Category Archives: Lainnya

Kaligrafi Murni dan Lukisan Kaligrafi

Seni kaligrafi merupakan kebesaran seni Islam, yang lahir di tengah-tengah dunia arsitektur. Hal ini dapat dibuktikan pada aneka ragam hiasan kaligrafi yang memenuhi masjid-masjid dan bangunan-bangunan lainnya, yang diekspresikan dalam paduan ayat-ayat suci Al-Qur’an, Al-Hadits atau kata-kata hikmah. Demikian juga mushaf Al-Qur’an banyak ditulis dengan berbagai corak kaligrafi.

Berdasarkan eksistensi tulisan (huruf Arab) pada saat pengekspresiannya, dibedakan pengertian antara kaligrafi murni dan lukisan kaligrafi. Keduanya agak berjauhan satu sama lain. Kaligrafi murni adalah seni tulis indah yang mengikuti pola-pola kaidah yang sudah ditentukan dengan ketat, yaitu bentuk-bentuk yang tetap berpegang pada rumus-rumus dasar kaligrafi yang baku (kaidah khathiyah). Di sini dapat dibedakan dengan jelas aliran-aliran seperti Naskhi, Tsuluts, Rayhani, Diwani, Diwani Jali, Farisi, Kufi dan Riq’ah.11 Penyimpangan atau pencampuradukkan satu dengan yang lain dipandang sebagai suatu kesalahan, karena dasarya tidak cocok dengan rumus-rumus yang sudah ditetapkan.12

Jelaslah, bahwa suatu hasil karya kaligrafi tidak boleh mencampuradukkan gaya dalam penulisan kaligrafi misalnya, Naskhi, Riq’ah dan Tsuluts dijadikan satu. Hal itu tidak boleh terjadi, karena merupakan “pelanggaran”. Selanjutnya menurut Situmorang, bahwa suatu gaya kaligrafi sudah ditentukan secara ketat peraturan penulisannya. Keserasian antar huruf, cara merangkai, sentakan, bahkan jarak sepasi harus diperhitungkan dengan serasi.13 Teknik penulisan tiap-tiap kaligrafi atau khath juga mempunyai cara yang berbeda-beda.

Dewasa ini kaligrafi murni atau kaligrafi klasik telah banyak mendapat perhatian dan dikembangkan ke dalam bentuk lukisan kaligrafi (kaligrafi ekspresif atau kontemporer). Istilah “lukisan kaligrafi” biasanya digunakan untuk membedakannya dari “kaligrafi murni” atau “kaligrafi klasik” yang berpegang pada kaidah-kaidah khathiyah.14

 Pengertian lukisan yaitu suatu pengucapan pengalaman artistik yang ditumpahkan dalam bidang dua dimensional dengan menggunakan warna dan garis.15 Lukisan adalah suatu bentuk ungkapan batin seseorang dari hasil suatu pengolahan ide berbakat pengalaman indrawi maupun pengalaman jiwa melalui susunan unsur-unsur estetis dengan ukuran dwi marta (dua dimensi). Ungkapan atau pernyataan batin yang juga disebut ekspresi dalam suatu karya seni, haruslah memiliki nilai kebebasan dan mengandung unsur keindahan. Tampilnya keindahan tidak selalu dalam pewujudan fisik dan visual semata-mata, tetapi dapat pula secara moral (perasaan) atau secara kedua-duanya.16 Sedangkan yang dimaksud dengan lukisan kaligrafi adalah model kaligrafi yang digoreskan pada hasil karya lukis, atau coretan kaligafi yang dilukis sedemikian rupa dengan menggunakan warna-warna yang beragam, bebas dan tidak terikat oleh rumus-rumus baku yang ditentukan.17 Menurut Situmorang, lukisan kaligrafi adalah suatu bentuk atau corak seni kaligrafi yang dieksperimenkan ke dalam  bentuk lukisan yang dikombinasikan dengan warna-warna, huruf dan corak tulisannya cenderung memiliki gaya atau corak yang bebas dan lepas dari kaidah-kaidah yang telah digariskan dalam kaligrafi yang baku.18

Lukisan kaligrafi merupakan seni lukis yang menampilkan aksara Arab sebagai subject-matter (sasaran) utuh atau sebagian, atau mengambil beberapa huruf saja. Secara prinsip kaligrafi lukis (lukisan kaligrafi) berbeda dengan kaligrafi tulis (kaligrafi murni). Pada lukisan kaligrafi terdapat sejumlah kebebasan dalam berekspresi. Sedangkan dalam kaligrafi tulis, dikenal beberapa macam ketentuan pokok dan rumus-rumus baku.19 Lukisan kaligrafi secara mendasar berbeda dengan lukisan biasa. Di samping si pelukis harus memiliki niat suci dan hati bersih, pemilihan medianya pun harus benar dan tepat.

Oleh karena itu, pengertian lukisan kaligrafi Islam tidak selalu menunjukkan kepada pengembangan gaya-gaya kaligrafi (kontemporer maupun klasik baku) dalam arti huruf seperti dalam kriterium al-Faruqi.20 Fokus lukisan kaligrafi tidak hanya selesai pada huruf, tetapi kehadirannya memang sebagai “lukisan” dalam arti yang sesungguhnya, seperti yang di kemukakan pelukis kaligrafi Syaiful Adnan. Kritikus seni rupa Dan Suwaryono menandaskan bahwa lukisan kaligrafi pada dasarnya ditopang dua unsur elemen seni rupa, berupa unsur-unsur fisiko plastis (berupa bentuk, garis, warna, ruang, cahaya, dan volume) di satu pihak, dan di pihak lain tuntutan-berupa tuntunan yang cenderung ke arah idio plastis (meliputi semua masalah yang secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan isi atau cita pembahasan bentuk). Dalam ungkapan yang lebih mudah, “lukisan” kaligrafi tidak hanya menampilkan sosok huruf yang dilukis, tetapi juga sebagai sebuah lukisan utuh yang menjadikan huruf sebagai salah satu elemennya.21

Menurut Affandi, lukisan kaligrafi adalah  karya cipta manusia sebagai hasil pengolahan ungkapan batinnya melalui susunan unsur-unsur tulisan dan unsur-unsur dwi marta yang lain, yang memiliki sifat-sifat simbolik, religius, dan estetik. Membawa pesan kebaikan antara hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia serta manusia dengan alam.22 Jadi, setiap lukisan kaligrafi memiliki kebebasan dalam gaya atau corak tulisan sehingga tercipta suatu kesatuan bentuk lukisan yang sesuai dengan keinginan penciptanya.

Dari pengkajian makna peristilahan tersebut dapat dikatakan: Pertama, lukisan kaligrafi bukan sekedar sebagai seni tulisan indah. Kedua, melalui kebebasan ekspresi estetik, seni tulisan indah kemudian dengan kreasi bentuk dan susunan huruf-huruf dilengkapi dengan unsur-unsur lain menjadi karya lukisan. Ketiga, lukisan merupakan bahasa dari pelukisnya. Bahasa adalah media komunikasi. Lukisan dengan unsur-unsurnya adalah merupakan wujud perlambang yang digunakan oleh pelukis untuk mengutarakan isi hatinya dengan pesan-pesannya. Keempat, lukisan kaligrafi perkembangannya tidak dapat dipisahkan dari kehidupan Islami. Karena itulah lukisan kaligrafi mengekspresikan keagamaan.23

Medium untuk penciptaan karya lukisan kaligrafi sangatlah bebas, sebebas medium yang digunakan pada karya-karya lukisan umumnya. Lukisan kaligrafi dapat ditampilkan dengan teknik cat minyak, cat air, batik bahkan dengan berbagai teknik eksperimen klasik maupun modern.

Banyak sedikitnya unsur tulisan dalam karya lukisan kaligrafi tidak menjadi masalah. Yang penting adalah keterpaduan dan keselarasan dapat tercapai. Karena yang ditulis adalah ayat-ayat Al-Qur’an, yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai merubah arti dan makna ayat tersebut.  Dalam penampilannya, lukisan kaligrafi dapat bercorak realis, surealis,24 dekoratif sampai yang bercorak semi abstrak.



11 Khath Kufi disebut khath Muzawwa, yakni jenis tulisan Arab yang berbentuk siku-siku. Tulisan ini semula berasal dari khath Hieri (Hirah), suatu tempat bernama Hirah dekat Kufa, kemudian tulisan ini dikenal dengan nama Kufi. Khath Naskhi atau Nasakh merupakan salah satu tulisan kursif paling awal, namun memperoleh popularitas baru setelah dirancang kembali oleh Ibnu Muqlah pada abad ke-10 M. Khath Tsuluts pertama kali dirumuskan pada abad ke-7 M pada masa kekhalifahan Umayyah. Tsuluts berarti “sepertiga”—karena pertimbangan garis lurusnya terhadap garis lengkungnya, atau karena tulisan ini adalah sepertiga dari ukuran tulisan lain yang populer pada masa itu. Khath Farisi (Ta’liq) pertama kali berkembang di Persia pada masa pemerintahan Dinasti Safavid (1500-1800 M) kemudian Pakistan, India dan Tuki. Pada masa pemerintahan Shah Ismail dan Shah Tahmasp, perkembangan khath Farisi mengalami kemajuan yang pesat, sehingga tulisan ini menjadi satu-satunya tulisan yang berlaku di Persia. Khath Riq’ah adalah satu bentuk tulisan yang dapat ditulis dengan cepat, yang hampir mirip dengan cara menulis stenografi. Tulisan ini ditemukan pada abad 15 M. Khat Rayhani pertama kali dikembangkan pada abad ke-9 M oleh Ali ibn Al-Ubaydah Al-Rayhani, yang berasal dari khath Naskhi dan khath Tsuluts. Lihat Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya, hlm. 68-97 dan Yasin Hamid Safadi, Kaligrafi Islam, terj. Abdul Hadi W.M. (Jakarta: PT. Pantja Simpati, cet. I, 1986), hlm. 44-86. Khath Diwani adalah perkembangan tulisan Usmaniyyah pada akhir abad ke-15 M, dari tulisan Ta’liq Turki oleh Ibrahim Munif. Khath Diwani Jali merupakan tulisan Diwani yang mengembangkan ragam ornamental, juga dikenal sebagai Humayuni (kerajaan). Lihat Yasin Hamid Safadi, hlm. 32.

12 D. Sirojuddin AR., Seni Kaligraf Islam, hlm. 11.

13 Oloan Situmarang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan perkembangannya, hlm. 68.

14 D. Sirojuddin AR., Seni Kaligrafi Islam, hlm. 177.

15 Soedarso, Seni Lukis Kaligrafi Islam, (Yogyakarta: ISI, 1992), hlm. 10.

16 M. Affandi, Ekspresi Simbolik, Religius dan Estetika dalam Karya Lukis Kaligrafi,  (Yogyakarta: FPBS-IKIP, 1994), hlm. 134.

17 D. Sirojuddin AR., Seni Kaligrafi Islam, hlm. 11.

18 Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya, hlm  99.

19 Amri Yahya, Kaligrafi Arab untuk Pendidikan Seni Rupa, (Yogyakarta: FPBS-IKIP, 1992), hlm. 10-13.

20 Lihat Ismail al-Faruqi, Seni Tauhid, Esensi dan Ekspresi Estetika Islam, terj. Hartono Hadikusumo, (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, cet. I, Januari 1999), hlm. 105-118.

21 D. Sirojuddin AR., Seni Kaligrafi Islam, hlm. 178.

22 M. Affandi, Ekspresi Simbolik, Religius dan Estetika dalam Karya  Lukis Kaligrafi, hlm. 137.

23 Ibid., hlm. 128.

24 Aliran lukisan realis yang dibumbui dengan imajinasi (khayalan-khayalan) yang berlebihan.

Kaligrafi Kontemporer

Kaligrafi kontemporer adalah istilah atau sebutan untuk sebuah karya yang “memberontak” atau “menyimpang” dari rumus-rumus dasar kaligrafi, yang merupakan bentuk manifestasi gagasan dalam wujud visual. Secara estetika kaligrafi kontemporer mengacu kepada kaidah penciptaan seni rupa kontemporer secara umum dan secara etika bersumber kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits, yang membawa muatan artistik-apresiatif yang berfungsi sebagai tontonan (media apresiasi), di sisi lain mengandung muatan etik-religius yang berfungsi sebagai tuntunan (media dakwah).

Sering diistilahkan adanya jenis kaligrafi “murni” dan “lukisan” kaligrafi. Pertama, dimaksudkan sebagai kaligrafi yang mengikuti pola-pola kaidah yang sudah ditentukan dengan ketat, yakni bentuk yang tetap berpegang pada rumus-rumus dasar kaligrafi (khath) yang baku. Penyimpangan, ataupun percampuradukan satu dengan lainnya dipandang sebagai kesalahan, karena dasarnya tidak sesuai dengan rumus-rumus yang sudah ditetapkan. Sedang yang kedua, adalah model kaligrafi yang digoreskan pada hasil karya lukis, atau coretan kaligrafi yang “dilukis-lukis” sedemikian rupa –biasanya dengan kombinasi warna beragam, bebas dan (umumnya) tanpa mau terikat dengan rumus-rumus baku yang sudah ditentukan.[1] Model inilah yang digolongkan ke dalam aliran kaligrafi Kontemporer.

Segala aspek yang terkait dengan perkembangan seni kaligrafi, kiranya dapat dipahami dengan pemikiran yang lebih umum tentang kebudayaan Islam. Teori tentang kebudayaan Islam secara umum juga dapat disebut dengan teori evolusi.[2] Secara hipotesis dapat dikatakan bahwa kebudayaan Islam berkembang dari bentuk-bentuk yang sangat sederhana menjadi semakin  kompleks;  dari  sebuah  aturan  lama  yang  telah dibakukan menuju

pada usaha “pemberontakan” dan akhirnya tercipta sebuah aturan baru.[3] Teori evolusi berlaku dalam bidang tata-aturan hidup masyarakat dalam berkesenian karena tata-aturan ini diturunkan sesuai dengan tingkat perkembangan dan keperluan masyarakat yang senantiasa berevolusi. Dalam banyak segi, membicarakan masalah kebudayaan berarti akan mempermasalahkan  hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia baik sebagai manusia pribadi maupun manusia yang hidup berkelompok. Kita menyadari bahwa manusia sebagai makhluk Tuhan adalah merupakan kelompok makhluk yang memiliki kemampuan dalam hal berfikir, berkehendak dan berkemauan maupun cita-cita yang tiada batasnya. Ia yang selalu bercita-cita dengan dibarengi usaha untuk mendapatkan apa-apa yang menjadi kebutuhan hidupnya. Dapat disebut bahwa manusia itu adalah makhluk yang mempunyai aktifitas dan kreatifitas tinggi dalam usaha memenuhi segala keperluan dan kebutuhan hidupnya. Semua kemampuan ini adalah merupakan ungkapan yang terjelma dari budi dan daya manusia.[4]

Dalam kajian keislaman, selalu saja kita terbentur pada sebuah jalan buntu ketika memasuki wilayah kajian seni Islam. Kebuntuan tersebut muncul dari ambivalensi[5] sikap kaum muslim sendiri dalam menangani persoalan dunia seni. Di satu sisi, sebagian besar orang Islam, dapat dipastikan, akan mengatan bahwa Islam sama sekali tidak bertentangan, apalagi melarang seni. Dengan penuh semangat mereka akan menunjukkan berbagai “dalil” baik Aqliyah19: bahwa Al-Qur’an sendiri mengandung nilai artistik, historis: bahwa hingga kini tilawah Al-Qur’an dan khath atau kaligrafi tersebar luas, maupun naqliyah20: semacam Hadis yang mengatakan bahwa ‘Allah itu Indah dan menyukai keindahan’.21



[1] D. Sirojuddin AR., Seni Kaligraf Islam, hlm. 10-11.

[2] Proses perkembangan/perubahan secara lambat (berangsur-angsur); teori evolusi: suatu interpretasi tentang cara terjadinya perkembangan mahluk-mahluk hidup. Lihat Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Penerbit ARKOLA, t.t.), hlm. 164.

[3] Dalam seni kaligrafi, golongan penganut setia pada rumus-rumus dasar kaligrafi (kaidah khathiyah) tetap berusaha mempertahankan aturan lama yang diciptakan oleh para khthath (kaligrafer) terdahulu. Sementara golongan yang berusaha membebaskan diri dari kaidah khathiyah ketika menciptakan sebuah karya, mereka itulah yang berusaha membuat aturan baru dalam perkembangan seni kaligrafi sampai muncul istilah kaligrafi kontemporer.

[4] Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya, hlm. 1.

[5] Kebingungan dalam menentukan dua perasaan yang sama-sama muncul; perasaan yang bertentangan. Seperti munculnya gerakan “pemberontakan” terhadap kaidah-kaidah yang sudah baku dalam seni kaligrafi.

19 Lihat Ismail Raji al-Faruqi, Seni Tauhid, Esensi dan Ekspresi Estetika Islam, hlm. 13-17.

20 M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, (Bandung: Penerbit Mizan, cet. IX. Maret 1999), hlm. 389.

21 Pengantar buku Ismail Raji al-Faruqi, Seni Tauhid, Esensi dan Ekspresi Estetika Islam, hlm. v.

Lagu Religi Terbaru Sambut Ramadhan 1432 H

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, Ramadhan 1432 H atau Ramadhan 2011 ini banyak dihiasi dengan lagu-lagu religi musisi tanah air, lagu-lagu religi tahun ini yang berhasil saya kumpulkan diantaranya:

  1. Yangseku – Ya Tuhanku (Religi)
  2. Zivilia – Pintu Taubat (Religi)
  3. The Titans – Jalan Lurus (Religi)
  4. Opick – Rumput Bertasbih
  5. D’Masiv – Damai (Religi)
  6. Wali – Abatasa
  7. Dide (Hijau Daun) Feat Astrid – Semua Karena Allah
  8. Ungu Feat Rossa – Ku Pinang Engkau Dengan Bismillah
  9. D’bagindas – Marhaban Ya Ramadhan
  10. Ashanty Feat. Aurel – Salam Ya Ramadhan
  11. Syahrini – Taubatlah Taubat
  12. Maher Zein-Fadli Padi: Insya Allah
  13. S9mbilan Band – Taubat
  14. Berlian – Khilaf
  15. NSG Star Feat Titiek Puspa – Alhamdulillah Aku Pulang
  16. Inside Band – Keagunganmu
  17. Tompi – Ramadhan Berbagi
  18. Sulis – Zikir Anak
  19. Vicki Irawan – Ikhlas
  20. Marvells – Nikmat Mana lagi
  21. Mahfud MD – Husnul Khatimah
  22. Yuni Sara – Akhirnya
  23. Marshanda, Oki, Arsyil, Dude, Odi – Dari Sujud Ke Sujud 
  24. Avara – Hanya Padamu
  25. Merpati – Jalan Terang Mu
  26. MUHAMMAD FADHLI – TAUBAT
  27. Iles-mohon ampun ya allah
  28. Abu Fawaid – DILUNI
  29. Apa Lagi?, tunggu update nya…

Catatan: Untuk Men-download langsung KLIK Judulnya

Arti Kata “Intil”

Bahasa banjar yang satu ini termasuk yang sulit digambarkan kedalam bahasa Indonesia, jika hanya menggunakan 1 atau 2 kata saja. Intil adalah keadaan dimana objek hampir jatuh, biasanya benda atau apapun yang diletakkan ditempat tinggi dan hampir jatuh, jika digambarkan dengan ” piring diatas meja” maka priring tersebut hampir separo diameternya tidak berada diatas meja, namun belum jatuh. Jika piring itu terlihat bergerak namun belum juga jatuh maka keadaan tersebut disebut “Intil Banar”. Ha ha…

Amalan Bulan Ramadhan

﴿اين عملان بولن رمضان

 

دارى تغكل 1-10   = اَللَّهُمَّ ارْحَمْنِى بِِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ                  100 X

دارى تغكل 11-21 = اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِى ذُنُوْبِى يَارَبَّ اْلعَالَمِيْنَ                         100 X

دارى تغكل 12-30 = اَللَّهُمَّ اعْتِقْنِى مِنَ اْلنَّارِ وَ اَدْخِلْنِى اْلجَنَّةَ يَارَبَّ اْلعَالَمِيْنَ        100 X

                           اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ الله – اَسْتَغْفِرُ الله

اَسْئَلُكَ اْلجَنَّةَ وَاَعُوْذُبِكَ مِنَ النَّارِ         3 X

اَللَّهُمَّ اِنِّى اَسْئَلُكَ اْلعَفْوَ وَاْلعَافِيَةَ وَالمُعَافَاةَ الدَّائِمَةَ فِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَاْلاَخِرَةِ             3 X

اَللَّهُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى 3  X  يَا كَرِيْمِ

﴿اين دباج ستيف مالم بولن رمضان

لاَ اِلهَ اِلاّ اللهُ اْلحَلِيْمُ اْلكَرِيْمُ سُبْحَانَ الله رَبِّ اْلسَّمَوَاتِ اْلسَبْعِ وَرَبِّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ      3 X

﴿اين دباج ديكلا هندق بربوكا فواسا

يَا عَظِيْمُ يَا عَظِيْمُ اَنْتَ ِالَهِى لاَ اِلهَ غَيْرُكَ اِغْفِرْلِى اْلذَّنْبَ اْلعَظِيْمَ

 فَاِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ اْلذَّنْبَ اْلعَظِيْمَ اِلاَّ اْلعَظِيْمُ   3 X

﴿اين دباج سسوده بربوكا فواسا

اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ اَمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ ذَهَبَ اْلظَّمْأُ وَاْبتَلَّتِ اْلعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلاَجْرُ

 اِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى

﴿اين دباجديكلا هنداق مكان سحور

اَللَّهُمَّ بِبَرْكَةِ اَكْلِ اْلسَحُوْرِ اَعِنِّى عَنِ اْلجُوْعِ وَاْلعَطَشِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ اْلرَّاحِمِيْنَ

Do`a Guru Sekumpul (Mp3)

 Kh. Muhammad Zaini Bin Abdul Gani atau yang akrab dipanggil dengan Guru Sekumpul atau Guru Ijai, sringkali berdo`a dengan do`a yang khusus dan biasanya do`a-do`a tersebut selalau diikuti dan dipraktekkan oleh murid-murid beliau, salah satu do`a beliau yang cukup terkenal adalah do`a berikut:

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين، اللهم صل وسلم وبارك علي سيدنا محمد الأمين، و علي اله وصحبه الي يوم الدين. اللهم انا نسألك التوبة والمغفرة والتوفيق والهداية والإستقامة وحسن الخاتمة. الهنا تب علينا توبة نسوحا وحول احوالنا الي احسن الحال ياكبير يا متعال. ربنا هب لنا من ازواجنا وزريتنا قرة اعيون وجعلنا للمتقين اماما. سألناك يا رب صحة القلب والجسد وعافية الابدان فى الاهل والولد وطول حيات مع كمال الاستقامة وحفظا من الهم والكبر والرياء والعجب والسمعة والحسد، وزرقا واسعا حلالا غير قاصر يكون لنا عونا علي منهج الرشد، وحسن اداب فى الاخلاق جميعها، وبفضلك اللهم يا بر و يا صمد بجاه النبي المصطفي بفضل من صام ومن حج ومن سجد، وصلي الله علي سيدنا محمد وعلي اله وصحبة احمعين والجمد لله رب العالمين

Do`a ini adalah do`a yang sering dibaca beliau ketika mengakhiri pengajiannya.  Download Versi Audinya Klik sini

4 Hal Yang Tidak Mungkin Ditarik Kembali

  1. Anak panah yang telah lepas dari busurnya
  2. Kesempatan yang diabaikan
  3. Kata yang terucap
  4. Kedidupan lalu