya. Di dalam tiap cermin ia lihat dirinya, dalam cermin itu dirinya kelihatan banyak, tetapi dirinya sebenarnya satu. Inilah yang selanjutnya menimbulkan perdebatan yang menghebohkan, karena dapat membawa faham seolah-olah Tuhan ada di mana-mana, menyatu dengan benda-benda alam, padahal yang sesungguhnya bukanlah demikian. Tuhan hanya satu, yang banyak itu sifat Tuhan, bukan zatnya. Dengan demikian mereka yang mengira Ibn Arabi membawa faham banyak Tuhan tidaklah tepat. Tuhan dalam arti zat-Nya tetap satu, namun sifat-Nya banyak. Sifat Tuhan yang banyak itu pun dalam arti kualitas atau mutunya berbeda dengan sifat yang dimiliki manusia. Tuhan misalnya, Maha Mengetahui, dan pengetahuannya itu meliputi segala sesuatu dan tidak terbatas, sedangkan sifat manusia tidak mencakup segala hal, dan sifatnya amat terbatas.

Syekh Abdul Hamid pernah leluasa mengajarkan pandangan tasawuf wahdah al-wujud ini. Pandangan tasawuf yang dianut Syekh Abdul Hamid ini dipengaruhi aliran ittiihad-nya Abu Yazid Al-Busthami (w. 873 H)dan Hulul-nya Al-Hallaj (w. 923 H) yang masuk ke Indonesia melalui Hamzah Fansuri dan Syams Al-Din Al-Sumatrani serta Syekh Siti Jenar dari Jawa.

Kesempatan Syekh Abdul Hamid di dalam mengembangkan ajaran wujudiyyah mulai mendapatkan sandungan ketika tersiar sampai ke telinga Sultan Tahmidillah dan Syekh Arsyad Al-Banjari bahwa ajaran yang dibawanya dianggap meresahkan masyarakat. Dilaporkan, Abdul Hamid mengajarkan  orang-orang, bahwa “tidak ada wujud kecuali Allah. Tidak ada Abdul Hamid kecuali Allah; Dialah aku dan akulah Dia”. Dan sangat kebetulan Syekh Muhammad Arsyad sebagai penganut ajaran Syekh Muhammad bin Abdul Karim Al-Sammani Al-Madani guru dari tokoh-tokoh tarekat Sammaniyyah Nusantara memang tidak sepakat dengan pemikiran wujudiyyah-nya Syekh Abdul Hamid, dan bahkan menganggapnya musyrik.

Akibat dari pemikirannya inilah, Syekh Abdul Hamid Abulung berakhir hidupnya di tangan para algojo Kesultanan Banjar. Ia dihukum mati oleh keputusan Sultan Tahmidillah, atas pertimbangan Syekh Muhammad Arsyad, yang waktu itu menjabat sebagai mufti besar.

Syekh Abdul Hamid dinilai kering karya. Karena hingga kini, hanya ada beberapa fragmen yang menyiratkan pandangan Syekh Abdul Hamid mengenai Tasawuf yang bisa dilacak, dan itu pun sangat terbatas. Di banjar sendiri sekarang ada sebuah karya yang disinyalir kepunyaan Syekh Abdul Hamid. Naskah itu berisi tentang pandangan tasawuf wujudiyyah mulhid, berupa pembahasan mengenai “Asal Kejadian Nur Muhammad”. Namun tidak diketahui nama ulama Banjar yang menulis karya tersebut.

Tokoh-tokoh Sufi Abad I dan II Hijriyah

1. Hasan Al-Barsi

Nama lengkapnya al-Hasan bin Abi al-Hasan Abu Sa’id. Dia dilahirkan di Madinah pada tahun 21 Hijriah/642 Masehi dan meninggal di Basrah pada tahun 110 Hijriah/728 M. Ia adalah  putera Zaid bin Tsabit, seorang budak hudak yang tertangkap di Maisan.,yang kcmudian menjadi sekretaris Nabi Muhammad SAW. la memperoleh pendi­dikan di Basrah. la sempat bertemu dengan sahabat-sahabat Nabi, termasuk tujuhpuluh di antara mereka yang mengikuti perang Badar.[1]

lbunva adalah hamba sahaya Ummu Salamah, istri Nabi. Ia tum­buh dalam lingkungan orang saleh yang mendalam pengetahuan agamanya.[2] Ia menerima hadits dari sejumlah sahabat; dan diriwayatkan bahwa Ali Ibn Abi Thalib mengagumi akan kehebatan ilmunya. Diriwayatkan; tatkala Ali Bin Abi Thalib masuk ke dalam masjid Basrah di dapatinya di dalam mesjid itu seorang anak sedang bercerita di hadapan umum. Ali mendekatinya dan berkata: “Hai budak! Aku hendak bertanya kepadamu mengenai dua perkara, jika kedua perkara ini dapat engkau jawab, boleh engkau meneruskan berbicara di hadapan manusia”. Anak muda itu men­datangi Ali dengan tawadhu, Ia herkata: “Tanyakanlah, ya Amirul Mukminin, apa yang perkara itu?” Maka berkatalah Ali r.a. : “Ceri­takan kepadaku, apa yang dapat menyelamatkan agama dan apa yang dapat merusakkannva?” Hasan Al-Basri menjawab: “Yang menyelamatkan agama adalah wara` dan yang merusakkan adalah tama`. Ali tampak sangat gembira dan berkata kepada Hasan Al-Basri: “Benar engkau dan teruskanlah bicaramu, orang semacam engkau ini layak berbicara di depan orang banyak”.

Dasar pendirian Hasan al-Basri adalah hidup zuhud terhadap dunia, menolak segala kemegahannya, hanya semata menuju kepada Allah, tawakal, khauf dan raja’. Janganlah hanya semata-mata takut kepada Allah, tetapi ikutilah ketakutan dengan pengharapan. Takut akan murkaNya, tetapi mengharap akan rahmatNya.”[3]

Di antara ucapannya yang terkenal ialah: “Seorang fagih ialah orang yang bersikap zuhd terhadap kehidupan duniawi, yang tahu terhadap dosanya dan yang selalu beribadah kepada Allah.” Tentang kehidupan zuhud, beliau berkata: “Dunia adalah tempat kerja bagi orang yang disertai perasaan tidak senang dan tidak butuh kepada­nya; dan dunia merasa bahagia bersamanya atau dalam menyertainya. Barangsiapa menyertainya dengan perasaan ingin memilikinya dan mencintainya, dia akan dibuat menderita oleh dunia serta diantarkan pada hal-hal yang tidak tertanggungkan oleh kesabarannya.”[4]

Dalam suratnya yang ditujukan kepada seorang temannya yang mulia, Hasan al-Basri berpesan:

Waspadalah terhadap dunia ini. Ia seperti ular, lembut sentuhannya tapi mematikan bisanya. Berpalinglah dari pesonanya, sedi­kit terpesona, Anda akan terjerat olehnya. Bukankah Anda lihat kefanaannya dan tahu benar bahwa Anda akan dipisahkan dari­nya? Tabahlah dalam menghadapi kekerasannya, maka akan lapanglah jalan Anda. Kian ia  mempesonamu, kian waspadalah Anda. Karena manusia di dunia ini, begitu terpesona dan sujud kepadanya, serta-merta dunia akan menghempaskannya. Ingat, waspadalah terhadap dunia ini, pesonanya pendusta dan di situlah Anda terancam bahaya yang berupa kesenangan semu, bencana mendadak, duka-cita atau nasib malang. Pesona kehidupan ini tidak berdampak bagi yang bijak, tapi herbahaya bagi yang senang; karena itu waspadalah terhadap bencana dan yakinlah akan nasib akhirnya.”[5]

Sedangkan ucapan heliau yang lain, sebagaimana dikutip Prof. Dr. Hamka, adalah sehagai herikut:

  • “Perasaan takutmu sehingga hertemu dengan hati tenteram, le­bih baik daripada perasaan tenterammu yang kemudian me­nimbulkan takut.”
  • “Tafakkur membawa kita kepada kebaikan dan berusaha mengerjakannya. Menyesal atas perbuatan jahat, memhawa ke­pada meninggalkannya. Barang yang, fana’ walaupun bagaimana banyaknya, tidaklah dapat menamai barang yang baqa, walau­pun sedikit. Awasilah dirimu dari negeri yang cepat datang dan cepat pergi ini, dan penuh dengan tipuan.”
  • “Dunia ini adalah seorang perempuan janda tua yang telah bungkuk.”
  • “Orang yang beriman berduka-cita pagi-pagi dan berduka-cita di waktu sore. Karena dia hidup di antas dua ketakutan. Takut mengenang dosa yang telah lampau, apakah gerangan balasan yang akan ditimpakan Tuhan. Dan takut memikirkan ajal yang masih tinggal dan bahaya yang sedang mengancam.
  • “Patutlah orang insyaf bahwa mati sedang mengancamnya dan kiamat menagih janjinya.”
  • “Banvak berduka-cita di dunia memperteguh semangat beramai saleh.”

2. Ibrahina bin Adham

Namanya adalah Ahu Ishaq Ibrahim bin Adham, lahir di Balkh dari keluarga bangsawan Arah. Dalam cerita sufia, ia dikatakan sebagai seorang pangeran yang meninggalkan istana dan mengembara menjalani hidup sebagai seorang pertapa sambil mencari nafkah yang halal hingga meninggal di negeri Persia kira-kira pada tahun 160 H/777 M.

Tentang kisah pindah menjadi seorang zahid, seringkali dikaitkan dengan kisah Budha Gautama. Diriwayatkan:

“Ayahku dari Balkh, “kata Ibrahim bin Adham, demikian dicerita­kan. Ia adalah salah seorang amir di Khurasan. Ia amat kaya, dan mendidikku agar aku senang berburu. Ketika aku sedang berkuda bersama anjingku, kulihat seekor kelinci. Kudera kudaku; tiba-­tiba kudengar seberkas suara di belakangku: “Bukan untuk ini kau diciptakan, bukan ini kewajibanmu.” Aku berhenti, menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi tak seorang pun kulihat, lalu aku menyumpah: “Semoga Allah melaknat si iblis itu!” Kudera lagi kudaku; dan kudengar suara yang lebih jelas daripada sebelum­nya: Hai Ibrahim! Bukan untuk ini kau diciptakan, bukan ini kewajibanmu.” Aku berhenti seraya berkata: “Aku telah disadar­kan! Aku telah disadarkan! Allah, Tuhan alam semesta, telah mengingatkanku. Sungguh, mulai hari ini aku akan patuh kepada Allah, selama Allah memeliharaku. “Maka aku kembali kepada pengawal-pengawalku dan kutinggalkan kudaku. Aku hampiri salah seorang pengawal ayahku, kucopot jubah dan mantelnya, kuganti dengan pakaianku, lalu aku berangkat menuju Irak, berkelana dari negeri ke negeri.[6]

Kisah ini selanjutnya memaparkan bagaimana ia mengembara dari satu tempat ke tempat lain dalam upaya menemukan jalan hidup yang halal. Akhirnya ia hidup dari bekerja sebagai tukang kebun di Syria. Namun akhirnya, orang tahu juga siapa dia sebenarnya. Maka pergilah dan hiduplah ia di gurun.

Ibrahim bin Adham adalah salah seorang zahid di Khurasan yang sangat menonjol di zamannya. Kendatipun dia putera seorang raja dan pangeran kerajaan Balkh, dia tidak ter­pesona oleh kekuasaan dan kerajaan yang dibawahinya. Dia lebih suka memakai baju bulu domba yang kasar dan mengarahkan pan­dangannya ke negeri Syam (Syria), di mana ia hidup sebagai penjaga kebun dan kerja kasar lainnya. Suatu ketika ia ditanya: “Mengapa anda menjauhi orang banyak?” Dia menjawab: “Kupegang teguh agama di dadaku. Dengannya aku lari dari satu negeri ke negeri yang lain, dari bumi yang kutinggalkan menuju bumi yang akan kudatangi. Setiap orang yang melihatku menyangka aku seorang pengembala atau orang gila. Hal ini kulakukan dengan harapan aku bisa memelihara kehidup­an beragamaku dari godaan setan dan menjaga keimananku, sehingga selamat sampai ke pintu gerbang kematian.[7]

Kemudian, di antara ucapan-ucapannya, dia pernah mengatakan: “Ketahuilah, kamu tidak akan bisa mencapai peringkat orang-orang saleh kecuali setelah kamu melewati enam pos penjagaan. Hendaklah kamu menutup pintu gerbang kenikmatan dan membuka pintu ger­bang kesulitan, hendaklah kamu menutup gerbang kemusyrikan dan membuka pintu gerbang kehinaan, hendaklah kamu menutup pintu gerbang hidup santai dan membuka pintu gerbang kerja keras, hen­daklah kamu menutup pintu gerbang tidur dan membuka pintu ger­bang jaga tengah malam, hendaklah kamu menutup pintu gerbang kekayaan dan membuka pintu gerbang kemiskinan, dan hendaklah kamu menutup pintu gerbang cita-cita dan membuka pintu gerbang kesiapan menghadapi mati.

Konon is pernah berdoa: “Ya Allah, Engkau tahu bahwa surga tak layak bagi diriku, walau seberat sayap agas pun. Jika Kau lindungi diri­ku, Engkau cintai diriku dan Kau mudahkan bagiku dalam menaatiMu, maka karuniakanlah surgaMu bagi yang Engkau kehendaki. “Dalam sebuah suratnya kepada salah seorang zahid, ia menulis:

Aku harap Anda bertakwa kepada Allah. Dia wajib ditaati. KepadaNyalah Anda berharap. Bertakwalah kepada Allah. Karena yang bertakwa kepadaNya akan mulia dan agung. Ia takkan lapar dan takkan haus, dan jiwanya akan lebih mulia daripada dunia. Raganya sungguh tampak berada di antara bangsa-bangsa di dunia ini, na­mun hatinya berada di akhirat. Bila hatinya senang kepada dunia ini, maka mata hatinya akan buta. Karenanya ia akan membenci segala yang haram di dunia ini, dan menghindari pesonanya.”

Demikian sebagian dari isi surat tersebut. Kalau dilihat pula ungkapan-ungkapannya sebelumnya, tampak jelas betapa dia diliputi rasa takut, seperti halnya semua zahid semasanya, berusaha sungguh­sungguh demi akhirat, sikap zuhud terhadap dunia dan tindakan yang tidak mengenal kompromi dalam ketaatan yang dilakukannya.

3. Sufyan al-Sauri

Namanya adalah Abu Abdullah Sufyan bin Said bin Masruq al-Sauri al-Kufi. Dia dilahirkan di Kufah pada tahun 97/715 M, dan meninggal di Basrah pada tahun 161 H/778 M. Dia adalah seorang tabi’in pilihan dan seorang zahid yang jarang ada tandingannya; bahkan merupakan seorang ulama hadis yang terkenal, sehingga dalam merawikan hadis, dia dijuluki Amirul Mu`minin dalam hal hadis.

Mula-mula ia belajar dari ayahnya sendiri, kemudian dari banyak orang-orang pandai di masa itu sehingga akhirnya ia menjadi seorang ahli dibidang hadis dan teologi. Pada tahun 158 H/715 M. ia menantang pejabat-pejabat pemerintahan sehingga ia terpaksa menyembunyikan diri di kota Mekkah. Dan dia menjalani hidup per­tapaan yang keras sehingga para sufi menyebutnya sebagai seorang manusia agung.

Sufyan bin Uyainah pernah berkata: “Saya tidak pernah melihat seorang ulama yang lebih mengetahui tentang halal dan haram dari Sufyan al-Sauri.” Para Ulama berkata: “Umar bin al-Khattab adalah ke­pala dari seluruh manusia, sesudahnya Abdullah bin Abbas, sesudah­nya al-Sya’bi dan sesudahnya Sufyan al-Sauri.” Sementara Yahya bin Sa’ad berkata: “Saya lebih cenderung kepada pendapat Sufyan dari­pada pendapat Malik.[8]

Sufyan al-Sauri sempat berguru kepada Hasan al-Basri, sehingga fatwa-fatwa gurunya tersebut banyak mempengaruhi jalan hidupnya. Karena itu, hidup kerohaniannya menjurus kepada hidup bersahaja, penuh kesederhanaan, tidak terpukau dengan kemegahan dan ke­mewahan duniawi. Dia menyampaikan ajaran agama kepada murid­-muridnya. Pernah menasihatkan kepada murid-muridnya agar jangan terpengaruh oleh kemewahan dan kemegahan duniawi, jangan suka menjilat kepada raja-raja dan penguasa, muru’ah harus dijaga dan dipelihara sebaik-baiknya, dan jangan sampai mcngemis-ngemis ke­pada penguasa.

Sufyan al-Sauri termasuk zahid yang sangat berani, tidak takut dibunuh dalam mengemukakan kritik terhadap penguasa, beliau sangat mencela kehidupan para penguasa yang bergelimang dalam kemewahan, hidup berfoya-foya dengan kekayaan negara yang diperoleh dari hasil ekspansi dan kemajuan Islam, sementara masih banyak rakyat yang hidup dalam kemelaratan. Beliau dengan lantang memberi nasihat kepada umat Islam agar jangan mengikuti perikehidupan mereka yang telah rusak moralnya itu, yang jauh dari ajaran Nabi SAW dan para sahabat. Di antara ucapan-ucapannya dalam memberi na­sihat itu ialah “supaya jangan rusak agamamu. Contoh lain tentang sikap zuhd, kerendahan hati dan ketidakperdulian beliau terhadap atribut-atribut duniawi, beliau menolak/melarikan diri dari al-Mahdi ketika khalifah itu hendak mengangkatnya sebagai Hakim Agung.”

4. Rabi’ah al-Adawiyah

Nama lengkapnya ialah Ummu al-Khair Rabi’ah bin Isma’il al­Adawiyah al-Qisiyah. Informasi tentang biografinya begitu sedikit, dan sebagiannya hanya bercorak mitos. Dia lahir di Basrah pada ta­hun 96 H /713 M, lalu hidup sebagai hamba sahaya keluarga Atik. Dia berasal dari keluarga miskin dan dari kecil dia tinggal di kota kelahirannya. Di kota ini namanya sangat harum sebagai seorang manusia suci dan sangat dihormati oleh orang-orang saleh semasanya. Menurut sebuah riwayat dia meninggal pada tahun 185 H./801 M. Orang-orang mengatakan bahwa dia dikuburkan di dekat kota Jerussalem.

Rabi’ah al-Adawiyah yang seumur hidupnya tidak pernah menikah, dipandang mempunyai saham yang besar dalam memperkenalkan konsep cinta (al-hubby) khas sufi ke dalam mistisisme dalam Islam. Sebagai seorang wanita zahidah, dia selalu menampik setiap lamaran beberapa orang saleh, dengan mengatakan:

Akad nikah adalah hak Pemilik alam semesta. Sedangkan bagi diriku, hal itu tidak ada, karena aku telah berhenti maujud dan telah lepas dari diri! Aku maujud dalam Tuhan dan diriku sepenuhnya milikNya. Aku hidup di dalam naungan firmanNya. Akad nikah mesti diminta dariNya, bukan dariku.

Dalam salah satu riwayat dikatakan, dia adalah seorang hamha yang kemudian dibebaskan. Dalam hidup selanjutnya ia banyak beribadah, bertaubat dan menjauhi hidup duniawi. Ia hidup dalam kemiskinan dan menolak segala bantuan materi yang diberikan orang kepadanya. Bahkan dalam doanya ia tidak mau meminta hal-hal yang bersifat materi dari Tuhan. Ia betul-betul hidup dalam keadaan zuhd dan hanya ingin berada dekat pada Tuhan.[9] Di antara ucapannya yang terkenal tentang zuhd ialah-sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hujwiri dalam kitabnya Kasyf al-Mahjub:

“Suatu ketika aku membaca cerita bahwa seorang hartawan berkata kepada Rabi’ah: ‘Mintalah kepadaku segala kebutuhanmu!’ Rabi’ah menjawab: ‘Aku ini begitu malu meminta hal-hal duniawi kepada Pemiliknya. Maka bagaimana bisa aku meminta hal itu kepada orang yang bukan Pemiliknya?”

isi pokok ajaran tasawuf Rabi’ah adalah tentang cinta. Karena itu, dia mengabdi, melakukan amal saleh bukan karena takut masuk neraka atau mengharap masuk surga, te­tapi karena cintanya kepada Allah. Cintalah yang mendorongnya ingin selalu dekat dengan Allah; dan cinta itu pulalah yang membuat ia sedih dan menangis karena takut terpisah dari vang dicintainya. Pendek kata, Allah baginya merupakan zat yang dicintai, bukan se­suatu yang harus ditakuti. Dalam hubungan ini dia pernah berucap:

“Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut kepada neraka… bukan pula karena ingin masuk surga… tetapi aku mengabdi karena cintaku kepadaNya. Tuhanku, jika kupuja Engkau karena takut pada neraka, bakarlah aku didalamnya; dan jika kupuja Engkau karena mengharap surga, jauhkanlah aku daripadanya; tetapi jika Engkau kupuja semata-mata karena Engkau, maka ja­nganlah sembunyikan kecantikanMu yang kekal itu dari diriku”.

Di antara ucapan-ucapannya yang menggambarkan tentang konsep zuhd yang dimotivasi rasa cinta adalah:

“Wahai Tuhan! Apa pun Bagiku dunia yang Engkau karuniakan ke­ padaku, berikanlah semuanya kepada musuh-musuhMu. Dan apa pun yang Engkau akan berikan padaku kelak di akhirat, berikan raja pada teman-temanMu. Bagiku, Engkau pribadi sudah cukup”.

Tampak jelas bahwa cinta Rabi’ah al-Adawiyah kepada Allah begitu penuh meliputi dirinya, sehingga sering membuatnya tidak sa­darkan diri karena hadir hersama Allah, seperti terungkap dalam lirik syairnya:

Kujadikan Kau teman berbincang dalam kalbu

Tubuhku pun biar berbincang dengan temanku

Dengan temanku tubuhku berbincang selalu

Dalam kalbu terpancang selalu Kekasih cintaku.

Dalam lariknya yang lain, lebih tampak lagi cintanya Rabi’ah terha­dap Allah. Dalam mengungkapkan rasa cintanya ini, dia bersenandung:

Aku cinta Kau dengan dua model cinta

Cinta rindu dan cinta karena Kau layak dicinta

Adapun cinta rindu, karena hanya Kau kukenang selalu,bukan selainMu

Adapun cinta karena Kau layak dicinta, karena kau singkap­ kan tirai sampai Kau nyata Bagiku

Bagiku, tidak ada puji untuk ini dan itu

Tapi sekalian puji hanya bagiMu selalu.

Selanjutnya, datam larik syairnya yang lain, ia mengugkapkan isi hatinya sebagai berikut:

Buah hatiku, cintaku hanya padaMu

Beri ampunlah pembuat dosa yang datang ke hadiratMu

Engkaulah harapanku, kebahagiaan dan kesenanganku

Hatiku telah enggan mencintai selain dari diriMu

Di saat-saat melakukan munajat, dia berdialog dengan Tuhan sebagai berikut: “Tuhanku, bintang-bintang di langit telah gemerlapan, orang-orang telah bertiduran, pintu-pintu istana telah ditutup dan pada saat itulah semua pencinta telah menyendiri dengan yang dicintainya. Inilah aku berada di hadiratMu.” Sewaktu fajar menyingsing, ia berkata: “Tuhanku, malam telah berlalu dan siang segera menampakkan diri. Aku gelisah, apakah amalanku Engkau terima hingga aku merasa bahagia, ataukah Engkau tolak hingga aku merasa sedih. Demi kemahakuasaanMu, inilah yang akan kulakukan selama aku Engkau beri hayat. Sekiranya Engkau usir aku dari depan pintuMu, aku tidak akan pergi, karena cintaku padaMu telah memenuhi seluruh lorong hatiku.”[10]

Karena seluruh lorong hatinya telah dipenuhi cinta Ilahi, maka tidak ada lagi tempat yang kosong buat mencintai, bahkan juga buat membenci yang lain. Seseorang pernah bertanya kepadanya: “Apakah engkau benci pada setan?” Ia menjawab: “Tidak, cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong dalam diriku untuk rasa benci pada setan.” Karena begitu cintanya kepada Tuhan, ia pernah ditanya tentang cintanya kepada Nabi Muhammad SAW. Ia menjawab: “Saya cinta kepada Nabi, tetapi cintaku kepada Pencipta memalingkan diriku dari cinta kepada makhluk.”

Inilah beberapa ucapan rasa cinta yang diungkapkan oleh Rabi’ah al-Adawiyah. Cinta kepada Tuhan begitu memenuhi seluruh jiwanya, sehingga seperti telah disebutkan di atas. ia menolak semua tawaran kawin dengan alasan bahwa dirinya adalah milik Allah, yang dicintainya; dan siapa yang ingin kawin dengannya haruslah meminta
izin kepada Allah. Dengan demikian, menurut al-Taftazani, dapat
disimpulkan bahwa Rabi’ah al-Adawiyah, pada abad II Hijriyah, telah merintis konsep zuhd dalam Islam berdasarkan cinta kepada Allah. Tetapi, dia tidak hanya berbicara tentang cinta Ilahi, namun juga
menguraikan ajaran-ajaran tasawuf yang lain, seperti konsep zuhd, rasa sedih, rasa takut, rendah hati, tobat, ridha dan lain sebagainya.


[1] Prof. H. Asmaran AS. Pengantar Studi Tasawuf, hal. 265

[2] Ibid, hal. 266

[3] Ibid, hal. 76

[4] Prof. Dr. Harun Nasution, Falsafah dan Mistisme dalam Islam

[5] Asmaran, Op.cit. hal. 268

[6] Asmaran Op.cit. 270

[7] Bandingkan  dengan kisahnya yang tertuang dalam kitab Nasaih al-Ibad.

[8] Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Bulan Bintang, Jakarta, 1997. hal. 312

[9] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1973, hal. 72

[10] Harun Nasution, Op.cit. hal. 72-73

Pendiri Tarikat Qadiriyah

Qadiriyah adalah nama tarekat yang diambil dari nama pendirinya, yaitu Abdul Qadir Jilani, yang terkenal dengan sebutan Syaikh ‘Abd al-Qadir Jilani al-ghawsts atau quthb al-awliya’. Tarekat ini menempati posisi yang amat penting dalam sejarah spiritualitas Islam kerena tidak saja sebagai pelopor lahirnya organisasi tarekat, tetapi juga cikal bakal munculnya berbagai cabang tarekat di dunia Islam. Dia dipandang sebagai sosok ideal dalam keunggulan dan pencerahan spiritual. Namun, generasi selanjutnya mengembangkan sekian banyak legenda yang berkisar pada aktivitas spiritualnya, sehingga muncul berbagai kisah ajaib tentang dirinya.

Syaikh ‘Abd al-Qadir lahir di desa Naif kota Gilan tahun 470/1077, yaitu wilayah yang terletak 10 km timur laut Baghdad. Ibunya seorang yang shalehah bernama Fhatimah binti ‘Abdullah al-shama’ial al-Husayni, ketika melahirkan Syaikh ‘Abd al-Qadir Jilani ibunya berumur 60 tahun, suatu kelahiran yang tidak lazim bagi wanita yang seumurnya. Ayahnya bernama Abu Shalih, Yang jauh sebelum kelahirannya ia bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, yang diiringi oleh para sahabat, imam Mujahidin dan wali. Nabi Muhammad berkata, “Wahai Abu Shalih, Allah akan memberi anak laki-laki, anak itu kelak akan mendapat pangkat yang tinggi dalam kewalian sebagaimana halnya aku mendapat pangkat tertinggi dalam kenabian dan kerasulan”.[1] Ayahnya meninggal pada saat usianya masih teramat belia, sehingga dia dibesrkan dan diasuh oleh kakeknya.[2]

Syaikh ‘Abd al-Qadir meninggal di Baghdad pada tahun 561/1166. Makamnya sejak dulu  hingga sekarang tetap diziarahi khalayak ramai, dari segala penjuru dunia Islam. Di kalangan kaum sufi Syaikh ‘Abd al-Qadir diakui sebagai sosok yang menempati hierarki misstik yang tertinggi  (al-Ghawts al-A’zham), yang menduduki tingkat kewalian yang tertinggi. Dalam kepercayaan rakyat, Syaikh ‘Abd al-Qadir adalah wali terbesar, yang diberikan wewenang untuk menolong manusia lain dalam bahaya. Lebih daripada itu semua wali lain, Syaikh ‘Abd al-Qadir dikagumi dan dicintai rakyat, dimana-mana orang tua menceritakan riwayat tentang kekeramatannya kepada anak-anak mereka dan hampir setiap upacara keagamaan tradisional, orang menghadiahkan al-Fatihah kepadanya.[3]

Nama lengkap dan silsilah Syaikh ‘Abd al-Qadir  sampai ke Nabi Muhammad SAW. adalah Abu Muhammad ‘Abd al-Qadir Jilani ibn Abi Shalih ibn Musa ibn Janki Dusat (Janka Dusat) ibn Abi Abdillah ibn Yahya al-Zahid ibn Muhammad ibn Dawud ibn Musa ibn ‘Abd Allah al-Mahdi ibn Hasan al-Musanna ibn Hasan al-Sibthi ibn ‘Ali ibn Abi Thalib dan Fatimah al-Zahra al-Batul binti rasulullah SAW.[4] silsilah ini amat penting artinya dalam tradisi tarekat kerena ‘darah biru’ spiritual harus bersambung sampai kepada Nabi Muhammad SAW. disamping itu sambungnya silsilah nasab menjadi indikator bahwa tarekat ini adalah mu`tabarah.


[1] M. Hilman anshary, (ed), resonansi Spiritual Wali Quthub Syekh Abdul Qadir al-Jailani, (Jakarta: Kalam Mulia, 2004) ,h. 3.

[2] Seyyed Hossein Nasr (ed), Eksiklopedi Tematis Soiritualitas Islam , terj. (Bandung: Mizan, 2003), h. 13.

[3] Mrtin van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarikat: tradisi-tradisi Islam di Indonesia, Bandung; Mizan, 1999, cet. III, h. 211.

[4] M. Hilma, Resonansi, h. 1.

Sekilas Tentang Abdul Halim Mahmud

DR Abdul Halim Mahmud tetah meraih Diploma “Kesarjanaan Internasional” tahun 1962. La pun telah mengkaji Filsafat ilmu Kemasyarakatan dan sejarah agama-agama di Universitas Paris (Perancis).

Beliau telah ditunjuk untuk menjadi guru-pengajar pada mata Kuliah bahasa Arab. Kemudian sebagai guru-besar untuk ilmu Filsafat pada Universitas (Kuliah) Ushuluddin (pokok-asal Agama) pada tahun . 1951. Kemudian beliau dicalonkan sebagai guru besar pada Universitas itu sendiri.

Beliau telah dicalonkan untuk menjadi pengemban amanat pada “Perhimpunan Pembahasan Islamiah” pada tahun 1969.

Di antara kitab-kitab yang sudah diterjemahkan ialah: “Sejarah RASUL-ALLAH” dan “WAZINUL ARWAH”.

Di antara kitab-kitab yang telah diuraikan dan dikomentari dengan pembahasan-pembahasan ialah kitab “AI-Mungidz Minadh-dhalal” (Penyelarnat dari Kesesatan) karya Imam Al-Ghazali yang berada di antara kedua tangan anda ini dan kitab “ATH THARIQ ILALLAH” dan kitab “HIKAM IBIN ATHAILLAH” dan kitab “AWARIFUL MA’­ARI F”.

Di antara kitab-kitab yang dikarang oleh beliau ialah: kitab “Al-­Islam dan Akal-budi” kitab “Pemikiran secara Filsafat dalam Islam” kitab “Al-Madrasah (Pesanteren) Asy-Syadziliah” yang baru (mutakhir), kitab “Al-Qur’an dan nabi besar saw, kitab “Al-Islam dan Keimanan”, kitab Ibadat” dan kitab “Sufyan Ats-Tsauri.

Beliau pun pernah dicalonkan untuk menjadi pemimpin-pengurus Universitas Al-Azhar di Mesir untuk beberapa tahun yang panjang.

Sekilas Tentang Harun Nasution

Harun Nasution lahir Selasa, 23 September 1919 di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Putra dari Abdul Jabbar Ahmad, seorang pedagang asal Mandailing dan qadhi (penghulu) pada masa pemerintahan Belanda di Kabupaten Simalungun, Pematang Siantar. Ayah Harun juga seorang ulama yang menguasai kitab-kitab Jawi dan suka membaca kitab kuning berbahasa Melayu. Sedangkan, ibunya seorang boru Mandailing Tapanuli, Maimunah keturunan seorang ulama, pernah bermukim di Mekkah, dan mengikuti beberapa kegiatan di Masjidil Haram.[1] Harun berasal dari keturunan yang taat beragama, keturunan orang terpandang, dan mempunyai strata ekonomi yang lumayan. Kondisi keluarganya yang seperti itu membuat Harun bisa lancar dalam melanjutkan cita-citanya mendalami ilmu pengetahuan.

Harun memulai pendidikannya di sekolah Belanda, Hollandsch Inlandche School (HIS) pada waktu berumur 7 tahun. Selama tujuh tahun, Harun belajar bahasa Belanda dan ilmu pengetahuan umum di HIS itu;[2] dia berada dalam lingkungan disiplin yang ketat. Di lingkungan keluarga, Harun memulai pendidikan agama dari lingkungan keluarganya dengan belajar mengaji, shalat dan ibadah lainnya. Setelah tamat HIS, Harun merencanakan sekolah ke MULO. Akan tetapi, orang tuanya tidak merestui, karena menganggap pengetahuan umum Harun sudah cukup dengan sekolah di HIS. Akhirnya, Harun melanjutkan pendidikan ke sekolah agama yang bersemangat modern, yaitu, Moderne Islamietische Kweekschool (MIK), semacam MULO, di Bukittinggi.[3]

Setelah sekolah di MIK, ternyata sikap keberagamaan Harun mulai tampak berbeda dengan sikap, keberagamaan yang selama ini dijalankan oleh orang tuanya, termasuk lingkungan kampungnya. Harun bersikap rasional sedang orang tua dan lingkungannya bersikap tradisional. Karena itulah, oleh orang tuanya, Harun dipindahkan belajar agama ke Arab Saudi.[4]

Di negeri gurun pasir itu, Harun tidak lama dan memohon pada orang tuanya agar mengizinkannya pindah studi ke Mesir. Di Mesir, dia mulai mendalami Islam pada Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, namun beliau tidak puas dan pindah ke Universitas Amerika di Kairo. Di Universitas itu, Harun bukan mendalami hukum-hukum Islam melainkan mendalami ilmu pendidikan dan ilmu sosial.[5]

Setelah selesai dari Universitas tersebut, dengan mengantongi ijazah BA, Harun bekerja di perusahaan swasta dan kemudian di konsulat Indonesia-Kairo. Dari konsulat itulah, putra Batak yang mempersunting gadis Mesir (bernama Sayedah) ini, memulai karir diplomatiknya. Dari Mesir, Harun ditarik ke Jakarta bekerja sebagai pegawai Departemen Dalam Negeri dan kemudian menjabat sebagai sekretaris pada kedutaan besar Indonesia di Brussel.

Situasi politik dalam negeri Indonesia pada dekade 60-an membuat Harun mengundurkan diri dari karir diplomatik dan pergi ke Mesir. Di Mesir, Harun kembali menggeluti dunia ilmu pengetahuan di Sekolah Tinggi Islam, di bawah bimbingan seorang ulama fikih Mesir terkemuka, Abu Zahrah. Ketika itu, Harun mendapat tawaran untuk mengambil studi Islam di Universitas McGill, Kanada. Pada tingkat magister Harun menulis tentang “Pemikiran Negara Islam di Indonesia”, sedang untuk disertasinya, Harun menulis tentang “Posisi Akal dalam Pemikiran Teologi Muhammad Abduh”.

Setelah meraih gelar doctor,[6] Harun kembali ke tanah air dan mencurahkan perhatiannya pada pengembangan pemikiran Islam di berbagai IAIN yang ada di Indonesia. Bahkan, Harun Nasution pernah menjadi Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk dua periode dan paling lama (1973/1978 dan 1978/1984).[7] Kemudian dengan berdirinya program pascasarjana, Harun menjabat sebagai direktur program pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta sampai meninggal dunia (1998), di usianya lebih kurang 79 tahun.

Mencari Islam di Barat

Sekitar tahun 1936, Harun pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Mesir. Harun sangat tertarik dengan negeri Mesir karena negeri itu sudah berkembang maju dan hasilnya tampak nyata dengan munculnya tokoh-tokoh penting Indonesia seperti Mahmud Yunus, Mukhtar Yahya, Bustami A. Ghani.[8]

Ketika sampai di Mekkah, Harun bare radar bahwa dia sedang berada di suatu negara, suatu kota, atau suatu daerah bercorak abad pertengahan di abad modern (abad ke-20). Di sana tidak ada mobil; yang ada hanya unta atau keledai, jalanan penuh debu, pasir, kotor, dan penuh lalat. Orang-orangnya berpakaian tradisional. Begitu pula di dalam rumah, tidak ada meja atau kursi. Keluarga duduk di lantai. Melihat kondisi itu, Harun berpikir, bagaimana bisa berhasil belajar di Arab. Usai musim haji, Harun coba mencari sekolah. Semua sekolah berbahasa Arab. Harun belum bisa berbahasa Arab dengan baik. Untuk itu, Harun mencari guru dan belajar bahasa Arab, tapi tak ada guru yang khusus mengajarkan bahasa Arab. Harun bertemu dengan seorang Abdussalam dari Medan. Harun belajar Bahasa Arab padanya, tapi lambat.[9] Akhirnya, setelah satu setengah tahun di Mekkah, tanpa penambahan ilmu yang sangat berarti, Harun dengan izin dari orang tuanya, melanjutkan menuntut ilmu agama ke Mesir.

Harun tiba di Mesir pada tahun 1938. Dia tinggal serumah bersama para pelajar dari Tapanuli. Dari teman serumahnya itu, Harun tahu di Al-Azhar ketika itu ada dua macam pelajaran. Satu sudah modern, yakni Universitas Al-Azhar, yang terbagi ke beberapa fakultas, memakai papan tulis, dan lain-lain. Sedang, satunya lagi seperti di Masjidil Haram Mekah, tapi proses belajar dengan cara menghafal dan tidak ada kemungkinan berbeda pendapat dengan guru. Dalam hal ini, Harun tidak bisa langsung masuk ke Universitas karena dia hanya memegang surat keterangan selesai kelas tiga MIK Bukittinggi. Beberapa temannya menyarankan, bila mau memasuki Universitas, Harun harus mengambil pelajaran untuk memperoleh Ijazah Ahliyyah, semacam tanda lulus masuk Universitas dan setiap tahun dibuka.[10]

Setelah belajar dengan sangat serius,[11] Harun memperoleh tanda lulus untuk masuk Universitas. Dia memasuki Universitas Al-Azhar pada fakultas Ushuluddin karena ada pelajaran umumnya. Di fakultas itu, Harun belajar filsafat, ilmu jiwa, dan etika serta ilmu kalam. Selain bahasa Arab, diajarkan juga bahasa Inggris dan Prancis. Ketika tahap penyelesaian kuliah di Al-Azhar ini, Harun merasa bahwa ilmu agama yang diperolehnya masih sangat minim sementara selesai nanti dia akan membawa ijazah Al-Azhar yang besar. Dia merasa belum memiliki apa-apa. Untuk itu, tanpa meninggalkan Al-Azhar, Harun masuk ke Universitas Amerika yang juga ada di Kairo. Di Universitas itu, Harun mengambil fakultas pendidikan. Untuk mendapatkan ijazah sarjana muda, di fakultas itu, Harun harus menulis karya ilmiah. Harun menulis tentang perburuhan di Indonesia dalam bahasa Inggris. Judul itu diambil Harun karena dosennya ingin mengetahui bagaimana perburuhan di Indonesia untuk diperbandingkan dengan perburuhan di Mesir.[12]

Di samping kuliah, Harun mendapat pengalaman lain di Mesir. Dia menemukan semangat nasionalisme sedang bergema di Mesir, dibangun oleh Mustafa Kamil. Harun dan teman-temannya tidak mau ketinggalan menikmati semangat nasionalisme itu. Bahkan, Harun dan teman-temannya dari Indonesia sering dicemooh oleh orang-orang Mesir dengan mengatakan “kalian punya bangsa lima puluh juta orang, tidak bisa mengusir Belanda yang hanya punya bangsa tujuh juta orang”. Dari sinilah ide tentang politik masuk dalam pemikiran Harun. Dia dan teman-temannya yang lain di Perpindom (Perkumpulan Pemuda Indonesia Malaysia) membentuk seksi politik dengan tugas memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Di antara usaha yang dilakukan adalah memperkenalkan Indonesia kepada rakyat Mesir, terutama kepada pemimpinnya. Selain itu sebaliknya, Harun dan teman-teman lainnya membuat karangan tentang perkembangan politik dan pendidikan di Mesir untuk kemudian dikirimkan ke surat-surat kabar Indonesia. Ketika itu, Harun mulai memikirkan cara politik yang tidak melalui partai. Akhirnya, setiap mahasiswa yang mau jadi anggota Perpindom, dibangkitkan semangat nasionalismenya melalui ceramah, diskusi, dan perternuan?pertemuan lainnya.[13]

Namun, kondisi itu terhenti lantaran dengan tiba-tiba perang dunia kedua terjadi. Tentara Jepang masuk ke Indonesia. Hubungan Indonesia dengan Belanda di Mesir terputus. Uang kiriman Harun macet, dia tidak bisa belajar lagi, kuliahnya di Universitas Amerika terbengkalai. Harun terpaksa mencari pekerjaan, pada tentara. Inggris (1943) dengan maksud bisa melanjutkan studinya di Universitas Amerika. Dia bekerja sebagai klerk, katib atau juru tulis di tentara Inggris karena bisa berbahasa Inggris dengan baik[14] Kemudian, Harun pindah bekerja ke Philips SA, sebuah perusahaan radio dan lampu milik sipil yang sangat memerlukan seorang yang bisa berbahasa Belanda. Di situ, Harun menemukan kawan yang banyak, dari Mesir, Yahudi, dan Itali. Namun, sebagaimana sebelumnya, di perusahaan ini pun Harun juga tidak mempunyai waktu untuk melanjutkan studinya. Setelah tiga tahun bekerja di perusahaan Philip itu, Harun pindah menjadi perwakilan RI-Kairo, karena Indonesia telah merdeka.. Harun diposisikan sebagai bagian Inggris di perwakilan itu dengan H.M. Rasyidi sebagai Ketua Kantor. Tahun 1953, Harun disuruh pulang ke Indonesia dan bekerja di Departemen Luar Negeri Bagian Timur Tengah. Di bagian itu tugas Harun relatif tidak ada pekerjaan kecuali hanya membaca surat kabar terbitan Timur Tengah. Setahun kemudian, 1954, Harun karena menguasai bahasa Arab ditugaskan sementara ke Saudi untuk mengurus jamaah haji. Akhir Desember 1955, Harun dipekerjakan di Kedutaan RI di Brussel. Selama tiga tahun Harun bekerja si sana. Dia menjadi sekretaris dan Mr. Razif sebagai dutanya.[15]

Pada tanggal 20 September tahun 1962 Harun pergi ke McGill Kanada untuk memperoleh pendidikan Islam sebagaimana yang ia inginkan yaitu pandangan Islam yang luas kajian secara modern dengan membaca buku-buku yang ditulis orang islam sendiri maupun oreintalis. Di McGill Harun sadar pengajaran Islam di barat sangat modern berbeda dengan pengajaran di negeri-negeri Islam. Di sinilah Harun mendapat gelar MA dan Ph,D dalam Islamic Studys.


[1] Harun adalah putra keempat dari lima bersaudara, yakni H.M. Mohammad Ayyub, H.M. Khalil, Sa’idah, Harun, dan Hafsah. Lihat, Aqib Suminto dkk, Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam 70 Tahun Harun Nasution, LSAF, Jakarta, 1989, h. 1-5.

[2] Pelajaran yang paling disenangi Harun adalah pengetahuan alam dan sejarah. Cita-cita Harun ingin menjadi guru, karena kedudukan guru saat itu sangat dihormati masyarakat. Lihat, ibid., h. 6

[3] MIK adalah sekolah guru menengah pertama swasta modern milik Abdul Ghaffar Jambek, putra Syekh Jamil Jambek. Di sinilah, Harun belajar agama selama tiga tahun dengan bahasa pengantar antara lain bahasa Belanda. Lihat, ibid., h. 6-7.

[4] Lihat, ibid., h. 9-12.

[5] Lihat, ibid., h. 15

[6] Harun menguasai bahasa Arab, Inggris, Belanda, dan Perancis. Lihat, Aqib Suminto dkk, op. cit., h. 20.

[7] Selain Harun Nasution yang pernah memimpin IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah Prof. R.H.M.A Soenarjo, SH (1960-1963), Prof. Drs. H.M. Soenardjo (1963-1969), Prof. HLM. Bustami A. Gani (1969-1970), Prof. H.M. Toha Yahya Oemar, MA (1970-1973), Prof. Dr. Harun Nasution (1973­1984), Drs. HM. Ahmad Syadali (1984-1992), Prof. Dr. H.M. Quraish Shihab, MA (1992-1998), dan Prof. Dr. Azyumardi Azra (1998-sekarang). Sebagian lihat, Tim Penyusun Buku Pedoman IAIN Syarif Hidayatullah, Buku Pedoman IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, edisi 12, Jakarta, 1995/1996, h. 7-8.

[8] Lihat, Aqib Suminto dkk, op. cit., h. 11

[9] Selama di Mekkah, Harun melihat banyak pengetahuan agama yang bisa diperolehnya, tapi lantaran kondisi daerahnya sangat tradisional, dia tidak bisa belajar dengan baik. Bahkan, Harun hanya menghabiskan waktunya dengan minum di kedai kopi (gahweh). Dia bergaul dengan teman-teman yang tidak belajar. Setiap hari, dia mendatangi kedai, lalu ngobrol, dan habis itu pulang ke rumah, masak, makan, dan, tidur. Kalaupun Harun belajar, hanya sendirian atau sekedar bertukar pikiran dengan sepupunya yang tinggal satu kamar, Maddin Malik. Lihat, ibid,. hlm. 11 -12.

[10] Ibid, h. 13.

[11] Untuk ini, setiap hari selama empat bulan, sesuai saran teman-temannya, Harun menggaji guru privat datang ke rumahnya (namanya Hasabullah, seorang Mahasiswa Fakultas Syariah Universitas AI-Azhar asal Asahan), untuk mengajarkan bahasa Arab dan ilmu agama lainnya. Selama itu juga, Harun belajar membaca mata ujian balaghah, nahwu, sharaf, dan manthiq, dan cara menjawab pertanyaan dalam ujian nanti. Lihat, ibid., hlm. 14.

[12] Ibid h. 15-16

[13] ibid., h. 16-17. Dalam pertemuan-pertemuan itulah, Harun antara lain mulai terbiasa membuka acara tidak pakai basmalah dan al-Fatihah, melainkan dengan lagu Indonesia Raya. Bahkan, masuk ke suatu pertemuan atau ruangan pun, Harun mulai terbiasa dengan tidak mengucapkan salam, melainkan selamat pagi atau sesuai kondisi.

[14] Ketika itulah, Harun disarankan oleh teman-temannya untuk menikah yang akhir-nya dituruti oleh Harun dengan menikahi seorang gadis Mesir, yang sampai akhir hayatnya tetap setia mendampingi Harun. Lihat, ibid., h. 17-19.

[15] Ibid, h. 23-26

Gus Wahid dan Kecerdasannya

Wahid Hasyim yang akrab di sapa dengan Gus Wahid lahir pada hari jumat legi, tanggal 5 Rabiul Awal 1333 H bertepatan dengan 1 juni 1914 di Desa Tebuireng, Jombang Jawa Timur. Oleh ayahnya Hadratus Syeh K.H. Hasyim Asy’ari beliau diberi nama Muhammad Asy’ari, terambil dari nama neneknya. Karena di anggap nama tersebut tidak cocok dan berat maka namanya di ganti Abdul Wahid, pengambilan dari nama seorang datuknya. Namun ibunya kerap kali memanggil dengan nama Mudin. Sedangkan para santri dan masyarakat sekitar sering memanggil dengan sebutan Gus Wahid, sebuah panggilan yang kerap ditujukan untuk menyebut putra seorang Kyai di Jawa.

Wahid Hasyim berasal dari keluarga yang taat beragama, keluarga pesantrern yang berpegang erat pada tradisi.  Ia lahir, tumbuh dan dewasa dalam lingkungan pesantren. Ibunya bernama Nafiqah putri K.H. Ilyas pemimpin pesantren Sewulan di madiun. Garis keturunan ayah dan ibunya bertemu pada Lembu Peteng ( Brawijaya VI ), yaitu dari pihak ayah melalui Joko Tingkir ( Sultan Pajang  1569-1587 ) dan dari pihak ibu melalui Kiai Ageng Tarub I. Sejak usia 5 tahun ia belajar membaca Al Quran pada ayahnya setiap selesai sholat magrib dan dhuhur, sedang pada pagi hari ia belajar di Madrasah Slafiyah di dekat rumahnya. Dalam usia 7 tahun ia mulai mempelajari kitab Fath Al-Qarib ( kemenangan bagi yang dekat ) dan al-Minhaj al-Qawim ( jalan yang lurus ). Sejak kecil minat membacanya sangat tinggi, berbagai macam kitab di telaahnya. Ia sangat menggemari buku-buku kesusastraan Arab, khususnya buku Diwan asy-Syu’ara’ ( Kumpulan penyair dengan syair-syairnya ).[1]

Sejak kecil ia terkenal sebagai seorang anak yang pendiam, peramah dan pandai mengambil hati orang. Dikenal banyak orang sebagai orang yang gemar menolonh kawan, suka bergaul dengan tidak memandang bangsa, atau memilih agama, pangkat dan uang. Terlalu percaya pada kawan, suka berkorban, akan tetapi mudah tersinggung perasaannya dan mudah marah, akan tetapi dapat mengatasi kemarahannya. Ketika berusia 12 tahun Wahid Hasyim telah menamatkan studinya di Madrasah Salafiyah Tebuireng, lalu beliau belajar ke pondok Siwalan Panji, Sidoarjo, di pondok Kyai Hasyim bekas mertua ayahnya. Di sana ia belajar kitab-kitab Bidayah, Sullamut Taufik, Taqrib dan Tafsir Jalalain. Gurunya Kyai Hasyim sendiri dan Kyai Chozin Panji, namun ia hanya belajar dalam hitungan hari yaitu selama 25 hari tidak sebagaimana umumnya santri. Pengembaraan intelektual pesantrennya dilanjutkan di Pesantren Lirboyo, kediri, namun juga untuk beberapa . Setelah itu ia tidak meneruskan pengembaraannya ke pesantren lain, tetapi memilih tinggal di rumah  dan belajar secara otodidak dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Di dukung oleh tingkat kecerdasannya yang tinggi serta tingkat hafalannya yang kuat , dalam belajar ia tidak mengalami kesulitan. Mengenai hal ini Saifuddin Zuhri menuturkan :

“ Aku mendengar bahwa K.H. A. Wahid Hasyim dan Muhammad Ilyas     ketika masih sama-sama jadi santri di Tebuireng dahulu, bukan hanya      hafal seluruh bait-bait Alfiyah yang 1000 dengan arti maknanya, tetapi       juga mahir menghafalnya dari belakang ke muka. Padahal dari muka       ke        belakang saja bukan main sulitnya.”[2]

Bukti lagi kecerdasan dan kecemerlangan pikiran  K.H. A. Wahid Hasyim dikisahkan oleh Ahmad Syahri sebagai berikut :

“ Kyai Wahid mudah menghafal nama tamu-tamunya, apalagi para pemimpin NU di daerah-lazim disebut konsul-sebelum ada sebutan   pengurus wilayah dan cabang. Kecerdasannya juga terlihat dari cara            beliau belajar bahasa Asing. Serta menangkap alur bicara lawan      diskusinya,      sehingga bisa menanggapi dengan tajam .”[3]


[1] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam ( Jakarta : PT Ihtiar Baru Van Hoeve, 1994 ), 163.

[2] Ruchman Basori, Pesantren Modern Indonesia ( Jakarta :  PT Inceis cetakan ke dua, 2008), 64.

[3] Ibid., 65.