Orang-orang sufi mempunyai jalan rohani, di atas mana mereka berjalan. Jalan ini berdasar pada asas dan petunjuk serta mengandalkan Al Quraanul Kariem dan sunnah nabi yang mulia.
Telah karni sebutkan dalam pasal lain beberapa ucapan tokoh-tokoh sufi, yang menjelaskan bahwa dalam menempuh jalan menuju Allah SWT mereka mengandalkan Al Quraanul Kariem.
Jalan ini telah dilakukan oleh orang-orang sufi dan telah nyata hasilnya. Prinsip jalan sufi ini mereka namakan dengan: al maqamat wal Ahwal (kedudukan-kedudukan dan keadaan).
Kedudukan-kedudukan itu merupakan tingkatan-tingkatan rohani, yang dapat dilalui orang yang berjalan menuju kepada Allah SWT. Dan akan berhenti sang salik dalam satu saat tertentu dan berjuang dalam lingkungannya, hingga Allah SWT memudahkannya menempuh jalan menuju tingkatan yang kedua, agar ia meningkat dalam ketinggian rohani dari keadaan yang mulia menuju keadaan yang lebih tinggi lagi. Hal itu misalnya dari tingkatan At Taubah menuju tingkatan al Wara’ (kelurusan). Dan dari tingkatan al Wara’ menuju tingkatan az Zuhud. Demikianlah jalannya hingga mencapai tingkatan Mahabbah (kecintaan) dan Ridha.[1]
Tingkatan ini memerlukan jihad dan penyucian hati. Karena itu mereka berkata: Bahwa hal itu bisa dicapai dengan jalan usaha, yaitu kesungguhan dalam ketaatan, ketekunan dalam berjuang untuk mewujudkan ubudiyah (penghambaan diri) kepada Allah SWT.
Sedang keadaan-keadaan merupakan angin rohani yang bertiup dengan lembut di atas orang yang menempuh jalan, yang sesaat menyegarkan jiwa sang salik, kemudian berlalu dengan meninggalkan wewangian. Lalu roh akan merindukan kembali untuk menghirup wewangian yang menyegarkan. Itulah perumpamaan kesenangan terhadap Allah.
Sama halnya apakah kami membicarakan kedudukan-kedudukan atau keadaan, maka kaum sufi telah berbeda dalam meringkas dan merincinya.[2]
Namun nampaknya mereka tidak berbeda dalam mensifati kedudukan-kedudukan dan keadaan, hingga tak ada pertentangan dalam hal itu.
Al Imam Abu Nasher as Sarraj ath Thusi berbicara tentang AI Maqamat adalah seperti: “At Taubah, Al Wara’ (kelurusan budi), Az Zuhud, Al Faqr (kemiskinan), Ash Shabr (kesabaran), Ar Ridha, At tawakkul, dan selain itu” (Lihat AI-Luma’ H. 66).
la juga membicarakan tentang AI Ahwal (keadaan). Adapun makna AI Ahwal adalah kejernihan dzikir yang meresap di hati.
Diceritakan dari Al Junaid (rahimahullah), yang mengatakan: hahwa al ahwal adalah suatu perasaan yang ada di hati dan tidak kekal (AI-Luma’ H. 66).
Ath Thusi mengatakan: “Tidaklah al ahwal itu dicapai dengan mujahadah, ibadah dan ar riyadhoh (berlatih), sebagaimana al maqamat yang telah kami sebutkan tadi. Al ahwal adalah seperti AI Muraqabah (pengawasan dari Allah), Al Qurub (kedekatan), Al Mahabbah (kecintaan), Al Khauf (rasa takut), Ar Raja’ (harapan), Asy Syauq (kerinduan), Al Uns (kesenangan), Ath Thoma’nianah (ketenangan), Al Musyahadah (penyaksian), Al Yaqien (keyakinan), dan selainnya. (Lihat AI Lurna’ H. 66).
Al Imam Al Qusyairi membicarakan tentang AI Maqamat (kedudukaan-kedudukan) yaitu: adab yang dijalani dan ditekuni serta dicapai dengan semacam tindakan dan semacam pemaksaan diri.[3]
Maka kedudukan setiap manusia adalah kedudukannya ketika meIakdsanakan hal itu yang dicapai dengan latihan.
Syaratnya adalah ia tidak naik dari satu kedudukan ke kedudukan Iainnya, sebelum menyempurnakan kedudukannya terlebih dahulu. karena orang yang tidak memiliki sifat apa adanya, maka ia takkan bisa untuk tawakal. Barang siapa yang tidak memiliki sifat tawakal rnaka ia takkan bias berserah diri. Sedang orang yang tidak bertobat rnaka ia takkan memiliki sifat inabah (kembali pada Allah). Barang siapa yang tidak memiliki sifat Wara’ (kelurusan budi) tidaklah bisa ia rnenjadi orang yang zahid. (Ar Risalah AI Qusyairiyah H. 234).
Al Qusyairi berbicara tentang al ahwal:
Al Ahwal di kalangan kaum sufi adalah suatu arti yang berkaitan dengan hati, tanpa kesengajaan dari mereka (kaum sufi), maupun usaha dari mereka, seperti Tharab (kegembiraan), Huzun (dukacita), Baseth keluasan (kelapangan hati), Syauq (kerinduan), Inzi’aj (keterkejutan), Haibah (kewibawaan), Ihtiyaj (kebutuhan).
Maka AI Ahwal (keadaan) merupakan mawahib (kurnia), sedang al Maqamat (kedudukan) merupakan hasil usaha.
Al Ahwal terwujud dari Al Juud (kemurahan), sedang al Maqamat terwujud dengan mencurahkan tenaga. Pemilik al maqam akan mantab dalam kedudukannya. Sedang pemilik al-ahwal akan meningkat dari keadaannya.
[1] Abd. Halim Mahmud, Hal Ihwal Tasawuf,. hal. 219
[2] Ibid, hal. 219
[3] Risalah Qusyairiyah Bab Ahwal
Kata Kunci Pencarian:
- arti riyadhoh (40)
- arti kata riyadhoh (27)
- pengertian riyadhoh (11)