Ada seorang guru disebuah pondok pesantren, dia tidak punya ijazah sekolah formal sejenis SMP/MTS/SMA/MA karena memang beliau tidak pernah sekolah formal. Beliau menganggap ijazah itu tidak penting, dan sekolah untuk mencari ijazah adalah sekolah yang tidak ikhlas.
Saya berbeda pendapat dengan beliau, menurut saya ikhlas itu letaknya dihati sekalipun kita sekolah dengan mengejar titel atau ijazah awalnya kita memang tidak bisa ikhlas, karena ikhlas itu perkara yang sangat sulit, tapi seiring berjalannya waktu kita bisa mencapainya dengan terus berusaha.
Ikhlas diibaratkan “menyuap nasi kedalam mulut” dihati kita tetap meyakini Allah yang mengenyangkan dan melaparkan kita nasi tidak ada manfaatnya, namun kita tetap makan. Begitu juga dengan ijazah atau titel.
ibarat kedua: Ulama dahaulu mengarang kitab lalu mencantumkan nama beliau dikitab2 itu sebagai pengarang/penyusun padahal bisa saja tidak ditulis agar beliau dikatakan ikhlas, tapi beliau tetap menulis nama beliau, karena penulisan nama bukan berrti beliau tidak iklash . Bisa saja orang yang tidak menulis namanya sebagai pengarang itu agar dikatakan ikhlas dan itu berarti ia tidak ikhlas.Begitu juga dengan ijazah, bisa saja orang yang mengaku tidak memerlukan ijazah itu tidak ikhlas, karena niatnya supaya orang lain menyangkanya ikhlas.
Ibarat ketiga: seorang tuan guru ceramah mengambil uang pemberian panitia bukan berrti tuan guru kada ikhlas. Guru mengajar dikelas, ustadz mngajar dipesantren lalu menerima gajih tiap bulan bukan berarti guru dan ustadz ini tidak ikhlas. Ikhlas tidak bisa diukur oleh orang lain, yang tahu hanya Allah dan yang punya diri .
Kembali ke cerita. Seiring berjalannnya waktu, bertambahnya pengalaman, semakin luas pergaulan, hingga akhirnya aku bekerja dalam satu institusi dengan guruku tersebut. Apa yang ku temukan?
- Ternyata guruku yang tidak sekolah negeri ini terancam dikeluarkan dari institusi karena tidak memenuhi syarat sebagai guru. Apa yang beliau lakukan? Beliau merekayasa ketrangan pendidikannya dengan menulis pendidikan terakhir MA (Madrasah Aliyah). Memang tidak salah beliau memang lulusan Aliyah pondok. Tapi apakah kita tidak faham bahwa pendidikan yang dimaksud dalam isian tersebut bagi seseorang yang mengajar negeri misalanya: SMP, SMA, itu yang dimaksud pendidikan apa, apakah pendidikan formal atau pondok… tentu kita bisa memahaminya, dan kita pura2 tidak faham. itu tidak pantas dilakukan oleh seorang yang mengaku ikhlasnya dengan derajat tidak menganggap penting sebuah ijazah…
- Dia jarang masuk mengajar bahkan dalam satu semester ada yang tidak pernah masuk sama sekali, tapi beliau tetap menerima gajih tanpa malu.
- dan ada beberapa hal lain yang tidak pantas dilakukan oleh seorang yang berpendapat ijazah tidakpenting
dua perkara diatas BIASA dan tidak ada celanya sama sekali jika yang melakukan itu orang biasa, tapi jika dilakukan oleh seorang yang dianggap muridnya sebagai guru yang paling top, paling alaim, bahkan wali, rasanya kurang pantas.
TULISAN INI HANYA SEBAGAI RENUNGAN DIRI KITA, TIDAK UNTUK MENJATUHKAN SESEORANG, SAYA TIDAK EMNYEBUTKAN NAMA, CIRI2, BAHKAN TEMPAT. KITA TIDAK MENGHAKIMI BELIAU, MUDAH-MUDAHAN YANG BELIAU KERJAKAN MEMANG BENAR2 IKHLAS.
Iklash memang sulit tapi dibalik kesulitannya itu terdapat rahmat Allah yang tidak bisa kita ukur. Kita masih ingat cerita perempuan pezina dari sebuah hadits shahih, sekali lagi perempaun pezinah bukan perempuan yang yang pernah melakukan zinah tapi pezinah atau sama dengan pelacur. Suatu hari, dia bertemu dengan seekor anjing yang sedang kehausan, mengelilingi sumur yang dalam, anjing tersebut sangat haus sampai2 t menjulurkan ilatnya ketanah barangkali ada setets air yang ia dapatkan. Ketika melihat itu sipelacur kemudian iba dan iapun melepas sepatunya dan menuruni sumur tersebut untuk mengambilkan air menggunakan sepatunya tersebut (dijadikan gayung).
Apa kata Rasulullah? Allah telah mengampuni dosanya. dan kita harus bertanya kenapa? karena dia ikhlas. dia tidakbisa mengharapkan keuntungan dari sekor anjing, bahkan ucapan terima kasihpun tidak akan ia dapatkan.
dalam keiklhasan tercermin budi baik tak ternilai dan hanya diketahui oleh Tuhannya.
Ikhlas, neh dalam hati ngalih banar,,
diucapan kawa ja pan meucap,, ikhlaas,, ikhlaas,,
^_^