Masjid Jami dan Masjid Ghairu Jami I Saran Untuk Masyarakat Kecamatan Kintap Terutama Pengelola Masjid At Taqwa dan Para Alim Ulama

Di Negara Arab tempat untuk mendirikan shalat berjamaah (tempat ibadah) semua dinamakan Masjid, tidak ada yang namanya Mushalla, Surau, apalagi Langgar. Makanya tidak pernah kita mendengar istilah shalat tahyatul mushalla, yang ada More »

Beda Kurang Lebih dan Lebih Kurang

Sekilas dua kata ini maknanya sama, hanya penyebutannya saja yang berbeda, namun menurut saya  kedua kata tersebut memiliki pengertian yang  jauh berbeda. More »

Mimpi Jadi Nyata, Setiap Orang Pernah Mengalaminya, Ini Buktinya

Pernahkah anda bermimpi dalam tidur anda bahwa seseorang yang anda kenal telah meninggal dunia, setelah anda bangun dan menelpon orang tersebut teranyata ia baru saja meninggal dunia. Saya yakin setiap orang didunia More »

Belajar Waktu Muda Bagai Mengukir Batu

Satu lagi pepatah Arab yang cukup terkenal dan mempunyai makna yang sangat dalam, التَّعلّم فِي الصِّغَرِ كَالنَّقْشِ على الْحَجَرِ ** التَّعلّم فِي الْكِبَرِ ِ كَالنَّقْشِ عَلَى الْمَاءِ  Belajar diwaktu muda laksana mengukir More »

Syubbanul Yaum Rijalul Gadd I Pemuda Hari Ini Pemimpin Besok Hari

 شبان اليوم رجال الغد –Syubbanul yaum rijalul gadd– Pemuda hari ini adalah pemimpin besok hari Pepatah arab yang satu ini sangat terkenal, biasa dibawakan dalam pidato tentang pemuda, biasa pula disandingkan dengan More »

Pengertian kurikulum

pembelajaran1 300x225 Pengertian kurikulumSecara Etimologis kurikulum berasal dari bahasa latin (Yunani) yaitu asal dari kata currir yang artinya pelari, dan curere artinya tempat berpacu. Pengertian tersebut jelas merupakan pengertian dalam bidang olahraga, karena sejak zaman dahulu bangsa Yunani menyenangi olahraga.

Mengambil makna dari pengertian tersebut di atas, maka kurikulum dalam bidang pendidikan diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan anak didik untuk memperoleh ijazah, rumusan inilah yang menjadi pengertian kurikulum pertama digunakan dalam bidang pendidikan. Kemudian banyak para ahli yang mengemukakan defenisi kurikulum, antara lain:

1)      J. Galen Saylor dan William Alexander yang mengemukakan bahwa kurikulum meliputi segala pengalaman yang disajikan oleh sekolah agar anak mencapai tujuan yang diinginkan.

2)      Harold Alberty cs. Mengemukakan bahwa kurikulum dimaksudkan segala kegiatan yang disajikan oleh sekolah bagi siswa.

3)      William B. Regan mengemukakan bahwa kurikulum dapat dipandang sebagai dari kehidupan anak  di bawah bimbingan sekolah yang diatur secara khusus untuk tujuan tertentu.

Menurut Undang-undang no.11 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional,

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang dipergunakan sebagai pedoman  penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.

 

Dengan demikian pengertian kurikulum disini meliputi semua kegiatan, baik kegiatan intrakurikuler, kurikuler maupun kegiatan ekstrakurikuler. Ini berarti kurikulum direncanakan bukan hanya sekedar untuk menambah pengetahuan dan mengembangkan anak, melainkan lebih merupakan masaalah perbaikan dan peningkatan mutu kehidupan anak dalam bermasyarakat.

Pengertian Video

logovideo 300x180 Pengertian VideoMedia video sangat sesuai dengan tipe isi prosedural atau keterampilan, karna video dapat menampilkan gerakan dan peserta didik dapat menirukan gerakan dalam waktu hampir bersamaan. Video dalam system penggunaannya merupakan sekumpulan komponen yang satu sama lain saling bekerjasama yang pada fungsi akhirnya dapat mengirim suara serta gambar yang bergerak, video juga merupakan suatu peralatan pemain ulang (Play Back) dari suatu program rekaman baik berupa rekaman audio maupun gambar.

J.E Kemp (1985 : 221) mengatakan bahwa video dapat menyajikan informasi, mengambarkan suatu proses dan tepat mengajarkan keterampilan, menyingkat dan mengembangkan waktu serta dapat mempengaruhi sikap. Hal ini dipengaruhi oleh ketertarikan minat, dimana tayangan yang ditampilkan oleh media video dapat menarik gairah rangsang (stimulus) seseorang untuk menyimak lebih dalam.

Secara empiris kata video berasal dari sebuah singkatan yang dalam bahasa inggris yaitu visual dan audio. Kata Vi adalah singkatan dari Visual yang berarti gambar, kemudian pada kata Deo adalah singkatan dari Audio yang berarti suara. Dari pemnjelasan di atas dapat kita simpulkan pemahaman bahwa VIDEO adalah merupakan seperangkat komponen atau media yang mampu menampilkan gambar sekaligus suara dalam waktu bersamaan. Pada dasarnya hakekat video adalah mengubah suatu ide atau gagasan menjadi sebuah tayangan gambar dan suara.

Manfaat Penggunaan Video Sebagai Media Pembelajaran

logovideo 300x180 Manfaat Penggunaan Video Sebagai Media PembelajaranKita dapat melihat banyak sekali sumber belajar. Selain dari guru atau instruktur, kita juga telah belajar dari bahan atau material seperti misalnya buku, radio, majalah, film bingkai, video dengan atau tanpa bantuan alat-alat seperti proyektor dan pesawat radio/ video. Bahan dan alat yang kita kenal dengan istilah software dan hardware tak lain dan tak bukan adalah media pendidikan.

Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang optimal sangatlah perlu menggunakan media sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran. Adapun manfaat penggunaan media video pada proses pembelajaran adalah sebagai berikut :

1)      Sangat membantu tenaga pengajar dalam mencapai efektifitas pembelajaran khususnya pada mata pelajaran yang mayoritas praktek.

2)      Memaksimalkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam waktu yang singkat

3)      Dapat merangsang minat belajar peserta didik untuk lebih mandiri.

4)      Peserta didik dapat berdiskusi atau minta penjelasan kepada teman sekelasnya.

5)      Peserta didik dapat belajar untuk lebih berkonsentrasi

6)      Daya nalar Peserta didik lebih terfokus dan lebih kompeten.

7)      Peserta didik menjadi aktif dan termotivasi untuk mempraktekan  latihan-latihan.

8)      Peserta didik dapat menayangkannya di rumah karena materi sudah dalam format

film atau VCD.

 

9)      Memenuhi tuntutan kemajuan zaman pendidikan, khususnya dalam penggunaan

bidang media teknologi.

10)  Memberikan daya pemahaman keterampilan yang lebih terstruktural.

Dalam usaha memanfaatkan media sebagai alat bantu, Edgar Dale mengadakan klasifikasi pengalaman menurut tingkat dari yang paling konkrit ke yang paling abstrak. Klasifikasi tersebut kemudian dikenal dengan kerucut pengalaman (Cone Of Experience) dari Edgar Dale dan pada saat itu dianut secara luas dalam menentukan alat bantu apa yang paling sesuai.

Adapun kelebihan dari video adalah dapat menstimulir efek gerak, dapat diberi suara maupun warna, tidak memerlukan keahlian khusus dalam penyajiannya, dan tidak memerlukan ruangan gelap dalam penyajiannya. Sedangkan pada kekurangan atau kelemahannya adalah video memerlukan peralatan khusus dalam penyajiannya dan memerlukan tenaga listrik

c.   Konsep Dasar pengembangan Materi video

Pengembangan materi dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah lembaga pendidikan atau beberapa lembaga pendidikan lainnya, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) pada atau Pusat Kegiatan Guru (PKG), dan Dinas Pendikan yang kemudian dirangkum dari hasil analisis bersama.

Sebagai tenaga profesional yang memiliki tangung jawab langsung terhadap kemajuan belajar siswanya, seorang guru yang dalam hal ini adalah tenaga pengajar yang diharapkan mampu mengembangkan materi sesuai dengan kompetensi mengajarnya secara mandiri. Di sisi lain guru lebih mengenal karakteristik siswa dan kondisi sekolah serta lingkungannya.

Prosedur pengembangan media video dapat dilakukan dengan langkah-langkah yaitu (1) Analisis kebutuhan, (2) Identifikasi Fasilitas yang dibutuhkan, (3) Identifikasi Sumber Daya, (3) Lokakarya Penulisan Skript / Naskah, (4) Pelatihan Produksi Video (5) Kegiatan produksi.

1).  Prinsip Pengembangan Materi Video

a) Ilmiah

Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

b) Relevan

Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi kedalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.

c) Sistematis

Komponen-komponen materi saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.

d) Konsisten

Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian.

e) Memadai

Cakupan indikator, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.

f) Aktual dan Kontekstual

Cakupan indikator, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, serta peristiwa yang terjadi.

g) Fleksibel

Keseluruhan komponen materi dapat mengakomodasi variasi peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah/lembaga pendidikan dan tuntutan masyarakat.

h) Menyeluruh

Komponen materi mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).

 

2)   Tahapan Pengembangan Materi

a) Perencanaan

Penyusun materi terlebih dahulu perlu mengumpulkan informasi dan mempersiapkan kepustakaan atau referensi yang sesuai untuk mengembangkan materi. Pencarian informasi dapat dilakukan dengan memanfaatkan perangkat teknologi dan informasi seperti multi-media dan internet.

b) Pelaksanaan

Dalam melaksanakan penyusunan materi perlu memahami semua perangkat yang berhubungan dengan penyusunan materi, seperti Standar isi yang berhubungan dengan mata pelajaran yang bersangkutan aturan penyusunan materi kedalam silabus, rancangan program pembelajaran dan Standar Kompetensi serta Kurikulum yang diterapkan.

c) Perbaikan

Buram materi perlu dikaji ulang sebelum diterapkan dalam kegiatan pembelajaran. Pengkaji dapat terdiri atas para spesialis ahli mata pelajaran, guru/instruktur, kepala sekolah, dan siswa itu sendiri.

d) Pemantapan

Masukan dari pengkajian ulang dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk memperbaiki buram awal. Apabila telah memenuhi kriteria dengan cukup baik dapat segera disampaikan kepada Kepala atau Pimpinan lembaga pendidikan yang bersangkutan.

e) Penilaian Materi

Penilaian pelaksanaan materi perlu dilakukan secara berkala yang telah dijabarkan dalam sebuah silabus dengan menggunakan model-model penilaian kurikulum.

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN

pembelajaran1 300x225 MODEL MODEL PEMBELAJARANPada Chapter 1 . part 1 buku Models of teaching , dijelaskan bahwa social  models mengkombinasi antara belajar (learning) dan masyarakat (society) . kedudukannya kearah pengajaran dengan prilaku yang kooperatif (cooperative behavior) menstimulasi  tidak hanya secara social tapi juga intelektual, dan karenanya tugas interaksi social dapat di desain untuk meningkatkan studi akademik.

Sesuai dengan penekanan dan titik beratnya aplikasi model ini adalah untuk mengembangkan kecakapan individu pelajar dalam berhubungan dengan orang lain atau masyarakat. Individu siswa dalam hal ini dihadapkan oleh grtu dalam situasi yang demokratis  didorong untuk berprilaku produktif dalam bermasyarakat. Salah satu model yang mengutamakan interaksi antara siswa dalam situasi demokratis adalah model mengajar role playing[1]

karena banyak teori social yang tidak hanya berpotensi meningkatkan kemampuan rasional siswa tapi juga juga sudah menerbitkan pertanyaan serius  adekuat bentuk pendidikan yang  sudah ada disekolah..

 

PARTNERS IN LEARNING/BELAJAR DALAM BERKELOMPOK[2]

 

A. Skenario 1

 

Mary Hilltepper membuka tahun ajaran barunya pada kelas 10 dengan memberi tugas presentasi kepada siswanya 12 puisi yang diseleksi dari 100 puisi yang ada . dia membagi siswanya berpasangan, menyuruh mereka membaca dan mengklasifikasi puisi berdasar stuktur, bentuk dan tema., mereka bekerja sama dalam mengklasifikasi puisi, saling menyiapkan untuk saling berdiskusi di antara mereka dalam bentuk group, saling berdebat, kemudian proses model pembelajaran ini diikuti dengan beberapa tugas lain yang masih berhubungan, yaitu satu ditugasi memutuskan tema-tema yang saling berhubungan satu sama lain secara gaya dan struktur . yang lainnya membangun hipotesis tentang bagaimana penulis puisi megkombinasikan antara gaya dan tema serta struktur puisi mereka.

Mary mengorganisir kelasnya dalam metode belajar berpasangan (partnership based learning). tugas ini membangun tidak saja pengetahuan kognitif siswa tapi juga mempersiapkan siswa untuk menaikkan kerjasama dalam belajar siswa berikutnya. Menulis puisi atau  belajar tentang cerita pendek menjadi tingkat pembelajaran selanjutnya.

 

B. Skenario 2

 

Kelly Farmers, mengajar di kelas 5 . pada hari pertama tahun ajaran baru, dia membuka kelas dengan tersenyum dan mengajak siswanya untuk  belajar  tentang semua nama mereka dan dia mengatakan bahwa kita akan saling bekerja sama sepanjang tahun. “Let’s star by learning al our names and one of the ways we will be working together this year”.

Dia membagi meja dengan siswa yang berpasangan sebagai partner bekerja hari itu. Kelly menyuruh siswanya  yang sudah terbagi sebagai patner tersebut untuk bekerja sama membuat klasifikasi nama-nama temannya  dalam beberapa kategori .

Dalam beberapa menit mereka  sudah dapat mengklasifikasi nama-nama teman mereka, sebagai contoh, mereka menempatkan Nancy dan sally bersama karena mempunyai huruf Y pada akhir nama mereka,  menempatkan George dan Jerry bersama karena nama mereka terdengar sama pada awal kata.

Kelly sudah memulai tahun ajaran baru nya dengna mengorganisasi kerjasama siswa nya dalam bentuk metode belajar kooperatif “ cooperative  set”

 

TUJUAN COOPERATIVE  LEARNING COMMUNITIES (MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DALAM KELOMPOK)

 

  1. Sinergi dari model kerjasama ini bisa lebih memotivasi siswa dari pada bekerja belajar  sendirian, menciptakan iklim kompetitif, meningkatkan integrasi sosial, perasaan saling berkoneksi membangun energi yang positif.
  2. Para anggota saling bekerjasama dalam grup satu sama lain, setiap pelajar saling Bantu bahu membahu menbantu.
  3. Interaksi sesama, membangun kemampuan kognitif  sama baiknya dengan kemampuan bersosial. Menciptakan lebih banyak activitas intelektual yang meningkatkan proses belajar  jika dibandingkan mereka belajar secara individu (solitary study).
  4. Kerjasama juga meningkatkan positif feeling terhadap sesama , mengurangi keterasingan, kesepian, membangun hubungan , meningkatkan pandangan yang baik terhadap orang lain.
  5. Kooperatif system meningkatkan percaya diri (self estem) bukan saja meningkatkan kemampuan belajar tapi juga meningkatkan feeling atau perasaan dihargai , diperhatikan oleh orang lain yang ada disekitarnya.
  6. Pelajar atau para siswa dapat merespon pengalamannya dalam tugas ini, mengembangkan kapasitas kerjanya agar lebih produktif, atau dengan kata lain, pelajar yang diberi kesempatan bekerja bersama akan lebih baik mendapatkan manfaat untuk kemampuan  umum mereka bersosial  .
  7. Pejajar , termasuk anak sekolah dasar dapat  belajar membangun kemampuannya bekerja sama.

 

D. CARA MEMBANGUN KERJASAMA

 

  1. TRAINING FOR COOPERATION (MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF)

 

Jumlah proporsi siswa dalam grup dapat menentukan berjalan atau tidaknya suatu kerjasama

Kebanyakan siswa  mudah untuk berkerjasama ketika tugas yang diberikan tersebut telah jelas, bagaimanapun pengembangan cara yang lebih efisien yang lebih jelas itu sangat penting. Ada beberapa cara untuk menolong pelajar agar lebih praktis dan efisien, dalam bentuk besar grup, keragamannya dan prakteknya.

Bila siswa belum berpengalaman dalam bekerja sama maka tempatkan mereka dalam jumlah yang kecil saja. Jumlah grup yang terdiri dari 2, 3 atau 4  biasanya yang paling umum digunakan. Jumlah anggota yang lebih dari 6 orang biasanya jadi kaku dan membutuhkan  kemampuan kepemimpinan  dimana siswa tidak dapat bekerja sama  satu sama lain, bila mereka tidak berpengalaman

 

 

  1. TRAINING FOR EFFICIENCY (BELAJAR EFISIENSI)

Kagan telah mengembangkan beberapa cara prosedur pembelajaran pada siswa dimana kerjasama menjadi tujuan , dimana semua siswa berpartisipasi secara equal, dalam menjalankan tugas.

Sebagai contoh ketika ada group yang ter diri dari 3 orang diberi tugas, maka, harus ada pembagian tugas yang merata agar, masing-masing siswa saling bekerja dan melengkapi, ada yang menjadi pembicara, ada yang menulis , ada yang mencari jawaban yang benar atau yang mengecek untuk jawaban bagi temannya sebagai pembicara.

 

  1. TRAINING FOR INTERDEPENCE (BELAJAR SALING MEMBUTUHKAN)

Belajar untuk saling membutuhkan adalah penting dalam berkerja sama , agar kerjasama bias saling efisien dan berperoses. Dengan saling membutuhkan akan timbul empaty, sehingga sebuah grup ini akan dapat berjalan dinamis, tercipta suasana yang berkembang dan bertanggung jawab.

 

  1. DIVISION OF LABOR: SPECIALIZATION (PEMBAGIAN KERJA)

Pembagian kerja merupakan prosedur untuk membantu siswa belajar bagaimana saling membantu diantara mereka. Setiap siswa memdapat kewajiban yang sama, sebagai contoh sebuah kelas sedang mempelajari tentang Africa, dibagai grup yang terdiri dari 4 orang siswa, 4 negara dipilh untuk dipelajari, satu  anggota dari tiap  anggota grup di beri tugas mencari tentang Negara tersebut, ada yang meringkasnya,ada yang menjadi tutor, ada yang mendapat tugas mengingatkan semua aspek data.

Prosedur ini disebut jigsaw, dengan demikian para siswa diajak untuk meningkatka kemampuannya , keterampilannya dalam pembagian tugas .dan bekerja sama.

 

5. KERJASAMA DAN MOTIVASI

Kerjasama akan membangun motivasi para siswa, mereka dapat lebih bergairah untuk belajar , karena mereka dapat mengaktualisasi diri, ketika motivasi itu berkembang dan motivasi yang terbangun secara internal , akan memberikan satu kekuatan yang meningkatkan tujuan dari maksud pembelajaran tersebut.

 

 

E. GROUP INVESTIGATION: BUILDING EDUCATION THROUGH THE DEMOCRATIC PROCESS (MEMBANGUN PEMBELAJARAN MELALUI PROSES DEMOKRASI)

SKENARIO 3

Debbie spychoyos guru kelas 11 mengajar mata pelajaran georgrafi memberikan data dari Komputer tentang 177 negara yang ada di dunia, setiap grup yang terdiri dari 4 siswa mennganalisa  20 negara, dan mencari korelasi antara populasi, perdapatan perkapita, angka kelahiran, angka harapan hidup, produksi pertanian, industri, transportasi system, pelayanan kesehatannya, hak-hak perempuan, dan hasil bumi tiap negara tersebut.

Grup-grup tersebut akhirnya mengemukakan banyak pendapat setelah mereka menganalisa data-data yang ada tiap Negara, seperti , pada beberapa Negara yang harapan hidupnya terpaut kurang samapai 20 tahun disbanding negera yang lain, bahwa Negara yang kaya mempunyai fasilitas militer yang lebih baik disbanding Negara yang miskin yang lebih mengutamakan pelayanan kesehatan,  bahwa hak asasi wanita tidak berhubungan dengan type suatu Negara, dan lain-lain.

Setelah semua analisa selesai dilakukan oleh para grup, Debby secara hati-hati mencatat semua hasil reaksi penganalisaan mereka dan mereka memutuskan untuk membaw semua hasil data dan kesimpulan yang mereka dapat dari hasil diskusi, mereka juga memutuskan bahwa apa yang mereka butuhkan untuk membuat sebuah hipotesis atas data yang mereka dapat

Ada siswa yang ingin tahi tentang pengaruh dan hubungan antara organisasi dunia /WHO dengan Negara-negara yang menjadi anggotanya.

Ketika begitu pertanyaan danb kesimpulan yang beraneka ragam timbul, maka guru mengajak mereka untuk meinvetarisir kembali, memprioritaskan apa yang ingin mereka gali kembali dan membagi kembali tugas tersebut.

 

Inilah yang dimaksud membangun pembelajaran dalam kelompok secara demokratis. Proses demokratis dalam bentuk kelompok pembelajaran walaupun memang sulit karena dibutuhkan seorang guru yang mempunyai standard qualifikasi dan keterampilan yang tinggi. Walaupun agak sulit dan menakutkan karena para gurum orang tua dan kepala sekolah malah menganggap metode ini malah akan jadi mandek.

Tapi bagaimanapun juga metode ini harus dicoba, untuk membangun kapasitas building belajar para siswa, agar menjadi lebih kreatif dan mandiri. Dipandu oleh guru-guru yang berpengalaman

 

F. THE PHILOSOPHICAL UNDERPINNINGS (dasar filosofi)

Dasar filosofi dalam pengembangan model demokrasi proses ini adalah John Dewey yang menulis “who wrote how we think tahun 1910, kemudian banyak teori yang kemudian muncul , membahas teori ini,  seperti tahun 1920 Charles Hubbard Judd yang menekankan pengetahuan akademis. Willian Heard Kilpatrick, yang beberapa tahun memjadi pembicara untuk progressive movement, menekankan social problem solving . George Counts menekankan tidak hanya problem solving tapi juga konstruktif masyarakat, tapi kemudian teori yang paling mendekati tentang demokrasi proses ini dibuat oleh Gordo H Hullfish dan Phillip G smith dalam buku Reflective thingking : Methode of Education, kedua penulis ini memberikan tekanan pada peran pendidikan dalam membangun kapasitas mengembangkan cara mengolah informasi dan konsep , nilainya dan kepercayaan.

Esensi fungsi dari demokrasi adalah dengan membahas definisi masalah, dan situasi masalah tersebut. Kemampuan membahas dengan orang lain atau bertukar pikiran dengan orang lain akan membatu seseorang dapat bertukap pikiran dengan dunianya.

 

G. ORIENTATION TO THE MODEL

1. Goals and assumption

John Dewey (1916) merekomendasi agar seluruh sekolah diorganisir sebagai miniature demokrasi, siswa-siswa berpartisipasi dalam mengembangkan sosial system , melalui pengalaman, secara berkesinambungan belajar dengan metode sains untuk mengembangkan sosial masyarakat dewey berpendapat untuk mempersiapkan warga Negara yang demokrasi, sehingga metode ini di gunakan untuk mewujudkannya.

John U Michaelis (1980) kemudian menyari dari formulasi dewey dalam mengajar siswa sekolah dasar. Pusat dari metode belajar ini sebagai kreasi dalam demokrasi grup dalam mengatasi masalah sosial secara siqnifikan

 

H. MODELS OF TEACHING

1.SYNTAX (LANGKAH-LANGKAH)

Dimulai dengan melempar masalah secara konfrontasi, masalah dapat secara verbal maupun pengalaman , sehingga siswa dapat terstimulasi bereaksi, mereka menjadi lebih  interes dalam berbagai reaksi terhadap permasalahan yang dihadapi, siswa kemudian mengadakan analisis data dan masalah , membahas dan membuat laporannya, akhirnya setiap kelompok mengevaluasi tujuan yang mendasar. Jadi terdapat siklus mulai dari mengulang sendiri, konfrontasi terhadap yang lain dengan problem yang baru dan berkembang menjadi sesuatu siklus activitas yang mandiri.

Fase 1. awalnya siswa masih bingung terhadap situasi banyak masalah yang muncul

Fase 2. siswa menyelidiki reaksi yang muncul dalam situasi tersebut

Fase 3. siswa memformulasi tugas dan mengorganisasi tugas (masalah, definisi, tugas)

Fase 4. mendiskusikan secara mandiri dalam grup

Fase 5. siswa analisis progres dan proses

Fase 6. siklus aktivitas

 

SUPORT SISTEM

Dalam merancan kelompok pembelajaran sekolah membutuhkan perpustakaan yang baik yang dapat menyediakan berbagai informasi yang dibutuhkan siswa, mereka harus distimulasi untuk selalu mencari ilmu pengetahuan.

 

I.INSTRUCTIONAL AND NURTURANT EFFECTS

GROUP INVESTIGATION MODEL/ MODEL KELOMPOK PEMBELAJARAN

Model pembelajaran ini cukup menyeluruh dan serba guna, dapat meramu tujuan akademik , social integrasi,  social proses learning.

Dengan  model pembelajaran berkelompok akan dihasilkan:[3]

  1. Rasa menghargai terhadap orang lain dan dapat menerima semua perbedaan (pruralism) yang ada (respect for dignity of all and commitment to prulism)
  2. Mempunyai kepercayaan diri sebagai seorang pelajar yang memang tugasnya adalah belajar (independence as a learner)
  3. kesanggupan bersosial (commitment to Social )
  4. mempunyai kepribadian yang hangat (interpersonal warmth and affiliation)
  5. kostruksi bagaimana kita memandang ilmu pengetahuan
  6. kedisiplinan dalam mencari
  7. efektivitas proses pembelajaran kelompok dan kepemimpinan

 

 

KESIMPULAN

Pendidikan menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Tugas seorang pendidik atau guru , tidak hanya transfer of Knowlegde tapi juga dapat mengubah prilaku, memotivasi siswanya, memberikan dorongan yang positif (to acquirem to bond, to learn, to defend), mengatur suasana belajar yang menyenangkan, agar mereka bisa berkembang semaksimal mungkin. Guru tidak hanya mengolah otak siswanya tapi juga mengolah jiwa anak didiknya, bila seorang guru hanya mengolah otak tampa mempedulikan jiwa anak didiknya, alhasil mereka tumbuh menjadi manusia robot yang tidak berhati. Karena anak yang cerdas tidak hanya diukur dari nilai kelulusannya yang memuaskan tapi juga mempunyai ahklak yang baik , fungsi emosional dan motorik yang baik.

Pembelajaran yang efektif pada abad  ini menurut UNESCO harus diorientasikan pada  4 pilar yaitu learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together.

Walaupun model pembelajaran bukan satu-satunya alat dalam mendidik siswa, tapi guru harus mengetahui model-model pembelajaran sebagai bagian dalam perencanaan mengajarnya, agar siswa dapat memahami yang berikan oleh gurunya secara seksama. Model pembelajaran  adalah bantuan alat-alat yang mempermudah siswa relajar. Tujuan proses  mengajar secara ideal adalah agar bahan-bahan dipelajari  dikuasai murid sepenuhnya ini disebut Mastery Learning (belajar tuntas)

Mengajar adalah pemberian bimbingan  kepada siswa untuk belajar  atau menciptakan  lingkungan atau kemudahan bagi siswa untuk  melakukan kegiatan belajar. Disini guru berusaha memfungsikan seluruh sub system pengajaran dalam mencapai tujuan

Dalam metode ini kita mengenal belajar berkelompok yang sifatnya berpasangan dan pembelajaran yang terdiri dari 2, 3, 4 atau lebih siswa. Mereka diberikan tugas merata dan sama sehingga mereka dapat berperan serta dalam pembelajaran. Investigasi bersama membuat mereka merasa bahwa belajar menjadi lebih menyenangkan, mereka dapat termotivasi dalam menggali ilmu pengetahuan secara lebih mendalam, perasan lebih dihargai , membuat mereka lebih percaya diri.

Tujuan dari Cooperative Learning (model pembelajaran kooperatif) adalah:

(1) kerjasama ini bisa lebih memotivasi siswa dari pada hasil yang didapat ketika  belajar  sendirian, karena terciptanya iklim kompetitif, meningkatkan integrasi sosial, perasaan saling berkoneksi membangun energi yang positif. (2) Setiap pelajar saling bantu bahu membahu (3) tercipta  positif feeling terhadap sesama , mengurangi keterasingan, kesepian, membangun hubungan , meningkatkan pandangan yang baik terhadap orang lain dan juga (4) meningkatkan percaya diri (self estem) ,perasaan dihargai , diperhatikan oleh orang lain yang ada disekitarnya.

Langkah-langkah model  kooperatif learning

Fase 1. awalnya siswa masih bingung terhadap situasi banyak masalah yang muncul

Fase 2. siswa menyelidiki reaksi yang muncul dalam situasi tersebut

Fase 3. siswa memformulasi tugas dan mengorganisasi tugas (masalah, definisi, tugas)

Fase 4. mendiskusikan secara mandiri dalam grup

Fase 5. siswa analisis progres dan proses

Fase 6. siklus aktivitas

Tapi semua nya perlu memdapat support dari dukungan semua pihak baik guru, orang tua murid, kepala sekolah, juga bahan-bahan bacaan yang berkualitas yang disediakan melalui perpustakaan atau fasilitas internat yang ada.

Tidak mudah memang menghasilkan yang sempurna tapi kita mesti berihtiar dengan optimal. Dukungan pemerintah juga paling menentukan dalam menjembatani dan mensuport segala yang dibutuhkan bagi berkembangnya pendidikan , baik fasilitas maupun kesejahteraan bagi para guru.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bruce Joyce, Masha Weil , with Beverly Shower,  Models of teaching, 4 th  edition, Allyn and Bacon. USA.

Taufik Pasiak, Manajemen kecerdasan, mizan 2006

Drs. Syafaruddin, M.Pd, Drs Irwan Nasution, M.Sc. Manajemen Pembelajaran, Quantum Teaching,Jakarta  2005

Muhibbin Syah, M.Ed. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Rosda, Bandung 2005

 

 


[1] Muhibbin, Syah, M.Ed. Psikologi Pendidikan  dengan Pendekatan Baru, Rosda,  2005.  195

[2] Bruce Jones, dkk  op cit hal 29 – 31

[3] Bruce joyce dkk op cit 51

Mamanda dan Eksistensi Bahasa Banjar

Eksistensi Budaya Banjar 300x254 Mamanda dan Eksistensi Bahasa BanjarSecara administratif, wilayah Provinsi Kalimantan Selatan dengan Banjarmasin sebagai ibukotanya, terletak di bagian tenggara pulau Kalimantan dengan batas-batas, yakni sebelah utara dengan Provinsi Kalimantan Timur, sebelah selatan dengan Laut Jawa, sebelah timur dengan Selat Makasar, dan sebelah barat dengan Provinsi Kalimantan Tengah (Sam’ani dkk, 2005:7). Provinsi ini mayoritas didiami oleh masyarakat dari suku Banjar. Hal inilah yang menyebabkan bahasa yang dipakai dalam masyarakat pada umumnya di Provinsi Kalimantan Selatan adalah bahasa Banjar. Memang akan kita temukan pemakaian bahasa selain bahasa Banjar di Provinsi Kalaimantan Selatan, seperti bahasa Bakumpai, bahasa Dusun Deyah, bahasa Ma’anyan, dan bahasa Dayak Meratus. Akan tetapi, pemakaian bahasa-bahasa selain bahasa Banjar tersebut dipakai dalam kelompok masing-masing suku yang bersangkutan.

Sebagai contoh, bahasa Bakumpai dipakai oleh masyarakat suku Bakumpai atau bahasa Ma’anyan dipakai dalam masyarakat suku Ma’anyan. Berbeda dengan bahasa-bahasa tersebut, bahasa Banjar dapat kita katakan sebagai bahasa perantara (lingua pranca) di Provinsi Kalimantan Selatan. Semua suku yang ada di provinsi ini dapat menggunakan bahasa Banjar. Dengan demikian, masyarakat dari suku Banjar tidak perlu harus menguasai bahasa dari suku lain di provinsi ini jika ingin berkomunikasi dengan masyarakat dari suku lain tersebut. Misalnya, anggota masyarakat dari suku Banjar tidak perlu harus menguasai bahasa Bakumpai jika ingin berkomunikasi dengan anggota dari masyarakat suku Bakumpai. Anggota dari masyarakat suku Bakumpai akan menggunaan bahasa Banjar jika mereka berkomunikasi dengan anggota dari masyarakat suku Banjar.

Masyarakat Banjar memiliki khazanah sastra yang sudah hidup dan berkembang sejak dahulu. Karena bahasa perantara (lingua pranca) yang dipakai di Provinsi Kalimantan Selatan adalah bahasa Banjar, bahasa yang digunakan dalam sastra lisan di provinsi ini juga menggunakan bahasa Banjar. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa wujud cipta sastra terdiri atas tiga bentuk, yakni puisi, prosa fiksi, dan teater tradisional. Begitu pula dengan wujud sastra daerah di Provinsi Kalimantan Selatan, terdiri atas tiga bentuk tersebut. Bentuk puisi, di Provinsi Kalimantan Selatan berupa mantra. Mantra-mantra ini juga terbagi dalam empat jenis, yakni mantra Banjar jenis tatamba, mantra Banjar jenis tatulak, mantra Banjar jenis pinunduk, dan mantra Banjar jenis pitua. Bentuk prosa fiksi, di Provinsi Kalimantan Selatan dapat berupa mite, legenda, dan dongeng. Contoh bentuk prosa fiksi yang dapat kita temukan adalah Hikayat Lambung Mangkurat. Salah satu jenis teater tradisonal di Provinsi Kalimatan Selatan yang sampai hari ini masih dipentaskan, walaupun tingkat frekuensi pementasannya mulai berkurang adalah mamanda.

Mamanda merupakan salah satu teater tradisional di Indonesia yang berasal dari daerah Provinsi Kalimantan Selatan. Teater tradisional ini dapat kita sebut sebagai salah satu sastra daerah yang setingkat dengan sastra daerah sejenis di daerah lainnya seperti lenong di daerah Jakarta dan ketoprak di daerah Jawa. Bahasa yang digunakan para tokoh dalam pementasan mamanda adalah bahasa Banjar yang hidup dan berkembang di Provinsi Kalimantan Selatan, baik di daerah pesisir (Kuala) maupun di daeah pedesaan (Pahuluan).

Tujuan dari pementasan mamanda salah satunya adalah untuk mempertahankan eksistensi pemakaian bahasa Banjar yang dewasa ini mulai mengalami pergeseran. Pergesaran yang saya maksud adalah bahasa Banjar digeser pemakaiannya dengan pemakaian bahasa gaul dan bahasa Inggris di masayarakt Banjar, baik di daerah pesisir maupun di daerah pedesaan Provinsi Kalimantan Selatan. Dengan meningkatnya pementasan mamanda dalam bentuk modern diharapkan masyarakat akan mengurangi aktivitas menonton sinetron yang menggunakan bahasa gaul. Sinetron sebenarnya merupakan salah satu penyebab timbulnya kebanggaan masyarakat Banjar memakai bahasa gaul dan bahasa Inggris di Kalimantan Selatan.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa bahasa Banjar adalah salah satu bahasa daerah yang harus kita lestarikan eksistensinya. Bahkan, dalam penjelasan pasal 36 UUD 1945 yang menyebutkan bahwa “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia”, tercantum dengan tegas, “Di daerah-daerah yang memunyai bahasa sendiri yang dipelihara oleh rakyatnya dengan baik-baik, bahasa-bahasa itu akan dihormati dan dipelihara juga oleh negara” dan “Bahasa-bahasa itu pun merupakan sebagian dari kebudayaan Indonesia yang hidup”

Mamanda dan Pementasannya

Istilah mamanda pada teater mamanda di Provinsi Kalimantan Selatan ditengarai berasal dari kata paman. Kata ini merupakan kata sapaan dalam sistem kekerabatan masyarakat Banjar, yang merujuk pada pengertian saudara laki-laki dari ayah atau ibu. Kata ini direkatkan dengan morfem -ndasebagai sebuah sugesti kekerabatan atau keakraban dengan orang yang disapa dengan sapaan ini, sehingga terbentuklah kata pamandamamanda,ayahanda yang mengisyarakatkan keakraban dengan kata sapaan dasar yang dirujuknya. (Jarkasi, 2002:20). Kata Sapaan pamanda dalam dialog antara mangkubumi kepada wajir saat cerita mamanda dipentaskan akhirnya sangat dikenal dikalangan masyarakat Banjar. Karena itulah, setiap pementasan teater ini selalu dikenal masyarakat Banjar dengan nama bamanda ataumamanda. Masyarakat Banjar tidak menyebut teater ini pamanda karena kata tersebut lebih merujuk pada kata sapaan saja yang tidak cocok untuk nama sebuah bentuk seni pementasan. Lama-kelamaan masyarakat Banjar hanya menyebutnya dengan mamanda dan bukan bamanda karena afiks ba-dalam kata bamanda lebih merujuk pada kata kerja.

Sejak dahulu hingga sekarang bahasa yang sering sekali dipakai dalam pementasan mamanda adalah bahasa Banjar. Memang ada juga mamanda yang dipentaskan di televisi dengan menggunakan bahasa Indonesia, tetapi ceritanya menjadi kurang hidup. Hal ini karena bahasa Banjar merupakan bagian dari budaya Banjar sehingga pemakaian bahasa Indonesia dalam mamanda kurang dapat memunculkan nuansa dan nilai rasa budaya Banjar. Kekakuan itu juga disebabkan oleh para pemeran lakon dalam mamanda yang terbiasa menggunakan bahasa Banjar menjadi kurang lancar dalam berimprovisasi jika menggunakan bahasa Indonesia, meskipun para pemerannya menguasai bahasa Indonesia.

Di samping itu pengunaan bahasa Indonesia dalam pementasan mamanda kurang dapat melestarikan pemakaian bahasa Banjar. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa hubungan antara sastra dan bahasa tertentu sangatlah erat dan hubungan keduanya dapat kita katakan sebagai simbiosis mutualisme(hubungan yang saling menguntungkan). Hal ini berlaku juga dengan hubungan mamanda dan bahasa Banjar. untuk lebih jelasnya perhatikan penjelasan saya berikut ini.

Dalam kaitannya dengan mamanda, bahasa Banjar menjadi unsur penting yang digunakan pemeran mamanda untuk berkomunikasi dengan dirinya atau pemeran lainnya. Dengan kata lain, pementasan mamanda memerlukan bahasa Banjar. Di sisi lain dalam mamanda, bahasa Banjar menjadi unsur yang langsung disentuh masyarakat penonton. Kita sebagai masyarakat penonton langsung mendengarkan bahasa Banjar dalam pementasan mamanda. Jika bahasa Banjar adalah bahasa yang digunakan para pemeran pementasan mamanda, berarti dengan mendengarkan bahasa Banjar dalam pementasan tersebut masyarakat penonton pun menggunakan bahasa Banjar secara reseptif. Dengan demikian, bahasa Banjar yang digunakan para pemeran dan masyarakat penonton dalam pementasan mamanda akan bertambah lestari. Dengan kata lain kehidupan bahasa Banjar akan bertambah lestari dengan adanya pementasan mamanda. Jadi, mamanda dan bahasa Banjar saling memerlukan dan hubungan keduanya saling menguntungkan.

Dewasa ini, pementasan mamanda mulai jarang digelar dalam masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan terutama di kota Banjarmasin. Masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan lebih sering disuguhi tontonan lain. Tontonan lain tersebut antara lain, sinetron, acara dangdut, dan konser musik. Tontonan-tontonan lain ini menjadi penyebab mamanda jarang dipentaskan di hadapan masyarakat Banjar. Sinetron berbahasa Gaul dewasa ini sangat sering ditayangkan di televisi suwasta. Dahulu sinetron hanya ditayangkan satu kali dalam seminggu, misalnya hanya setiap hari Sabtu malam. Kini, setiap hari ada tayangan sinetron berbahasa Gaul di televisi. Penayangan sinetron berbahasa Gaul ini selain dapat menyebabkan masyarakat Banjar menggunakan bahasa gaul, juga dapat menyurutkan minat masyarakat Banjar untuk menonton cerita mamanda dipentaskan di televisi lokal maupun dipentaskan di gedung kesenian. Karena itulah, pada saat ini jarang sekali dalam acara pesta perkawinan ada ditampilkan pementasan mamanda.

Sebagian besar masyarakat Banjar modern juga lebih menyenangi acara dangdut di masyarakat. Jika ada acara dangdut, sebagian besar masyarakat Banjar terutama para pemuda Banjar sangat antusias ikut bergoyang hingga acara dangdut tersebut selesai. Bukan hanya itu, jika dahulu mamanda ikut memeriahkan pesta perkawainan, kini mamanda sudah digantikan dengan musik dangdut. Hampir di semua tempat pesta perkawainan di Kalimantan Selatan ada musik dangdut yang diperdengarkan kepada para undangan. Konser musik pop dan rock juga semakin sering ditampilkan di hadapan masyarakat Banjar secara langsung. Band-band terkenal di Indonesia sering menampilkan aksi mereka di hadapan masyarakat Banjar. Sebaliknya, mamanda semakin hari semakin jarang dipentaskan di hadapan masayarakat Banjar.

Tulisan: MAHMUD JAUHARI ALI

KERAJAAN TIDORE

masjid jami tidore 300x206 KERAJAAN TIDOREA.    Awal Perkembangan Kerajaan Tidore

Kerajaan tidore terletak di sebelah selatan Ternate. Menurut silsilah raja-raja Ternate dan Tidore, Raja Ternate pertama adalah Muhammad Naqal yang naik tahta pada tahun 1081 M. Baru pada tahun 1471 M, agama Islam masuk di kerajaan Tidore yang dibawa oleh Ciriliyah, Raja Tidore yang kesembilan. Ciriliyah atau Sultan Jamaluddin bersedia masuk Islam berkat dakwah Syekh Mansur dari Arab.

 

A.    Aspek Kehidupan Politik dan Kebudayaan

Raja Tidore mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Nuku (1780-1805 M). Sultan Nuku dapat menyatukan Ternate dan Tidore untuk bersama-sama melawan Belanda yang dibantu Inggris. Belanda kalah serta terusir dari Tidore dan Ternate. Sementara itu, Inggris tidak mendapat apa-apa kecuali hubungan dagang biasa. Sultan Nuku memang cerdik, berani, ulet, dan waspada. Sejak saat itu, Tidore dan Ternate tidak diganggu, baik oleh Portugis, Spanyol, Belanda maupun Inggris sehingga kemakmuran rakyatnya terus meningkat. Wilayah kekuasaan Tidore cukup luas, meliputi Pulau Seram, Makean Halmahera, Pulau Raja Ampat, Kai, dan Papua. Pengganti Sultan Nuku adalah adiknya, Zainal Abidin. Ia juga giat menentang Belanda yang berniat menjajah kembali.

B.     Aspek Kehidupan Ekonomi dan Sosial

Sebagai kerajaan yang bercorak Islam, masyarakat Tidore dalam kehidupan sehari-harinya banyak menggunakan hukum Islam . Hal itu dapat dilihat pada saat Sultan Nuku dari Tidore dengan De Mesquita dari Portugis melakukan perdamaian dengan mengangkat sumpah dibawah kitab suci Al-Qur’an.

Kerajaan Tidore terkenal dengan rempah-rempahnya, seperti di daerah Maluku. Sebagai penghasil rempah-rempah, kerajaan Tidore banyak didatangi oleh Bangsa-bangsa Eropa. Bangsa Eropa yang datang ke Maluku, antara lain Portugis, Spanyol, dan Belanda.

 

C.     Kemunduran Kerajaan Tidore

Kemunduran Kerajaan Tidore disebabkan karena diadu domba dengan Kerajaan Ternate yang dilakukan oleh bangsa asing ( Spanyol dan Portugis ) yang bertujuan untuk memonopoli daerah penghasil rempah-rempah tersebut. Setelah Sultan Tidore dan Sultan Ternate sadar bahwa mereka telah diadu domba oleh Portugis dan Spanyol, mereka kemudian bersatu dan berhasil mengusir Portugis dan Spanyol ke luar Kepulauan Maluku. Namun kemenangan tersebut tidak bertahan lama sebab VOC yang dibentuk Belanda untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku berhasil menaklukkan Ternate dengan strategi dan tata kerja yang teratur, rapi dan terkontrol dalam bentuk organisasi yang kuat.

KERAJAAN TERNATE

Masjid Tua Ternate maluku KERAJAAN TERNATEA.    Awal Perkembangan Kerajaan Ternate

Pada abad ke-13 di Maluku sudah berdiri Kerajaan Ternate. Ibu kota Kerajaan Ternate terletak di Sampalu (Pulau Ternate). Selain Kerajaan Ternate, di Maluku juga telah berdiri kerajaan lain, seperti Jaelolo, Tidore, Bacan, dan Obi. Di antara kerajaan di Maluku, Kerajaan Ternate yang paling maju. Kerajaan Ternate banyak dikunjungi oleh pedagang, baik dari Nusantara maupun pedagang asing.

 

A.    Aspek Kehidupan Politik dan Pemerintahan

Raja Ternate yang pertama adalah Sultan Marhum (1465-1495 M). Raja berikutnya adalah putranya, Zainal Abidin. Pada masa pemerintahannya, Zainal Abidin giat menyebarkan agama Islam ke pulau-pulau di sekitarnya, bahkan sampai ke Filiphina Selatan. Zainal Abidin memerintah hingga tahun 1500 M. Setelah mangkat, pemerintahan di Ternate berturut-turut dipegang oleh Sultan Sirullah, Sultan Hairun, dan Sultan Baabullah. Pada masa pemerintahan Sultan Baabullah, Kerajaan Ternate mengalami puncak kejayaannya. Wilayah kerajaan Ternate meliputi Mindanao, seluruh kepulauan di Maluku, Papua, dan Timor. Bersamaan dengan itu, agama Islam juga tersebar sangat luas.

B.     Aspek Kehidupan Ekonomi, Sosial, dan Kebudayaan

Perdagangan dan pelayaran mengalami perkembangan yang pesat sehingga pada abad ke-15 telah menjadi kerajaan penting di Maluku. Para pedagang asing datang ke Ternate menjual barang perhiasan, pakaian, dan beras untuk ditukarkan dengan rempah-rempah. Ramainya perdagangan memberikan keuntungan besar bagi perkembangan Kerajaan Ternate sehingga dapat membangun laut yang cukup kuat.

Sebagai kerajaan yang bercorak Islam, masyarakat Ternate dalam kehidupan sehari-harinya banyak menggunakan hukum Islam . Hal itu dapat dilihat pada saat Sultan Hairun dari Ternate dengan De Mesquita dari Portugis melakukan perdamaian dengan mengangkat sumpah dibawah kitab suci Al-Qur’an. Hasil kebudayaan yang cukup menonjol dari kerajaan Ternate adalah keahlian masyarakatnya membuat kapal, seperti kapal kora-kora.

C.     Kemunduran Kerajaan Ternate

Kemunduran Kerajaan Ternate disebabkan karena diadu domba dengan Kerajaan Tidore yang dilakukan oleh bangsa asing ( Portugis dan Spanyol ) yang bertujuan untuk memonopoli daerah penghasil rempah-rempah tersebut. Setelah Sultan Ternate dan Sultan Tidore sadar bahwa mereka telah diadu domba oleh Portugis dan Spanyol, mereka kemudian bersatu dan berhasil mengusir Portugis dan Spanyol ke luar Kepulauan Maluku. Namun kemenangan tersebut tidak bertahan lama sebab VOC yang dibentuk Belanda untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku berhasil menaklukkan Ternate dengan strategi dan tata kerja yang teratur, rapi dan terkontrol dalam bentuk organisasi yang kuat.