Masjid Jami dan Masjid Ghairu Jami I Saran Untuk Masyarakat Kecamatan Kintap Terutama Pengelola Masjid At Taqwa dan Para Alim Ulama

Di Negara Arab tempat untuk mendirikan shalat berjamaah (tempat ibadah) semua dinamakan Masjid, tidak ada yang namanya Mushalla, Surau, apalagi Langgar. Makanya tidak pernah kita mendengar istilah shalat tahyatul mushalla, yang ada More »

Beda Kurang Lebih dan Lebih Kurang

Sekilas dua kata ini maknanya sama, hanya penyebutannya saja yang berbeda, namun menurut saya  kedua kata tersebut memiliki pengertian yang  jauh berbeda. More »

Mimpi Jadi Nyata, Setiap Orang Pernah Mengalaminya, Ini Buktinya

Pernahkah anda bermimpi dalam tidur anda bahwa seseorang yang anda kenal telah meninggal dunia, setelah anda bangun dan menelpon orang tersebut teranyata ia baru saja meninggal dunia. Saya yakin setiap orang didunia More »

Belajar Waktu Muda Bagai Mengukir Batu

Satu lagi pepatah Arab yang cukup terkenal dan mempunyai makna yang sangat dalam, التَّعلّم فِي الصِّغَرِ كَالنَّقْشِ على الْحَجَرِ ** التَّعلّم فِي الْكِبَرِ ِ كَالنَّقْشِ عَلَى الْمَاءِ  Belajar diwaktu muda laksana mengukir More »

Syubbanul Yaum Rijalul Gadd I Pemuda Hari Ini Pemimpin Besok Hari

 شبان اليوم رجال الغد –Syubbanul yaum rijalul gadd– Pemuda hari ini adalah pemimpin besok hari Pepatah arab yang satu ini sangat terkenal, biasa dibawakan dalam pidato tentang pemuda, biasa pula disandingkan dengan More »

Gus Wahid dan Kecerdasannya

Wahid Hasyim yang akrab di sapa dengan Gus Wahid lahir pada hari jumat legi, tanggal 5 Rabiul Awal 1333 H bertepatan dengan 1 juni 1914 di Desa Tebuireng, Jombang Jawa Timur. Oleh ayahnya Hadratus Syeh K.H. Hasyim Asy’ari beliau diberi nama Muhammad Asy’ari, terambil dari nama neneknya. Karena di anggap nama tersebut tidak cocok dan berat maka namanya di ganti Abdul Wahid, pengambilan dari nama seorang datuknya. Namun ibunya kerap kali memanggil dengan nama Mudin. Sedangkan para santri dan masyarakat sekitar sering memanggil dengan sebutan Gus Wahid, sebuah panggilan yang kerap ditujukan untuk menyebut putra seorang Kyai di Jawa.

Wahid Hasyim berasal dari keluarga yang taat beragama, keluarga pesantrern yang berpegang erat pada tradisi.  Ia lahir, tumbuh dan dewasa dalam lingkungan pesantren. Ibunya bernama Nafiqah putri K.H. Ilyas pemimpin pesantren Sewulan di madiun. Garis keturunan ayah dan ibunya bertemu pada Lembu Peteng ( Brawijaya VI ), yaitu dari pihak ayah melalui Joko Tingkir ( Sultan Pajang  1569-1587 ) dan dari pihak ibu melalui Kiai Ageng Tarub I. Sejak usia 5 tahun ia belajar membaca Al Quran pada ayahnya setiap selesai sholat magrib dan dhuhur, sedang pada pagi hari ia belajar di Madrasah Slafiyah di dekat rumahnya. Dalam usia 7 tahun ia mulai mempelajari kitab Fath Al-Qarib ( kemenangan bagi yang dekat ) dan al-Minhaj al-Qawim ( jalan yang lurus ). Sejak kecil minat membacanya sangat tinggi, berbagai macam kitab di telaahnya. Ia sangat menggemari buku-buku kesusastraan Arab, khususnya buku Diwan asy-Syu’ara’ ( Kumpulan penyair dengan syair-syairnya ).[1]

Sejak kecil ia terkenal sebagai seorang anak yang pendiam, peramah dan pandai mengambil hati orang. Dikenal banyak orang sebagai orang yang gemar menolonh kawan, suka bergaul dengan tidak memandang bangsa, atau memilih agama, pangkat dan uang. Terlalu percaya pada kawan, suka berkorban, akan tetapi mudah tersinggung perasaannya dan mudah marah, akan tetapi dapat mengatasi kemarahannya. Ketika berusia 12 tahun Wahid Hasyim telah menamatkan studinya di Madrasah Salafiyah Tebuireng, lalu beliau belajar ke pondok Siwalan Panji, Sidoarjo, di pondok Kyai Hasyim bekas mertua ayahnya. Di sana ia belajar kitab-kitab Bidayah, Sullamut Taufik, Taqrib dan Tafsir Jalalain. Gurunya Kyai Hasyim sendiri dan Kyai Chozin Panji, namun ia hanya belajar dalam hitungan hari yaitu selama 25 hari tidak sebagaimana umumnya santri. Pengembaraan intelektual pesantrennya dilanjutkan di Pesantren Lirboyo, kediri, namun juga untuk beberapa . Setelah itu ia tidak meneruskan pengembaraannya ke pesantren lain, tetapi memilih tinggal di rumah  dan belajar secara otodidak dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Di dukung oleh tingkat kecerdasannya yang tinggi serta tingkat hafalannya yang kuat , dalam belajar ia tidak mengalami kesulitan. Mengenai hal ini Saifuddin Zuhri menuturkan :

“ Aku mendengar bahwa K.H. A. Wahid Hasyim dan Muhammad Ilyas     ketika masih sama-sama jadi santri di Tebuireng dahulu, bukan hanya      hafal seluruh bait-bait Alfiyah yang 1000 dengan arti maknanya, tetapi       juga mahir menghafalnya dari belakang ke muka. Padahal dari muka       ke        belakang saja bukan main sulitnya.”[2]

Bukti lagi kecerdasan dan kecemerlangan pikiran  K.H. A. Wahid Hasyim dikisahkan oleh Ahmad Syahri sebagai berikut :

“ Kyai Wahid mudah menghafal nama tamu-tamunya, apalagi para pemimpin NU di daerah-lazim disebut konsul-sebelum ada sebutan   pengurus wilayah dan cabang. Kecerdasannya juga terlihat dari cara            beliau belajar bahasa Asing. Serta menangkap alur bicara lawan      diskusinya,      sehingga bisa menanggapi dengan tajam .”[3]


[1] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam ( Jakarta : PT Ihtiar Baru Van Hoeve, 1994 ), 163.

[2] Ruchman Basori, Pesantren Modern Indonesia ( Jakarta :  PT Inceis cetakan ke dua, 2008), 64.

[3] Ibid., 65.

Tips Menelepon Gratis

PERHATIAN: Tips ini bisa mengakibatkan SIM diblokir jika tidak teliti menggunakan tips ini. oleh sebab itu ikuti langkah demi langkah dan jangan sampai tertipu.

Ini adalah trik yang bisa dicoba, hasil utak-atik sendiri waktu nganggur dibuan puasa ini. Tadi malam ga bisa tidur hingga jam 3 untuk memikirkan tips yang satu ini, tapi itu bukan masalah, bukankan “keberhasilan itu adalah hasil kerja keras?”. Itu yang menjadi motifasiku dan belum sampai waktu sahur akhirnya ada juga hasilnya.

Ini hanya memanfaatkan kelemahan sistem operasi ponsel dan operator seluler sehingga bisa main telepon dengan GRATIS, dimana saja, kemana saja, tanpa batas waktu, kecuali kuping dah sakit. Yang dibutuhkan adalah cuma beberapa menit untuk mempelajari tulisan ini dengan teliti sekaligus langsung mempraktekkannya ke ponselmu.

Denganmengucap bismillahirrahmanirrahimm

Langkah Pertama dimulai:

Ambil HP kamu, Catat spesifikasi ponsel dan operator yang digunakan antara lain :

  1. Merk (misal Nokia, Siemens,Motorola, dll)
  2. Jenis (misal 3210, M35, 3310,T18S)
  3. No IMEI (optional, tapi sebaiknyadicatat,kalau ada masalah)
  4. Catat Nomor Ponsel
  5. Catat juga Nomor untuk CEK SALDO.Percobaan ini menggunakan telkomsel sehingga nomor yang digunakan adalah 888tanpa bintang dan tanpa pagar

Langkah Kedua :

Siapkan segera no telpon yangakan dituju, serta amati kuat sinyal pada indikator. Sebaiknya sinyal padaposisi maksimum, artinya tidak boleh terlalu jauh dari base station, atau bila berada dalam ruangan tertutup, sebaiknya kamu keluar atau mencari tempat dimana sinyal diterima maksimal. Pastikan no telepon yang kamu tuju siap untukmenerima telepon, ini bisa kamu lakukan dengan menelepon, kemudian tutup (missed call). Bila sedang sibuk, tunggu sampai idle.

Langkah Ketiga :

Lakukan prosedur eksekusi berikut:

1.Tekan tombol bintang (*)

2.Tekan tombol angka konversi untuk merk Anda :

Nokia : 23

Motorola : 17

Ericsson : 45

Samsung : 19

Siemens : 20

Mereklain : 00

3.Tekan tombol seri ponsel, Misal:

NokiaN3210 = 3210

EricssonT10S = 10

EricssonA6188 = 6188

Jadi ambilangkanya saja.

4.Tekan tombol pagar (#)

5. Ikuti dengannomor telepon yang akan dituju

Format: *kode negara *kode CEK PULSA + no. telepon#

Sebagaicontoh, jika hp yang kita gunakan untuk menelpon adalah NOKIA N70 dan yang ditelepon nomernya AS 085248245423, maka harus ditekan: *23*70*62*888*085248245423#

6. Silahkan periksa sekali lagisebelum kita melakukan eksekusi terakhir.

Langkah Terakhir : Ini yang paling menentukan

Pastikan padalayar ponsel kamu tertera karakter dengan urutan yang benar!. Kesalahan penggunaan bisa menyebabkan kartu tidak berlaku lagi, dan saya tidak bertanggungjawab untuk hal tersebut. Jadi silakan periksa sekali lagi.

Sebelum menekan Enter atau Call, yang harus diperhatikan bahwa kamu HARUS segera mematikan ponsel pada hitungan antara detik ke-2 dan ke-3 Tidak boleh LEBIH dan tidak boleh KURANG! Kamu bisa melakukannya pada detik ke 2.1 atau 2.4 atau 2.7setelah penekanan tombol Call.

Sebaiknya siapkan jam tangan, lebih baik bila ada stopwatch-nya. Setelah itu, Alhamdulillah MANTABBE… kamu bisa bicara sepuasnya, maubeberapa jam, mau beberapa hari atau bahkan berbulan-bulan, mau berteriak sekerasnya, dijamin kamu tidak akan mengeluarkan biaya kecuali yang telah dijelaskan di atas.

Sebaiknya kamu berbicara jangan di depan  umum, karenaakan memalukan kamu sendiri. Kalau sudah puas atau sudah lelahberbicara, silakan nyalakan kembali ponsel kamu, siapa tahu ada orang yang serius mau menghubungi kamu. Kasihan dia, mau menelepon kamu tapi masuk kemailbox terus.

Sebuah Pemikiran Untuk Organisasi Alumni Al Falah

Kerinduan alumni dan eks terutama yang sudah beberapa tahun meninggalkan Al Falah semakin memuncak. Kerinduan ini tidak akan terobati jika hanya berkumpul dalam satu acara semisal reuni atau mengahadiri acara tahunan di pondok pesantren Al Falah. Perlu ada kegiatan yang menajadikan alumni dan eks akan merasakan kehangatan kebersamaan saat itu, kembali lagi.

Organisasi Alumni IKPF (Ikatan Keluarga Pesantren Al Falah) sudah kehilangn ruh kebesarannya, serta FOKSA (Forum Komunikasi Santri Al Falah) yang di anggap masih eksis pun dirasakan sebagain besar Alumni dan Eks masih kurang mengayomi alumni. Penilain sepintas mereka, FOKSA hanya untuk alumni yang berada di IAIN dan bukan diperuntukkan untuk yang lainnya, sehingga rasa enggan dan rasa tidak memiliki pun menjadi hal yang lumrah. Siapa yang salah? apakah kita yang kurang aktif jemput bola; mendukung, memantau, dan berperan aktif? atau kah kepengurusannya yang masih harus banyak belajar menjadi nahkoda?, tentu bukan saling menyalahkan yang kita inginkan. Yang kita butuhkan adalah gerakan… actions.

Sebagian alumni lain yang juga merindukan kebersamaan itu, mengusulkan untuk membentuk organisasi baru. Tentu ini bukan solusi yang tepat, dan malah akan menjadikan alumni tercerai berai, berpetak2, dan tentu kehangatan itu tidak akan terjadi lagi; hanya menjadi kenangan yang cukup diceritakan untuk cucu kita. Sebagian lain mengusulkan agar merombak habis-habisan FOKSA atau IKPF, dan maih banyak pendapat-pendapat lainnya.

Sepertinya kita perlu berdiskusi atas nama seluruh alumni dan eks untuk menentukan jalan mana yang lebih sedikit salahnya. Tidak masalah, pengurusnya siapa, alumni tahun berapa, posisi dimana, umurnya berapa, statusnya apa, dan sebagainya, yang penting punya program yang jelas mampu menggandeng seluruh lapisan alumni dan eks, sehingga bisa berjalan bersama; seia sekata.

Saya punya pemikiran, entah siapa yang menjalankannya nanti –mudah-mudahan FOKSA punya pemikiran yang sama–, yang jelas ini adalah sebuah pemikiran untuk menjawab kerinduan alumni dan eks Al Falah Banjarbaru. Sebelumnya, saya ingin bercerita. Saya punya organisasi alumni, eks, dan santri aktif tingkat daerah, tepatnya di Tanah Laut (IKBPA) yang sudah aktif melaksanakan kegiatan Safari Ramdhan Sejak sembilan tahun lalu dari desa kedesa dan melibatkan semua alumni, eks, dan santri aktif yang berdomisili di kabupaten tanah laut. Acara ini dilaksankan oleh santri aktif sebagai pembelajaran langsung dan dibimbing oleh alumni dan eks. Semua dengan kesadaran tinggi dari hati masing2 akan hadir pada acara penutupan sebagai bukti dukungan terhadap para jonior.

Maksud saya, alangkah besarnya FOKSA sebagai organisasi alumni dan eks jika mampu mengkoordinir pelaksanaan safari ramadhan ini di 13 kabupaten kota di kalimantan selatan tahun depan. Satu kabupaten cukup satu saja. Pelaksana lapangan adalah santri aktif yang bergerak atas nama organisasi daerah masing2. Pendanaan, surat-menyurat dan izin ditangani oleh FOKSA. Saya kira ini akan menjadi sumbangan terbaik bagi masyarakat yang selama ini belum merasakan manfaat pondok pesantren Al Falah secara lembaga. Sebagai langkah awal, untuk itu semua, mari kita kuatkan barisan. Satukan hati, tanpa merasa lebih rendah atau lebih tinggi dari yang lainnya, bergabunglah di JARINGAN AL FALAH INDONESIA.

JFI bukan organisasi tandingan, tetapi mendukung sepenuhnya kepada organisasi alumni yang telah ada untuk mengarahkan kami para alumni menjadi satu. Anda semua diundang untuk turut ambil bagian sebagai keluarga besar Al Falah; alumni, eks, dan santri aktif.

Iblis Masuk Syurga Lagi?

Tujuh Tahun aku memakan bangku dan kursi pondok serta menggerogoti selemari kitab kuning, ditambah 5 tahun masa kuliah di perguruan tinggi agama islam, berkecimpung didunia pendidikan dan pemikiran2 islam, rasanya tidak pantas untuk tidak bisa menjawab pertanyaan dari seorang anak kecil yang baru berusia 11 tahun dan duduk di kelas 6 SD. Tapi kenyataannya memang demikian, aku tidak bisa menjawabnya bahkan sampai saat ini.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering diluar dugaan, dan biasanya ku jawab seadanya yang kadang2 ga nyambung, skedar tidak ingin dikalahkan. Tapi kali ini aku memang tidak bisa menjawabnya sama sekali. Apa pertanyaannya?.

Iblis diusir dari Syurga, tapi mengapa bisa menggoda nabi adam dan hawa yang berada disyurga?. Ini menandakan Iblis bisa keluar masuk syurga seenaknya dan menggoda orang yang ada didalamnya.

Aku berpendapat Islam itu rasional bahkan dalam hal keimanan sekalipun,  makanya dalam Ilmu Tauhid dalil yang utama yang digunakan adalah dalil aqli baru dalil naqli. Untuk permasalahan ini pun pasti ada jawaban yang rasional, seperti pertanyaan-pertanyaan lain yang sudah terjawab semisal: mengapa iblis yang terbuat dari api dihukum dengan api pula.

Tulisan yang sama dengan judul yang berbeda pernah diposting pada Komunitas Blogger Al Falah; kontra24.org dan selah satu teman berpendapat:

Sewaktu iblis di usir dari surga, dia tidak bisa masuk kembali karena telah diusir, namun ada satu mahluk Allah SWT yang bisa masuk dan keluar dari surga, yaitu ular yang mempunyai kaki. Setelah iblis berpikir – pikir, maka ia mendapatkan sebuah cara untuk menggoda Nabi Adam as dan Hawa melalui ular berkaki tersebut.
Awalnya iblis menggoda ular tersebut entah dengan iming – iming apa, yang jelas ular itu mau dan masuk kembali ke surga untuk menggoda Nabi Adam as,namun karena iman Nabi Adam yang kuat, maka ular itu menyerah,tapi tak hanya Nabi Adam as saja yang digoda, lalu ular berkaki tadi menuju kepada Hawa,karena laki – laki akan lemah oleh perempuan, apa lag yang disayang.
Karena Hawa termakan bujuk rayu ular yang disuruh iblis tadi,maka apa bleh buat, dia juga mengajak Nabi Adam as untuk memakan buah khuldi,awalnya yah Nabi Adam as tidak mau,hingga yang ketiga kalinya, Nabi Adam as mau menuruti ajakan istrinya. Karena Mereka berdua makan buah itu,maka malaikat datang dan langsung memegangi gulu Nabi Adam as sebelum buah itu jatuh ke perut,dan jadi deh jakun,begitu pula Hawa,berhubung Dia sudah duluan makan, jadinya sudah sampai dada,yah jadinya tuh gunung dua.
setelah itu maka mereka berdua pun diturunkan ke dunia,yah sampai kita ketahui kisahnya. Lalu bagaimana dengan ular berkaki?,ular tersebut dikutuk oleh Allah SWT karena membantu iblis menggoda Nabi Adam as, yaitu kakinya dihilangkan, sehingga ular tersebut tidak memiliki kaki seperti apa yang kita lihat pada masa kini.

Hanya ini yang agak sedikit bisa menjawab, setidaknya jawaban ini bisa dipergunakan untuk anak kecil dan bukan dikalangan akademis. Pada tulisan kali ini, yang punya jawaban lain, komen di bawah.

Khutbah Nikah

خطبة النّكاح

الحمد لله الّذي خلق من الماء بشرا، فجعله نسبا وصهرا، خلق آدم ثمّ خلق زوجه حوّاء  من ضلع من أضلاعه اليسرى.

فلمّا سكن إليها قالت الملائكة مه يا آدم حتى تؤدّي لها مهرا. قال وما مهرها قالوا أن تصلّي على محمّد خاتم الأنبياء وإمام المرسلين. فوفّى المهر وخطب الأمين جبريل عليه السّلام وزوّجها له على ذالك الملك القدّوس السّلام. وشهد إسرافيل وميكائيل وبعض المقرّبين بدار السّلام فصار ذالك سنّة أولاده على تعاقب السنين . أحمده أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا إليها وجعل بينكم مودّة ورحمة. وأشكره أن جعلكم شعوبا وقبائل بالتناسل الذي هو أصل كلّ نعمة. وأشهد أن لا إله إلاّ الله مبدع نظام العالم على أكمل حكمة. لا إله إلاّ هو تبارك الله ربّ العالمين. وأشهد أنّ سيّدنا محمّدا رسول الله حبيب الرحمن ومجتباه القائل: حبّب إليّ من دنياكم النّساء والطّيب وجعلت قرّة عيني في الصّلاة . وقال يا معشر الشباب، من استطاع منكم الباءة فليتزوّج. فطوبى لمن أقرّ بذالك عين رسول الله صلّى الله عليه وسلّم وعلى آله وصحبه أجمعين. أمّا بعد. فإنّ النّكاح من السّنن المرغوبة التي عليها مدار الإستقامة، إذ من تزوّج فقد كمل نصف دينه كما أخبر بذالك الحبيب المبعوث من تهامة. وقال: تناكحوا تناسلوا فإنّي مباه بكم الأمم يوم القيامة. وقد حثّ عليه المنّان بقوله وأنكحوا الأيامى منكم والصالحين. وهذا عقدمبارك ميمون واجتماع على حصول خير يكون. إن شاء الله الذي إذا أراد شيئا أن يقول له كن فيكون. أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولوالديّ ولوالديكم ولمشايخي ومشايخكم ولسائر المسلمين فاستغفروه إنّه هو الغفور الرّحيم. أستغفر الله العظيم الذي لا إله إلاّ هو الحيّ القيّوم وأتوب إليه 3 X أشهد أن لا إله إلاّ الله وأشهد أنّ محمّدا رسول الله.

كاسوسون دينيغ: كياهي بشري مصطفى

I`rab La Ilaha Illa Allah Dalam Bahasa Arab

إعراب لا إله إلا الله

تحقيق د/ حسن موسى الشاعر

تأليف ابن هشـام الأنصـاري

أستاذ مشارك بكلية اللغة العربية

مقدمة

لقد صنف علماؤنا القدامى كثيرا من الرسائل في بيان معنى لا إله إلا اللّه وفي إعرابها. وقد اطلعت في مكتبة عارف حكمت بالمدينة المنورة على عدد من الرسائل المخطوطة في ذلك، وهي:

- رسالة في إعراب لا إله إلا اللّه. لابن هشام الأنصاري. المتوفى سنة 761 هـ.

- رسالة في إعراب لا إله إلا اللّه. للزركشي المتوفى سنة 794هـ.

- رسالة في إعراب لا إله إلا الله. وتسمى التجريد في إعراب كلمة التوحيد لمصنفها علي بن سلطان القاري. المتوفى سنة 1014هـ.

- إنباه الأنباه على تحقيق إعراب لا إله إلا اللّه، لمصنفها إبراهيم بن حسن الكوراني، المتوفى سنة 1101هـ.

ولم يطبع من هذه الرسائل- فيما أعلم- سوى رسالة واحدة بعنوان “معنى لا إله إلا الله”للإمام الزركشي.

وهذه رسالة أخرى أقـوم بتحقيقها في إعراب لا إله إلا الله، منسوبة إلى ابن هشام الأنصاري، اطلعت عليها في قسم المخطوطات بمكتبة عارف حكمت، فرأيتها تشتمل على فوائد قيّمة وتوجيهات عديدة لم أجدها في غيرها من المصنفات. وهذا ما دعاني إلى الاهتمام بها وتحقيقها، على الرغم من أنها نسخة فريدة.

وقد عانيت كثيراً في إقامة النص، وتقويم العبارات المضطربة، وشرح الوجوه المختلفة، ونسبة الآراء إلى أصحابها. ولا أدّعي الكمال في ذلك، وحسبي أنني بذلت جهدي.

واللّه أسأل أن يوفقنا ويسدد خطانا، ويهدينا سواء السبيل، والحمد للّه رب العالمين.

ابن هشام الأنصـاري

هو أبو محمد عبد اللّه بن يوسف بن أحمد بن عبد الله بن هشام الأنصاري جمال الدين المشهور بابن هشام  [1] .

ولد في القاهرة خامس ذي القعدة سنة 708 هـ، وتلقّى على عدد من علماء عصره، حتى فاق أقرانه، وتخرج به جماعة من أهل مصر وغيرهم.

قالت ابن خلدون: “ما زلنا ونحن بالمغرب نسمع أنه ظهر بمصر عالم بالعربية يقال له ابن هشام أنحى من سيبويه”.

وقد ترك ابن هشام عددا من المصنفات ما بين مطبوع ومخطوط ومفقود، ومن أشهر مصنفاته: مغني اللبيب عن كتب الأعاريب، أوضح المسالك إلى ألفية ابن مالك، شرح شذور الذهب، شرح قطر الندى، شرح اللمحة البدرية، التذكرة.

وقد توفي ابن هشام ليلة الجمعة خامس ذي القعدة سنة 1 6 7 هـ. رحمه اللّه.

نسبة هذه الرسالة إلى ابن هشام:

اطلعت على هذه الرسالة، منسوبة إلى ابن هشام، في مخطوطة فريدة، بمكتبة عارف حكمت، برقم (88) مجاميع. وقد ورد في هذه المخطوطة نسبتها إلى ابن هشام مرتين، مرة في العنوان، ومرة في مقدمة الرسالة.

ولم أجد أحدا ممن ترجم لابن هشام ذكر له هذه الرسالة، ولم أعثر على نسخة أخرى تؤكد نسبتها إليه.

ولكّن الدكتور علي فودة نيل يؤكد نسبتها إلى ابن هشام للأسباب التالية: (ملخصة):

1- أن ما جاء في مقدمتها من قول المؤلف “أما بعد حمد اللّه…”هو المألوف في تقديم معظم مصنفاته.

2- أن منهج التأليف في هذه الرسالة من العرض الشامل للآراء المختلفة ومناقشتها لبيان الراجح والمرجوح شبيه بمنهج ابن هشام.

3- أن بعض ما ذكر في هذه الرسالة من آراء مذكور في كتاب المغني.

4- أن الاعتـداد في هذه الرسالة بآراء بعض العلماء السابقين، كابن عمرون، ملحوظ في بعض رسائل أُخر لابن هشام  [2] .

ومما يقوي نسبتها إلى ابن هشام أنها ضمن مجموعة من الرسائل مكتوبة بخط عالم مشهور، هو العلامة محمد بن أحمد بن علي البهوتي الشهير بالخلوتي، وهو فقيه حنبلي مصري توفي سنة 1088 هـ  [3] .

وعلى الرغم من قوة الأسباب التي تنسب هذه الرسالة إلى ابن هشام، فإنّي لست على ثقة من نسبتها إليه، ومما رابني في ذلك أمور، منها:

1- أن هذه الرسالة لم ترد في مصنفات ابن هشام، ولم يذكرها أحد ممّن ترجم له.

2- أن هذه الرسالة تشير إلى علاقة طيبة بين مصنفها وأبي حيان النحوي الأندلسي المشهور. فقد قال فيها المصنف: “وكنت عرضت هذا النظر على شيخنا أبي حيان، فقال…”.

ومن المعروف أن ابن هشام لم يكن على وفاق مع أبي حيان، بل كان كثير المخالفة له، شديد الانحراف عنه  [4] .

ومهما يكن من أمر فستبقى هذه الرسالة تذكر لابن هشام حتى يثبت خلاف ذلك بأدّلة قاطعة. واللّه أعلم.

موضوع الرسالـة

هذه رسالة قيّمة تكتسب قيمتها من أهمية الموضوع الذي تعالجه، وهو إعراب الاسم الواقع بعد إلا من كلمة التوحيد، في قولنا: “لا إله إلا اللّه”.

وقد ذكر المصنّف في هذه الرسالة جواز الرفع والنصب في الاسم الواقع بعد “إلا”من كلمة التوحيد، فقال: يجوز الرفع فيما بعد إلا والنصب. والأول أكثر، نص على ذلك جماعة منهم العلامة ابن عمرون في شرحه على المفصّل. وظاهر كلام ابن عصفور والأبذيَ يقتضي أن النصب على الاستثناء أفصح، أو مساو للرفع على بعض الوجوه…

وقـد فصّـل المصنّف كثيرا في بيان أوجه الرفع والنصب، مع المناقشة والاستدلال والترجيح، فذكر للرفع ستة أوجه وللنصب وجهين. وهذا موجز للأوجه المختلفة:

فأما الرفع فمن ستة أوجه، وهي:

1- أن خبر “لا”محذوف، و”إلا الله”بدل من  موضع لامع اسمها، أو من موضع اسمها قبل دخولها. وهذا هو الإعراب المشهور لدى المتقدمين وأكثر المتأخرين.

2- أن خبر لا محذوف، كـما سبق، والإبدال من الضمـير المستكن فيه. وهـذا الإعراب اختاره بعض.

3- أن الخبر محذوف أيضا، و”إلا اللّه “صفة لـ “إله”على الموضع، أي موضع لا مع اسمها، أو موضع اسمها قبل دخول “لا”.

4- أن يكون الاستثناء مفزعا، و”إله”اسم “لا”بني معها، و”إلا اللّه”الخبر. وهذا الإعراب منقول عن الشلوبين، ونقله ابن عمرون عن الزمخشري.

5- أن “لا إله”في موضع الخبر، و”إلا اللّه”في موضع المبتدأ. وهذا الإعراب منسوب للزمخشري.

6- أن تكـون “لا”مبنية مع اسمهـا، و”إلا الله”مرفوع بـ “إلـه”ارتفاع الاسم بالصفة، واستغني بالمرفوع عن الخبر، كـما في مسألة: ما مضروبٌ الزّيدان، وما قائِمٌ العَمْران.

وأما نصب ما بعد “إلا”فمن وجهـين:

1- أن يكون على الاستثناء، إذا قدر الخبر محذوفا، أي لا إله في الوجود إلا اللّه عز وجل.

2- أن يكون الخبر محذوفا، كـما سبق، و”إلا اللّه” صفة لاسم “لا”على اللفظ، أو على الموضع بعد دخول “لا”لأن موضعه النصب.

ثم ختم المصنف الرسالة بقوله: وقد تلخّـص في “لا إله إلا اللّه”عشرة أوجه، غير أن في البدل من الموضع إما من موضع اسم لا قبل الدخول، وإما من لا مع اسمها، فيتقدر سبعة. والنصب من وجهين إلا أن في وجه الصفة إما أنه صفة للفظ اسم لا إجراء لحركة البناء مجرى حركة الإِعراب، وإما أن يكون صفة لموضعه بعد دخول لا، فيتقدر ثلاثة مع السبعة، فتلك عشرة كاملة. والذي في كلام ابن عصفور من ذلك أربعة أوجه، وهو أكثر من وسع في إلا من الأوجه…

دراسة للاسم الواقع بعد إلاّ في الشواهد اللغوية

بعد الفراغ من تحقيق هذه الرسالة، قمت بدراسة وصفية، تتبعت فيها ما أمكن من الشواهد اللغوية لحالات الاسم الواقع بعد إلا، في نصوص القرآن الكَريم والحديث النبوي والشعـر العربي التي جاءت على نمط “لا إله إلا الله”، للمقارنة بين الواقع اللغوي لهذه النصوص، وما ورد في هذه الرسالة من جواز الرفع والنصب، فكانت النتيجة أن رفع الاسم الواقع بعد إلا هو الفصيح الغالب في اللغة، بل لم يرد في القرآن الكَريم والحديث النبوي غيره، وأما النصب فقد ورد في بعض الأبيات الشعرية على قلّة.

وقد جاءت الدراسة على النحو التالي:

(1) في القرآن الكريم : تتبعت الآيات القرآنية التي وردت فيها “لا إله إلا الله”أو ما كان على وفق هذا الأسلوب، فوجدتها كلها جاءت برفع الاسم الواقـع بعد “إلا”، ولم تأت قراءة واحدة، ولو شاذة؟ بالنصب.

وهذه هي الآيات مع السور التي وردت فيها في القرآن الكريم:

أ- {لا إِلَهَ إِلاَّ اللَّه} : الصافات (35)، محمد (19).

ب- {لا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ} : البقرة (163 ، 255)، آل عمران (2، 6، 8 1)، النسا ء (87) والأنعـام (102 ، 106)، الأعراف (158)، التوبـة (31، 129)، هود (14)، الرعد (30)، طه (8، 98)، المـؤمنـون (116)، الـنـمـل (26)، القصص (0 7، 88)، فاطر (3)، الزمر (6)، غافر (3، 62، 65)، الدخان (8)، ا لحشر (22، 23)، التغابن (13)، المزمل (9).

جـ_ {لا إِلَهَ إِلاَّ أَنَا} : النحل (2)، طه (14)، الأنبياء (25).

د- {لا إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ} : الأنبياء (87).

هـ _ {فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ} : الأنعام (17)، يونس (107).

ق قال أبو جعفر النحاس في قوله تعالى: {اللَّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ}  [5] : ويجوز في غير القرآن: لا إله إلا إياه، نصب على الاستثناء  [6] .

وكرر هذه العبارة بعينها القرطبي عند حديثه عن هذه الآية  [7] .

وقال الزجاج  [8] : ولو قيل: لا رجل عندك إلا زيداً جاز. ولا إله إلا اللّهَ جاز. ولكن الأجود ما في القرآن، وهو أجود أيضا في الكلام. قال اللّه عز وجل: {إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ}  [9] . فإذا نصبت بعد إلا فإنما نصبت على الاستثناء.

(2) في الحديث النبـوي:

وردت كلمة الشهادة (لا إله إلا اللّه) في مواضع كثيرة من الحديث، وجاءت كلها بالرفع، ومن ذلك:

أ- في صحيح البخاري، ومعه فتح الباري (1/103)، (129).

ب- في صحيح مسلم بشرح النووي (1/ 183)، (188)، (197)، (206).

جـ- ومن ذلك قوله صلى الله عليه وسلم: “لا صلاة بعد الإِقامة إلا المكتوبة”.

قال أبو البقاء العكـبري  [10] : الوجه هو الرفع على البدل من موضع لا، والنصب ضعيف، وقد بين ذلك في مسائل النحو، ومثل ذلك: لا إله إلا اللّه.

د- وقوله صلى الله عليه وسلم: “لا شفاءَ إلا شفاؤك”.

قال العكبري  [11] : “شفاؤك”مرفوع بدلا من موضع “لا شفاء”ومثله لا إله إلا اللّه.

(3) في الشـعر:

أ- قال الشنفري في لا ميّته:

نصـبـت له وجـهـي ولا كِنّ دُونَـهُ        ولا سترَ إلا الأتْحَمِـيُّ المُـرَعْـبَـلُ  [12]

قال الزمخشري  [13] : “كّن”مبنية مع لا لتضمنها معنى من المقدرة بعد لا. ودونه: في موضـع رفـع، أي لا كنّ استقر دونـه، وهو خبر لا… والأتحمي: بدل من موضع لا واسمها، لأن موضعهما رفع على أنه مبتدأ. وهو مثل قولنا (لا إله إلا اللّه)، كأنه قال: اللّه الإله.

وقال أبو البقاء  [14] : الأتحمي: بدل من موضع لا واسمها. لأن موضعها رفع، ومثله قولنا (لا إله إلا اللّه).

ب- وقال الشاعرِ:

إلاّ الضَّـوابِـحَ والأصْـداءَ والبُـومـا  [15]           مَهـامِـهـاً وخروقـاَ لا أَنـيسَ بها

جـ- وقال آخـر:

أمـرتـكـمُ أمـري بمُنـعَـرجِ الـلّوي       ولا أَمْـرَ لِلْمَـعصيِّ إلاّ مُضَـيَّعـاَ  [16]

هذان البيتان استشهِـد بهما الرضي  [17] على أن النصب بعد إلا فيهما قليل، كـما في قولك: لا أحد فيها إلا زيداَ.

واستشهد سيبـويه بالبيت الثاني منهـما على أن “مضيعـا”نصب على الحال. قال سيبويه  [18] كأنه قال: للمعصي أمرٌ مُضَيَّعاَ. كـما جاء: فيها رجلٌ قائماً. وهذا قول الخليل رحمه اللّه. وقد يكون أيضاً على قوله: لا أحد فيها إلا زيداً.

قال ابن السيرافي  [19] : يريد أن “مضـيَّعا”قد ينتصب أيضا على غير وجه الحال، على أن يكون مستثنى من “أمر”في قوله “ولا أمر”، كـما استثني زيد من رجل، في قوله: لا رجل فيها إلا زيدا. وكأنه قال: ولا أثر للمعصي إلا أمراً مُضيعا، فحذف المنعوت وقام النعت مقامه.

و وقوال الأعلم  [20] (1): ونصف “مضيعا”على وجهين: أجودهما الحال، وحرف الاستثناء قد يدخـل بسم الحـال وصاحبها… والوجه الآخر أنه نصب على الاستثناء بعد النفي، والوجه البدل من موضع لا، كـما أن الرفع على البدل من موضع لا في (لا إله إلا اللَّهُ) أقوى من النصب بالاستثناء.

نسخـة الرسالـة الخطيـة

لهذه الرسالة نسخة خطية فريدة تقع في اثنتي عشرة صفحة، ضمن مجموع يضم 15 رسالة بمكتبة عارف حكـمت برقم 88 مجاميع. وهي الرسالة التاسعة في المجموع، وتقع من ورقة 29- 34. وقد كـتبت بخط نسخي عادي، بخط العلامة محمد بن أحمد بن علي البهوتي الحنبلي الشهير بالخلوتي. وفي الصفحة نحو 27 سطرا وفي السطر 10 كـلمات تقريبا.

وقد ورد في آخر الرسالة الأولى ورقة 3: وعلقه لنفسه أفقر العباد، وأحوجهم إلى عفو ربه العلي محمد بن أحمد البهوتي الحنبلي، في يوم الجمعة المبارك ثاني عشر ذي القعدة من شهور سنة 1038 من الهجرة النبوية.

والنسخـة كاملة واضحة، ولكنها لا تخلو من التحريف والاضطراب والغموض في بعض المواضيع.

وقـد عملت على خدمـة النصر وضبطه وتوثيق محا شيه، والتعليق عليه، ما أمكن، لتوضيح الجوانب الدقيقة لكل مسألة.

وباللّه التوفيق، والحمد للّه أولا وآخرا.

بسم اللّه الرحمن الرحيم

وبه ثقـتي

قال الشيخ العلامة جمال الدين [ عبد الله بن]  [21] يوسف بن هشام الأنصاري، رحمه اللّه تعالى، ونفعنا بتحقيقاته:

أما بعد حمد اللّه، والصلاة على رسوله محـمّد، صلى الله عليه وسلم، فهذه رسالة كـتبتها في إعراب لا إله إلا الله  [22] سألني في وضعها بعض الأصحاب، فأجبته مستمداً من الكريم الوهاب.

[جواز الرفع والنصب في الاسم الواقع بعد إلاّ]:

يجوز الرفع فيما بعد إلا، والنصب. والأوّل أكثر  [23] .

نص على ذلك جماعة منهم العلاّمة محمد بن [محمد]بن عمرون  [24] في شرحه على المفصّل. وظاهر كلام ابن عصفـور  [25] والأبـذي  [26] يقتضي أن النصب على الاستثناء أفصح  [27] ، أو مساو للرفع على بعض الوجوه، كـما سيأتي تقريره.

[أوجـه الرفـع]:

فأما الرفع فمن ستة أوجه:

أولهـا: أن خبر “لا”محذوف، و”إلاّ  اللّه”بدل من موضع لا مع اسمها، أو من موضع اسمها قبل دخولها. وقع للنحويين الحَمْلان.

وهـذا الإِعراب مشهـور في كلام جماعة من أكابر هذه الصناعة، قيل أطبق عليه المعربون من المتقدمين وأكثر المتأخرين  [28] .

قلت: وقد استشكل من قاعدة أن البدل لا بد أن يصحّ إحلاله في محل المبدل منه،  وهو على نيِّة تكرار العامل. ولا يصحّ تكرار “لا”لو قلت: إلا عبد الله في قولك: لا أحد فيها إلا عبد الله. لم يجزْ.

وأجاب الشلوبين  [29]  بأن هذا في معنى، ما فيها من أحدٍ إلاّ عبدُ اللّه، ويمكنك في هذا الإحلال  [30] .

قال ابن عصفور، رحمه اللّه تعالى: وهذا الإشكال لا يتقرر، لأنه لا يلزم أن يحلّ “أحد”الواقع بعد إلاّ، إنـما يلزم تقدير العامل في المبدل منه، والعامل في المبدل منه الابتداء، فإذا أبدلت منه كان

مبتدأ، وخبره محذوف. والتقدير في “لا أحد فيها إلاّ عبد الله: لا فيها [ أحدٌ] إلا عبدُ الله  [31] .

وهذا فيه تأمل يظهر بما ذكره النحويون، في مسألة (ما زيدٌ بشيءٍ إلا شيءٌ لا يعبأ به) من أن “إلاّ شيء”بالرفع لا غير على اللغتين  [32] .

أما عند بني تميم فلأنّ (بشيء) في محل رفع، وتعذّر حمله على اللفظ  [33] لأن الباء لا تزاد في الإيجاب.

وأمـا عنـد أهل الحجاز فلأنهم وإن أعملوا ما، و”بشيء”في محل نصب عندهم، فإعمالها مشروط بعدم انتقاض النفي. فـما بعد “إلا”لا يمكن تقدير عملها فيه، والبدل على نية التكرار، ولذلك قال سيبويه  [34] : وتستوي اللغتان  [35] .

وقد زعم ابن خروف  [36] أن مراده بالاستواء فيما قبل إلاّ وفيما بعدها من المستثنى والمستثنى منه.

قال ابن الضائع  [37] : “وغلط الأستاذ أبو علي  [38] في النقل عنه، فنقل الاستواء فيما بعد إلاّ، لا فيما بعد المجرور، حتى يرد عليه بأنه لا يجوز بدلا مرفوع من منصوب”.

قال ابن الضائع: وعِندي أن القياس أن يبقوا على لغتهم في المجرور، وإلا كان يلزم الرفع في قولنا: ما زيدٌ قائـماَ بل قاعدٌ ، وكذا في لكنْ. ولم ينقل عن الحجازيين رجوعهم إلى اللغة التميمية في ذلك. وإنـما نقل عنهم الرفع فيما بعد بل ولكن على جهة الابتداء.  [39] فهاهنا ينبغي أن يرجع فيما بعد “إلا”على النصب على الاستثناء. فقول سيبويه: استوت اللغتان في الرفع، ينبغي أن يحمل على ما بعد إلاّ. ولا حجة لهم في قول سيبويه: وصارت “ما”على أقيس اللغتين  [40] ، فإنه يمكن حمله على ما بعد إلاّ، كما قالوا في: ما زيد إلا منطلق، رجعوا إلى اللغة التميمية.

ويقوّى أنه يريد ما بعد إلاّ، تقديره وقوله: كأنك قلت: ما زيد إلا شيء لا يعبأ به  [41] .

وقـول الأستـاذ “لا يبـدل مرفوع من منصوب”، جوابه أن البدل هنا بالحمل على المعنى  [42] . فإن الشرط في البـدل تقدير تكرار العامل، فإن العامل يتكرر على أن البدل مرفوع. ويظهر البدل هنا في أنه لا يعمل فيه اللفظ المتقدم العامل في المبدل منه، بل الابتداء قولهم “لا إله إلا اللّه”، ألا ترى أنه بدل على تقدير مالنا أو ما في الوجود. ولا يجوز تقدير لا في الوجود إلا اللّه، لأن “لا”لا تلغى إلا مكررة  [43] . وكذا البدل هنا على تقدير: ما زيد إلا شيء. وكأن “ما”لها عملان، عمل فيما بعد إلا وهو الرفع، وعمل فيما قبلها وهو النصب، فترك الأول على أحد العملين، وحمل الثاني، وهو ما بعد إلا، على العمل الآخر. انتهى  [44] .

وفي كلامه نظران:

الأول: قوله “ولا يجوز تقدير لا في الوجود إلا اللّه “ليس معنا في اللفظ إلاّ “لا” واحدة وهي عاملة. نعم إذا أعربناه على ما سبق بدلا نوينا تكرار لا، وانتفى عمل تلك المقدرة بالدخول على المعرفة. ومن أين لزوم التكرار لتلك المقدّرة. ولو قيل إنها تكررت في الجملة كان كافيا في جوابه.

الثاني : جعله باب “لا إله إلا اللّه “وباب “ما زيدٌ بشيءٍ إلا شيء”سواء. ولقائل أن يقول بينهما فرق، بأن “اللّه “مرفوع بدلا من منصوب.

وقد يعتذر له عن الثاني بأن “إلا اللّه “بدل من موضع اسم لا، لا من “لا”مع اسمهـا  [45] . بل لا يفتقر إلى ذلك جميعه، فإن العامل المقدر مع البدل هو الابتداء، وهو صالح للعمل في البدل والمبدل منه، كـما تقدم في كلام ابن عصفور.

وقد رأيت في المجد المؤثل مما كتبته على المفصّل  [46] أن الرفع في “ما زيد بشيء إلا شيء”يحتمل  [47] ثلاثة أوجه: إما البدل من جهة المعنى كـما سبق، وإما على موضع “بشيء” قبل دخول “ما”، و إما على أن الرفع في الثاني هو الرفع في الأول، لو اتصف الأول بصفته من الإِثبات. وشبهت ذلك بمسألة التنزيل في توريث ذوي الأرحام في الفرائض  [48] ، أي إعطاء الذكر ما للأنثى التي أدلى بها  [49] ، وبالعكس، مع مراعاة العدد منه نفسه، فليتأمل.

ثانيها: أن خبر “لا”محذوف، كـما سبق، والإبدال من الضمير المستكن فيه. وهذا لا كلفة فيه، واختاره بعض المتأخرين  [50] .

ثالثها: أن الخبر محذوف كـما سبق، و”إلا اللّه “صفة لإله على الموضع  [51] ، أي موضع لا مع اسمها، أو موضع اسمها قبل دخول “لا”.

ولا يستنكرون وقوع “إلا” صفة  [52] ، فقد جاء {لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلاَّ اللَّهُ لَفَسَدَتَا}  [53] . ويصير المعنى: لا إلهَ غير اللّه في الوجود. وقد جاء {مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ}  [54] بالوصف، لكنّ الخبر المحذوف قدّره بعضهم “في الوجود”، وقدّره بعضهم “كائن”، وبعضهم “لنا”.

قيل والتقديران الأولان أولى من حيث كونه أدل على التوحيد المطلق من غير تقييد. ولذلك جاء {وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ} وأعقب بقوله {لا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ}  [55] .

وقد يقال إذا قدِّر “لنا”فالمراد لنا أيها العالَم الذي هو كل موجود سوى اللّه عز وجل، فاتحدت التقادير  [56] .

وقـد ردّ الإمـام فخر الدين  [57] على من قدر الخبر “في الوجود”لأن هذا النفي عام

مستغرق، فتقييده بالوجود مخصص، فلا يبقى النفي على عمومه المراد منه، فلا يكون هذا إقرارا بالوحدانية على الإطلاق  [58] .

قال الأنـدلسي  [59] : “لا إلـه حقيقة إلا من له الخلق والأمر، لابد أن يكون موجودا فينعكس بعكس النقيض فـما ليس موجودا ليس بإله. والمراد بقوله “في الوجود”مسمى الوجود الصادق على العيني والذهني، فنفي الإله عن الوجود نفي لحقيقته”.

وفي ريّ الظمآن  [60] : “لا يتصور نفي الماهية عندنا إلا مع الوجود. هذا مذهب أهل السنة، خلافا للمعتزلة فإنهم يثبتون الماهية عارية عن الوجود، والدليل يأبى ذلك”.

رابعها: أن يكون الاستثناء مفرغا  [61] ، و”إله “اسم “لا”بني معها، و”إلاّ اللّه “الخبر  [62] .

و هذا منقول عن الشلوبيـن فيما علّقه على المفصل، ونقله عن الزمخشري  [63] في حواشيه ابن عمرون، وإن كـان في المفصل قال غيره، وذهب إلى أن الخبر محذوف  [64] .

ومقتضى كلام ابن خروف، على ما نقله عنه ابن الضائع قول الشاعر:

ألا طعـان ألا فُرسـانَ عاديةً        ألا تجشّـؤُكم حوَلْ الـتـنَّـانـير  [65]

من أنه أعرب ( إلاّ تجشؤكم) خبر لا، لكن ردّه عليه بوجهين، أحدهما: أن “لا”لا تعمل في الموجب. الثاني: أنها لا تعمل في الموجب مع المعرفة، وهما لازمان لإعراب “إلاّ اللّه “خبرا.

وفي الوجهين نظر، لأنّ “لا “عند سيبويه وجمهور البصريين  [66] لا عمل لها في الخبر إذا بني الاسم معها.وقولك لا رَجُلَ حاضرٌ، بمثابة: هل مِنْ رجلٍ حاضر؟ الجواب كالسؤال.

واستدل لذلك ابن عصفور في شرحه للإيضاح بجواز حمل جميع التوابع لاسمها على الموضع قبل الخبر.

والقائل إن “لا”ترفع الخبر الأخفش  [67] وتابعوه.

وبنى ابن عصفـور على الاختلاف جواز: لا رجـلَ ولا امرأة قائـمان. على القول

الأول، وامتناعه علىَ الثاني  [68] . مع أن كلام أبي البقاء  [69] في اللباب، وابن يعيش  [70] في شرح المفصل ما يوهم أن خلاف سيبويه والأخفش في “لا”مطلقا المبني معها الاسم والمعرب، حيث عللا مذهب سيبويه بضعف عمل لا.

ولكن ابن مالك  [71] في التسهيل  [72] نقل الاتفاق على عمل “لا”في الخبر إذا كان اسمها معربا، واختار قوله الأخفش فيما إذا بني الاسم معها.

ورتب أبو البقاء على الخلاف أن قوله الشاعر:

فلا  لَغْـوٌ   ولا    تأثـيم    فيهـا ومـا  فاهـوا به   أبداً   مُقـيم  [73]

لا يحتاج إلى تقدير “فيها”عند سيبويه، بل الثابت “فيها”خـبر الاثنين، ويحتاج لتقدير “فيها”أخرى عند سيبويه في أحد قوليه، وعند الأخفش.

وكنت عرضت هذا النظر على شيخنا أبي حيان  [74] فقال: كلام ابن الضائع محمول على مذهب من يرى أنها عاملة في الخبر مطلقا. ثم اعترض عليه من وجه آخر، وهو أنه يلزم أن تعمل “لا”  [75] في المعرفة. وهذا إن تم به الاعتراض على الأخفش فسيبويه سالم منه، حيث يقول إن “لا”لا عمل لها في الخبر.

على أن ابن عمرون حين نقل هذا الإِعراب عن الزمخشري في الحواشي، ردّه بأن المعرفة لا تكون خبراً عن النكرة. فيقال له هذا لا يضر سيبويه إذا كان مع النكرة ما يسوغ الإخبار عنها، وهي متقدمة على المعرفة حفظا للأصول، وقد أعرب: كم جربيا أرضك؟  [76] مبتدأ مقدما وخبرا مؤخرا.

على أن ما ذكره ابن الضائع من أن “لا”لا تعمل في الموجب، قد يقال فيه إن تلك “لا”العاملة عمل ليس، من حيث إنها إنـما عملت للشبه بليس من جهة النفي، فإذا زال النفي زال الشبه فزال العمل. أما لا النافية للجنس فعملها إنـما هو بالحمل على إن، وهي للإثبات.

وقد قال العطار  [77] في شرح الكراسة: إذا قلت “لا فيها رجل”رفعت على الابتداء لا غير، لأنه لا يتقدم خبر “ما”الحجازية، يعني “لا”العاملة عمل ليس. وإلا فالعاملة عمل إنّ امتناع التقديم فيها لأجل تركبها مع لا. وإن حملت كلامه على الإِطلاق، فالكلام معه كالكلام مع ابن الضائع.

وقد ردّ ابن الحاجب  [78] على من جعل “إلا اللّه “خبرا. وسبق  [79] إلى ذلك الأندلسي، قال: لأنه مستثنى من الاسم، ولا يجوز أن يكون المستثنى خبرا عن المستثنى منه، لأنه مبين له  [80] . ويمكن أن يقال لا نسلّم أن الاستثناء إخراج من المحكوم عليه بل من الحكـم. سلّمنا أنه إخراج من المحكوم عليه، لكن المستثنى منه المحكوم عليه ليس اسم “لا”الذي أخبر عنه بـ “إلا اللّه”، إلا أنه حذف لقصد التفريغ وأقيم المستثنى مقامه، وأعرب بإعرابه.

وهـذا فرق ما بين الأقـوال السـابقة. وهذا حيث جعلنا الاستثناء فيها تاما، وهنا مفـرغا، مع أن الخبر وهو “موجود”فيهما محذوف. إلا أن ذلك حذف لمحذوف محكوم  له بحكم الثابت، وهذا فيه حذف لمحذوف معرض عنه في الإعراب.

وقد ردّ أبو البقاء العكـبري هذا الإعراب أيضا في شرح الخطب النباتية، بأنه يلزم منه الإخبار بالخاص عن العام، وهذا مع الإخبار بالمعرفة عن النكرة.

ويمكن أن يقال إنما يمنع ذلك في الإثبات، كقولنا: الحيوان إنسان. أما في النفي

فلا. وقد ردّ ابن عمرون قول من جعل “إلا اللّه”خبرا بجواز نصب “إلا اللّه”على الاستثناء، ومحال نصب خبر لا المشبهة بأن، وإن كان الرفع المشهور. انتهى.

ولقائل أن يقول إذا نصبنا لم نعتقد الخبر إلا محذوفا. ولا يحسن الرد بهذا على من جعل “إلا”خـبرا، مع تجويزه الوجوه السابقة. واللّه أعلم.

خامسها: أن “لا إلـه”في موضـع الخبر، و”إلا اللّه”في موضع المبتدأ. ذكر ذلك الزمخشري  [81] في كلام تلقفه عنه بعض تلامذته، وكتب ما ملخصه: اعلم أن متقدمي الشيوخ ذهبوا إلى أن قولنا: لا إله إلا اللّه، كلام غير مستقل بنفسه، بل بتقدير خبر، أي في الـوجود، أو موجود، أو لنا. تقدير قولنا: لا رجلَ في الدار إلا زيدٌ . فجعلوا الكلام جملتين. وليس كذلك، ولا يحتاج إلى تقدير، لأن الكلام لا يخلو من وجهين: أحدهما أصل الكلام. الثاني: تفريع يزيد الكلام تحقيقا، وفائدة زائدة.

نحـو: ما جاءني رجل. يفيد نفي واحد غير معين، فيجوّز السامع مجيء اثنين.  [ فلذلك يصحّ أن يقول: ما جاءني رجل بل رجلان]  [82] . فإذا قيل: ما جاءني من رجل، [ فيعلم السامع أنه لم يجئه أحد من جنس الرجال]، فلم يصحّ: ما جاءني من رجل بل رجلان  [83] .

وكذا {فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ}  [84] و {فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ}  [85] ، لو لم يأت بـ “ما”جوّزنا أن اللين واللعن كانا للسببين المذكورين ولغيرهما، وحين دخلت “ما”قطعنا بأن اللين لم يكن إلا للرحمة، وأن اللعن لم يكن إلاّ لأجل نقض الميثاق.

والاستثناء من تفريعات الكلام يزيده تأكيداً، فأصل الكلام: جاءني زيد.

وهذا لا يقتضي قطع السامع بأن غير زيد لم يجيء، فإذا أريد جمع المعنيين، مجيء زيد ونفي مجيء، غيره قيل: ما جاءني إلا زيد.

وكذا في مسألتنا: اللّه إله، يوازن: زيد منطلق. فلما فرّع عليه وقيل “لا إله إلا اللّه”أفاد الفائدتين: إثبات الإلهية للّه تعالى، ونفيها عمّا سواه.

فإذن “لا إلـه”في موضع الخبر، و”إلا الله”في موضع المبتدأ. يوضح هذا أن “لا”تطلب النكرة أبدا  [86] ، لا تقول: لا زيد منطلق. والمبتدأ يجب أن يكون معرفة والخبر نكرة.

ثم تكلم بكلم آخر. [ انتهى ملخص كلام الزمخشري ].

وهذا الإعراب ارتضاه جماعة منهم ابن الحاجب وبعـض مشايخنا، وذكره في ابتداء تدريسه قاضي القضاة جلال الدين القزويني  [87] ، رحمه الله، بالقاهرة، وأنكره بعـض العلماء، ولم يبين لفساده معنى، وقد رُدّ بمخالفته الإجماع من وجهين: أحدهما أن “لا”إنـما يبنى معها المبتدأ لا الخبر. الثاني: جوار النصب بعد إلاّ  [88] .

وفي بقية الكلام المنسوب للزمخشري، رحمة اللّه عليه، تعقّب.

سادسها: أن تكون “لا”مبنية مع اسمها، و”إلا اللّه”مرفوع بإله، ارتفاع الاسم بالصفة، واستغني بالمرفوع عن الخبر، كـما في مسألة: ما مضروب الزيدان، وما قائم العمران.

وشجعني على ذلك قول الزمخشري رحمه اللّه تعالى: إله بمعنى مألوه  [89] ، من أُلِـه إذا عُبِد. ولو قلت: لا معبود إلا اللّه، لم يمتنع فيه ما ذكرت.

وعـلى ذلـك اعتراضان: الأول أن هذا الوصف الرافع لمكتفى به ينظر في دخول النواسخ عليه، فقد منع سيبويه: إنّ قائـماً أخواك  [90] .

الثاني: أنـه على تقـدير عمـل “إله”يكون ذلك مطوّلا  [91] فيقتضي ذلك تنوينه. والتطويل كـما يكون بالعمل نصبا، كذلك يكون بالعمل رفعا.

ففي مسـائـل ابن جني  [92] رحمـه اللّه تعالى، لشيخه ت إذا قلت: يا منطلق وزيد، وعطفت على المرفوع في منطلق، وقلت إنّ العامل في المعطوف هو العامل في المعطوف عليه  [93] ، أتنصب “منطلق”أم ترفعه؟ فاستقر أمرهما بعد محاورة طويلة على أن ينصب، وأنه مطوّل  [94] .

والجواب عن الأول: أن الأخفش قد أجاز: إنّ قائـما أخواك. ومنع سيبويه لها إنـما هو لعدم مسوغ الابتداء بالنكرة.

قال بعض الفضلاء من أهل العصر، وقد عرضت ذلك عليه وارتضاه: قد خطر لي أن نحو “ليس قائم أخواك”يتفق الإمامان على إجازته.

وعن الثاني: أن ابن كيسان  [95] اختار حذف التنوين من نحو ذلك، وجعل منه {لا غَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ}  [96] و {لا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ}  [97] . وإن كان جمهور البصريين يؤولون ذلك.

قال بعض مشايخنا: وأرى أن مذهب ابن كيسان أولى لعدم التكلف.

[ وجهـا النصب] :

وأما النصب في “إلا اللّه”فمن وجهين:

أولهما: أن يكون على الاستثناء إذا قدر الخبر محذوفا، أي لا إله في الوجود إلا اللّه عز وجل. ولا يرجح عليه الرفع على البدل، كـما هو مقدر في الاستثناء التام غير الموجب، من جهة أن الترجيح هناك لحصول المشاكلة في الإتباعِ دون الاستثناء. حتى لو حصلت المشاكلة فيهما استويا، نحو: ما ضربت أحداً إلا زيدا.

نص على ذلـك جماعـة منهم الأُبذي رحمه اللّه تعالى. بل إذا حصلت المشاكلة في النصب على الاستثناء وفاتت في الإتباع ترجح النصب على الاستثناء. وهذا كذلك يترجح النصب في القياس، لكن السماع والأكثر الرفع. ولا يستنكر مثل ذلك، فقد يكون الشيء شاذا في القياس وهو واجب الاستعمال. وليس هذا موضع بسط ذلك  [98] .

وقاك أبو الحسن الأبذي في شرح الكراسة: إنك إذا قلت: لا رجل في الدار إلا عمرو، كان نصب “إلا عمرو” على الاستثناء أحسن من رفعه على البدل، لما في ذلك من المشاكلة.

على أن أبا القاسم الكرماني  [99] رحمه اللّه تعالى، قال في كتاب الغرائب، في قوله تعالى: {لا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ}  [100] : ولا يجوز النصب هنا، لأن الرفع يدل على أن الاعتماد على الثاني، والنصب يدل على أن الاعتماد على الأول. يعني إنك إذا أبدلت فما بعد إلا مسند إليه كالذي قبلها، إلا أن الاعتماد في الحكـم على البدل  [101] ، وإذا نصبت فـما بعد إلا ليست مسندا إليه، إنـما هو مخرج.

وقد اعترض عليه بأنه لا فرق في المعنى بين قولنا: ما قام القوم إلا زيدٌ وإلا زيداً، إلا من حيث ان الرفع أولى من جهة المشاكلة.

وكلام الكرماني لا يقتضي منع النصب مطلقا، بل في الآية من جهة الأرجحية التي يجب حمل أفصح الكلام عليها.

وقي كلام بعضهم أرجحية الرفع لأن فيه إعراضا عن غير اللّه تعالى وإقبالا عليه بالكلية. وأما الاستثناء فيقتضي الاشتغال بنفي السابق وإثبات اللاحق، ففيه اشتغال بهما جميعاً. وهذا قد يرجح به النصب….  [102]

ثانيهما: أن يكون الخبر محذوفا كـما سبق، و”إلا اللّه “صفة لاسم “لا”على اللفظ  [103] . وفي عبارة بعضهم أو على الموضع بعد دخـول “لا”، وهما متقاربان كـما سبق مثلهما في اللفظ.

قال الأبذيَ: ولا يجوز البدل من اسم “لا”عام اللفظ، يعني في: لا رجلَ في الدار إلا، زيداً، لأن البدل في نية تكرار العامل، ولو قدر فسد المعنى، وعملت “لا”في المعرفة. انتهى.

وقال ابن الحاجب، رحمه اللّه تعالى: لأن “لا”إنما عملت للنفي  [104] . وفيه ما سبق.

وقال النيلي  [105] : “وإن شئت قلت إنَّ “مِنْ “مقدرة في النفي إذا كان مفردا، وجاء بعد إلا موجب لا يصح تقدير “من “فيه. وقيل لأن تقدير “لا” يقتضي النفي، ووقوعه بعد إلا يقتضي الإثبات، فيفضي إلى التناقض”.

وقد تلخص في “لا إله إلا اللّه”عشرة أوجه: الرفع من ستة أوجه، غير أن البدل من الموضع إما من موضع اسم لا قبل الدخول، وإما من لا مع اسمها، فيتقدر سبعة.

والنصب من وجهين إلا أن في وجه الصفة، إما أنه صفة للفظ اسم لا إجراء لحركة البناء مجرى حركة الإعراب، وإما أن يكون صفة لموضعه بعد دخول لا، فيتقدر ثلاثة مع السبعة، فتلك عشرة كاملة.

والذي في كلام ابن عصفور من ذلك أربعة أوجه، وهو أكثر من وسّع في “إلاّ”من الأوجه.

انتهى ما خطر لي في هذه المسألة من الأوجه الواضحة، واللّه يرزقنا منه المسامحة.

والحمد للّه رب العالمين، والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله الطاهرين وصحابته أجمعين.

تمت بحمد اللّه وعونه وحسن توفيقه

فهرس المصادر

1_ ابن هشام الأنصاري/ آثاره ومذهبه النحوي/ د. علي فودة نيل. منشورات جامعة الملك سعود- الرياض 1406 هـ/ 1985.

2_  أحكام الميراث في الشريعة الإِسلامية: د.جمعة برّاج. دار الفكر للنشر والتوزيع. عمان، الطبعة الأولى1401 هـ/ 1981م.

3_  أخبار النحويين البصريين: السيرافي، تحقيق د. محمد البنا، دار الاعتصام الطبعة الأولى 1405 هـ/1985م.

4_  ارتشاف الضرب: أبو حيان الأندلسي، تحقيق د. مصطفى النماس.

5_  الاستغناء في أحكام الاستثناء: شهاب الدين القرافي، تحقيق د. طه محسن.

6_  أسرار العربية: الأنباري، تحقيق محمد بهجة البيطار، دمشق 1377هـ/ 1957م.

7_  إشارة التعين: عبد الباقي اليماني، تحقيق د. عبد المجيد دياب، الطبعة الأولى 1406 هـ.

8_ اشتقاق أسماء اللّه: الزجاجي، تحقيق د. عبد الحسـين المبارك، مؤسسة الرسالة، الطبعة الثانية 1406 هـ/ 1986م.

9_  الأشباه والنظائر: السيوطي، تحقيق د. عبد العال سالم مكرم، مؤسسة الرسالة.

10_ الأصول في النحو: ابن السرّاج، تحقيق د. عبد الحسين الفتلي.

11_ أعجب العجب في شرح لامية العرب: الزمخشري، الطبعة الأولى بالجوائب 1300 هـ.

12_ إعراب الحديث النبوي: العكبري، تحقيق د.حسن موسى الشاعر، الطبعة الثانية 1408  هـ/1987 م.

13_ إعراب القرآن الكريم: النحاس، تحقيق د. زهير غازي زاهد، الطبعة الثانية 1405 هـ/ 985 1م.

14_ إعـراب لامية الشنفري: العكبري، تحقيق محمد أديب جمران، المكتب الإِسلامي، الطبعة الأولى 1404 هـ/ 1984م.

15_ الأعلام : الزركلي، دار العلم للملايين.

16_ إنباه الرواة: القفطي، تحقيق محمد أبو الفضل إبراهيم، الطبعة الأولى.

17_ الإنصاف في مسائل الخلاف: الأنباري، تحقيقَ المرحوم الشيخ محي الدين عبد الحميد.

18_ أوضح المسالك: ابن هشام الأنصاري، تحقيق المرحوم الشيخ محي الدين عبد الحميد، الطبعة الخامسة- بيروت.

19_ إيضاح المكنون: إسماعيل باشا البغدادي.

20_ الإيضاح في شرح المفصَّل: ابن الحاجب، تحقيق د. موسى بناي العليلي، مطبعة العاني- بغداد 1982 م.

21_ البحر المحيط: أبو حيان الأندلسي.

22_ البدر الطالع: الشوكاني، مطبعة السعادة، الطبعة الأولى 1348 هـ.

23_ البلغة في تاريخ أئمة اللغة: الفيروز أبادي، تحقيق محمد المصري، دمشق 1392هـ/1972 م.

24_ بغية الوعاة: السيوطي، تحقيق محمد أبو الفضل إبراهيم، مطبعة الحلب

ي، الطبعة الأولى 1384 هـ/1964 م.

25_ تاريخ الأدب العربي: بروكلمان، جـ5 نقله إلى العربية د. رمضان عبد التواب، الطبعة الثانية، دار المعارف بمصر.

26_ تاريخ العلماء النحويين: التنوخي، تحقيق د.عبد الفتاح الحلو، الرياض،1401 هـ/1981 م.

27_ التحقيقات المرضية في المباحث الفرضية: الشيخ صالح الفوزان، مكتبة المعارف، الرياض، الطبعة الثالثة 1407 هـ/ 1986 م.

28_ تخليص الشواهد وتلخيص الفوائد: ابن هشام الأنصاري، تحقيق د. عباس الصالحي، دار الكتاب العربي، الطبعة الأولى 1406 هـ/ 1986 م.

29_ تسهيل الفوائد: ابن مالك، تحقيق محمد كامل بركات، القاهرة 1968ام.

30_ التصريح على التوضيح: الشيخ خالد الأزهري.

31_ التفسير الكبير: فخر الدين الرازي، الطبعة الأولى 1354 هـ/ 1935.

32_ الجامع لأحكام القرآن: القرطبي، دار إحياء التراث العربي عن طبعة دار الكتب المصرية.

33_ الجني الداني في حروف المعاني: المرادي، تحقيق طه محسن 1396 هـ/ 1976 م.

34_ حاشية الصبان على شرح الأشموني: دار إحياء الكتب العربية.

35_ حاشية يس العليمي على التصريح: دار إحياء الكتب العربية.

36_ خزانة الأدب: البغدادي، تحقيق عبد السلام هارون، دار الكتاب العربي.

37_ الخصائص: ابن جني، تحقيق محمد علي النجار، مطبعة دار الكتب المصرية، الطبعة الثانية 1371 هـ/1952م.

38_ الدرر الكامنة: ابن حجر، تحقيق محمد سيد جاد الحق.

39_ الدرّ المصون: السمين الحلبي، تحقيق د. أحمد الخراط، دار القلم، دمشق.

40_ شرح ابن عقيل على ألفية ابن مالك، تحقيق محمد محي الدين عبد الحميد.

41_ شرح أبيات سيبويه: ابن السيرافي، تحقيق د. محمد علي سلطاني، دار المأمون للتراث، دمشق 1979 م.

42_ شرح الأشموني مع الصبان، دار إحياء الكتب العربية.

43_ شرح جمل الزجاجي: ابن عصفور، تحقيق د. صاحب أبو جناح، 1400 هـ/ 1980 م.       44_ شرح ا لكافية: ا لرضي، بيروت.

45_ شرح الكافية الشافية: ابن مالك، تحقيق د. عبد المنعم هريدي، الطبعة الأولى 1402هـ/1982م.

46_ شرح اللمحة البدرية: ابن هشام. تحقيق د. هادي نهر.

47_ شرح المفصل: ابن يعيش، إدارة الطباعة المنيرية.

48_ فتح القدير: الشوكاني، دار الفكر- بيروت.

49_ الكتاب: سيبويه، تحقيق عبد السلام هارون، الهيئة المصرية العامة للكتاب.

50_ الكشاف: الزمخشري، مطبعة الحلبي.

51_ كشف الظنون: حاجي خليفة- بيروت.

52_ مجلة البحوث الإسلامية، تصدرها الرئاسة العامة لإدارات البحوث، في الرياض العدد 25 لسنة 1409 هـ.

53_ مسألة في كلمة الشهادة: الزمخشري، مخطوطة برلين.

54_ المسـائل المنثورة: أبو علي الفارسيّ، تحقيق مصطفى الحدري، مطبوعات مجمع اللغة العربية بدمشق.

55_ المساعد على تسهيل الفوائد: ابن عقيل، تحقيق د. محمد كامل بركات، الطبعة الأولى، منشورات جامعة أم القرى.

56_ معاني القرآن وإعرابه: الزجاج، تحقيق د. عبد الجليل شلبي، عالم الكتب، بيروت، الطبعة الأولى 08 14 هـ/1988م.

57_ معجم المؤلفين: عمر رضا كحالة- بيروت.

58_ معنى لا إله إلا اللّه: الزركشي، تحقيق علي محي الدين القرة داغي، دار الإصلاح، القاهرة.

59_ مغني اللبيب: ابن هشام. تحقيق د. مازن المبارك وزميله، دمشق، الطبعة الأولى 1384 هـ/1964م.

60_ المقتصد في شرح الإيضاح: عبد القاهر الجرجاني، تحقيق د. كاظم بحر المرجان، 1982 م.

61- النكت في تفسير كتاب سيبويه: الأعلم الشنتمري، تحقيق زهير سلطان، الكويت 1407هـ/ 1987م.

62- همع الهوامع: السيوطي، تحقيق د. عبد العال سالم مكرم، دار البحوث العلمية- الكويت.

WALI SONGO



walisongo2 WALI SONGO


Senja hampir bergulir di Desa Gapuro, Gresik, Jawa Timur, menjelang bulan Ramadhan itu. Tak ada angin. Awan seperti berhenti berarak. Batu pualam berukir kaligrafi indah itu terpacak bagaikan saksi sejarah. Itulah nisan makam almarhum Syekh Maulana Malik Ibrahim, yang wafat pada 12 Rabiul Awal 822 Hijriah, atau 8 April 1419.



Di latar nisan itu tersurat ayat suci Al-Quran: surat Ali Imran 185, Ar-Rahman 26-27, At-Taubah 21-22, dan Ayat Kursi. Ada juga rangkaian kata pujian dalam bahasa Arab bagi Malik Ibrahim: ”Ia guru yang dibanggakan para pejabat, tempat para sultan dan menteri meminta nasihat. Orang yang santun dan murah hati terhadap fakir miskin. Orang yang berbahagia karena mati syahid, tersanjung dalam bidang pemerintahan dan agama.”

Demikian terjemahan bebas inskripsi di nisan pualam makam berbangun lengkung menyerupai kubah itu. Dalam beberapa sumber sejarah tradisional, Syekh Maulana Malik Ibrahim disebut sebagai anggota Wali Songo, tokoh sentral penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Sejarawan G.W.J. Drewes menegaskan, Maulana Malik Ibrahim adalah tokoh yang pertama-tama dipandang sebagai wali di antara para wali.

”Ia seorang mubalig paling awal,” tulis Drewes dalam bukunya, New Light on the Coming of Islam in Indonesia. Gelar Syekh dan Maulana, yang melekat di depan nama Malik Ibrahim, menurut sejarawan Hoessein Djajadiningrat, membuktikan bahwa ia ulama besar. Gelar tersebut hanya diperuntukkan bagi tokoh muslim yang punya derajat tinggi.



Sekalipun Malik Ibrahim tidak termasuk dalam jajaran Wali Songo, masih menurut Hoessein, jelas dia adalah seorang wali. Adapun istilah Wali Songo berasal dari kata ”wali” dan ”songo”. Kata wali berasal dari bahasa Arab, waliyullah, orang yang dicintai Allah –alias kekasih Tuhan. Kata songo berasal dari bahasa Jawa, yang berarti sembilan.



Ada wali yang termasuk anggota Wali Songo –yang terdiri dari sembilan orang– dan ada wali yang bukan anggota ”dewan” Wali Songo. Konsep ”dewan wali” berjumlah sembilan ini diduga diadopsi dari paham Hindu-Jawa yang berkembang sebelum masuknya Islam. Wali Songo seakan-akan dianalogikan dengan sembilan dewa yang bertahta di sembilan penjuru mata angin.



Dewa Kuwera bertahta di utara, Isana di timur laut. Indra di timur, Agni di tenggara, dan Kama di selatan. Dewa Surya berkedudukan di barat daya, Yama di barat, Bayu, atawa Nayu, di barat laut, dan Siwa di tengah. Para wali diakui sebagai manusia yang dekat dengan Tuhan. Mereka ulama besar yang menyemaikan benih Islam di Jawadwipa.



Figur para wali –sebagaimana dikisahkan dalam babad dan ”kepustakaan” tutur– selalu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang dahsyat. Namun, hingga sekarang, belum tercapai ”kesepakatan” tetang siapa saja gerangan Wali nan Sembilan itu. Terdapat beragam-ragam pendapat, masing-masing dengan alasannya sendiri.

Pada umumnya orang berpendapat, yang terhisab ke dalam Wali Songo adalah: Syekh Maulana Malik Ibrahim alias Sunan Gresik, Raden Rakhmad alias Sunan Ampel, Raden Paku alias Sunan Giri, Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati, Raden Maulana Makdum Ibrahim alias Sunan Bonang, Syarifuddin alias Sunan Drajat, Jafar Sodiq alias Sunan Kudus, Raden Syahid alias Sunan Kalijaga, dan Raden Umar Sayid alias Sunan Muria.

Namun, komposisi Wali nan Sembilan ini juga punya banyak versi. Prof. Soekmono dalam bukunya, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Jilid III, tidak memasukkan Syekh Maulana Malik Ibrahim dalam jajaran Wali Songo. Guru besar sejarah kebudayaan Universitas Indonesia itu justru menempatkan Syekh Siti Jenar, alias Syekh Lemah Abang, sebagai anggota Wali Songo.



Sayang, Soekmono tak menyodorkan argumentasi mengapa Maulana Malik Ibrahim tidak termasuk Wali Songo. Ia hanya menyebut Syekh Siti Jenar sebagai tokoh sangat populer. Siti Jenar dihukum mati oleh Wali Songo, karena dinilai menyebarkan ajaran sesat tentang jubuhing kawulo Gusti (bersatunya hamba dengan Tuhannya), yang dapat mengguncang iman orang dan menggoyahkan syariat Islam.



Selain itu, Wali Songo juga ditafsirkan sebagai sebuah lembaga, atau dewan dakwah. Istilah sembilan dirujukkan dengan sembilan fungsi koordinatif dalam lembaga dakwah itu. Teori ini diuraikan dalam buku Kisah Wali Songo; Para Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa karya Asnan Wahyudi dan Abu Khalid.


Kedua penulis itu merujuk pada kitab Kanz Al-’ulum karya Ibn Bathuthah. Mereka menjelaskan, sebagai lembaga dewan dakwah, Wali Songo paling tidak mengalami lima kali pergantian anggota. Pada periode awal, anggotanya terdiri dari Maulana Malik Ibrahim, Ishaq, Ahmad Jumad Al-Kubra, Muhammad Al-Magribi, Malik Israil, Muhammad Al-Akbar, Maulana Hasanuddin, Aliyuddin, dan Syekh Subakir.



Pada periode kedua, Raden Rakhmad (Sunan Ampel), Sunan Kudus, Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), dan Sunan Bonang masuk menggantikan Maulana Malik Ibrahim, Malik Israil, Ali Akbar, dan Maulana Hasanuddin –yang wafat. Pada periode ketiga, masuk Sunan Giri, menggantikan Ishaq yang pindah ke Pasai, Aceh, dan Sunan Kalijaga menggantikan Syekh Subakir yang pulang ke Persia.



Pada periode keempat, Raden Patah dan Fatullah Khan masuk jajaran Wali Songo. Kedua tokoh ini menggantikan Ahmad Jumad Al-Kubra dan Muhammad Al-Magribi yang wafat. Sunan Muria menduduki lembaga Wali Songo dalam periode terakhir. Ia menggantikan Raden Patah, yang naik tahta sebagai Raja Demak Bintoro yang pertama.



Analisis tersebut secara kronologis mengandung banyak kelemahan. Contohnya Sunan Ampel, yang diperkirakan wafat pada 1445. Dalam versi ini disebutkan, seolah-olah Sunan Ampel masih hidup sezaman dengan Sunan Kudus, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, dan Sunan Muria. Padahal, Sunan Kudus hidup pada 1540-an.

Adapun Sunan Bonang dan Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel. Sunan Bonang merupakan guru Sunan Kalijaga, yang berputra Sunan Muria. Bagaimana mungkin Sunan Ampel hidup sezaman dengan Sunan Muria? Lagi pula, tokoh Wali Songo yang disebut dalam buku ini –Aliyuddin, Ali Akbar, dan Fatullah Khan– bukan wali terkenal di Jawa.



Nama mereka jarang ditemukan dalam historiografi tradisional, baik berupa serat maupun babad. Padahal, di Jawa terdapat puluhan naskah kuno berupa babad, hikayat, dan serat, yang mengisahkan para wali. Sebagian besar babad juga menggambarkan, Wali Songo hidup dalam kurun waktu yang bersama
an.



Para wali, menurut versi babad, dikisahkan sering mengadakan pertemuan di Masjid Demak dan Masjid ”Sang Cipta Rasa” (Cirebon). Di sana mereka membicarakan berbagai persoalan keagamanan dan kenegaraan. Kisah semacam ini, antara lain, dapat dibaca di Babad Demak, Babad Cirebon, dan Babad Tanah Jawi.

Babad Cirebon, misalnya, mewartakan bahwa pada 1426, para wali berkumpul di Gunung Ciremai. Mereka mengadakan musyawarah yang dipimpin Sunan Ampel, membentuk ”Dewan Wali Songo”. Sunan Gunung Jati ditunjuk selaku wali katib, atau imam para wali. Anggotanya terdiri dari Sunan Ampel, Syekh Maulana Magribi, Sunan Bonang, Sunan Ngudung alias Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Syekh Lemah Abang, Syekh Betong, dan Sunan Majagung.



Ditambah dengan Sunan Gunung Jati, jumlah wali itu malah menjadi 10 orang. Nama-nama Wali Songo yang tertulis di Babad Cirebon tersebut berbeda dengan yang tersurat di Babad Tanah Jawi. Dalam Babad Tanah Jawi, yang berasal dari Jawa Tengah, tidak ditemukan nama Syekh Betong dan Syekh Majagung. Sebagai gantinya, akan dijumpai nama Sunan Giri dan Sunan Drajat.



Tapi, peran Wali Songo jelaslah tak sebatas di bidang keagamaan. Mereka juga bertindak selaku anggota dewan penasihat bagi raja. Bahkan, Sunan Giri membentuk dinasti keagamaan, dan secara politis berkuasa di wilayah Gresik, Tuban, dan sekitarnya. Ia mengesahkan penobatan Joko Tingkir sebagai Raja Pajang bergelar Sultan Hadiwijaya, setelah kekuasaan Raja Demak surut.



Di luar Wali Songo, ada puluhan tokoh penyebar agama Islam di Jawa yang juga dianggap sebagai wali. Hanya, biasanya mereka berkuasa di kawasan tak seberapa luas. Sunan Tembayat, misalnya, dikenal sebagai pedakwah di Tembayat, sebuah wilayah kecamatan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Ia dilegendakan sebagai murid Sunan Kalijaga.



Sunan Tembayat adalah Adipati Semarang yang termasyhur dengan nama Ki Ageng Pandanarang. Berdasarkan cerita babad yang dikutip H.J. De Graaf dan T.H. Pigeuad, Pandanaran meninggalkan singgasananya lantaran gandrung akan ajaran Islam yang disampaikan Sunan Kalijaga. Pada 1512, Pandanarang menyerahkan tampuk pemerintahan kepada adik laki-lakinya.



”Ia bersama istrinya mengundurkan diri dari dunia ramai,” tulis De Graaf dan Pigeaud dalam buku Kerajaan Islam Pertama di Jawa. ”Pasangan bangsawan Jawa ini berkelana mencari ketenangan batin, sembari berdakwah,” kedua pakar sejarah dari Universitas Leiden, Negeri Belanda, itu menambahkan.



Usai bertualang, Pandanarang dan istrinya bekerja pada seorang wanita pedagang beras di Wedi, Klaten. Akhirnya ia menetap di Tembayat sebagai guru mengaji. Di sana selama 25 tahun, Pandanarang hidup sebagai orang suci dengan sebutan Sunan Tembayat. Ia wafat pada 1537 dan dimakamkan di situ. Bangunan kompleks makam Sunan Tembayat terbuat dari batu berukir, menyerupai bentuk Candi Bentar di Jawa Timur dan pura di Bali.



Pada prasasti makam Sunan Tembayat tertulis, makam ini pertama kali dipugar pada 1566 oleh Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya. ”Kemudian, pada 1633, Sultan Agung dari Mataram memperluas dan memperindah bangunan makam Tembayat,” tulis De Graaf. Cerita tutur tentang kesaktian orang suci dari Semarang yang dimakamkan di Tembayat ini, menurut De Graaf, sudah beredar luas di kalangan masyarakat Jawa sejak pertengahan abad ke-17.



Kisah ini ternukil di naskah klasik karya Panembahan Kajoran dari Yogyakarta, yang ditulis pada 1677. Naskah tersebut pertama kali diteliti oleh D.A. Rinkes pada 1909. Dan kini, bukti sejarah itu tersimpan di Museum Leiden, Negeri Belanda. ”Dengan begitu, legenda itu punya inti kebenaran,” tulis De Graaf, yang dijuluki ”Bapak Sejarah Jawa”.



Selain Sunan Tembayat –menurut versi Babad Tanah Jawi– Sunan Kalijaga juga punya murid lain, Sunan Geseng namanya. Nama asli petani penyadap nira ini adalah Ki Cokrojoyo. Alkisah, dalam pengembaraannya, Sunan Kalijaga terpikat suara merdu Ki Crokro yang bernyanyi setelah menyadap nira.



Kalijaga meminta Ki Cokro mengganti syair lagunya dengan zikir kepada Allah. Ketika Ki Cokro berzikir, mendadak gula yang ia buat dari nira itu berubah jadi emas. Petani ini heran bukan kepalang. Ia ingin berguru kepada Sunan Kalijaga. Untuk menguji keteguhan hati calon muridnya, Sunan Kalijaga menyuruh ki Cokro berzikir tanpa berhenti, sebelum ia datang lagi.



Setahun kemudian, Sunan Kalijaga teringat Ki Cokro. Sang aulia memerintahkan murid-muridnya mencari Ki Cokro, yang berzikir di tengah hutan. Mereka kesulitan menemukannya, karena tempat berzikir ki Cokro telah berubah menjadi padang ilalang dan semak belukar. Syahdan, setelah murid-murid Sunan Kalijaga membakar padang ilalang, tampaklah Ki Cokro sujud ke kiblat.



Tubuhnya hangus, alias geseng, dimakan api. Tapi, penyadap nira ini masih bugar, mulutnya berzikir komat-kamit. Sunan Kalijaga membangunkannya dan memberinya nama Sunan Geseng. Ia menyebarkan agama Islam di Desa Jatinom, sekitar 10 kilometer dari kota Klaten arah ke utara. Penduduk Jatinom mengenal Sunan Geseng dengan sebutan Ki Ageng Gribik.



Julukan itu berangkat dari pilihan Sunan Geseng untuk tinggal di rumah beratap gribik –anyaman daun nyiur. Menurut legenda setempat, ketika Ki Ageng Gribik pulang dari menunaikan ibadah haji, ia melihat penduduk Jatinom kelaparan. Ia membawa sepotong kue apem, dibagikan kepada ratusan orang yang kelaparan. Semuanya kebagian.



Kia Ageng Gribik meminta warga yang kelaparan makan secuil kue apem seraya mengucapkan zikir: Ya-Qowiyyu (Allah Mahakuat). Mereka pun kenyang dan sehat. Sampai kini, masyarakat Jatinom menghidupkan legenda Ki Ageng Gribik itu dengan menyelenggarakan upacara ”Ya-Qowiyyu” pada setiap bulan Syafar.

Warga membikin kue apem, lalu disetorkan ke masjid. Apem yang terkumpul jumlahnya mencapai ratusan ribu. Kalau ditotal, beratnya sekitar 40 ton. Puncak upacara berlangsung usai salat Jumat. Dari menara masjid, kue apem disebarkan para santri sambil berzikir, Ya-Qowiyyu…. Ribuan orang yang menghadiri upacara memperebutkan apem ”gotong royong” itu.



Kisah Ki Ageng Gribik hanyalah satu dari sekian banyak mitos tentang para wali. Legenda keagamaan yang ditulis babad, menurut De Graaf, sedikit nilai kebenarannya. Hanya yang mengenai wali-wali terkemuka, katanya, ada kepastian sejarah yang cukup kuat. Makam mereka masih tetap merupakan tempat yang sanga
t dihormati. Pada kurun abad ke-16 hingga abad ke-17, keturunan para wali juga memegang peranan penting dalam sejarah politik Jawa.


SELAMA 40 hari, Raden Paku bertafakur di sebuah gua. Ia bersimpuh, meminta petunjuk Allah SWT, ingin mendirikan pesantren. Di tengah hening malam, pesan ayahnya, Syekh Maulana Ishak, kembali terngiang: ”Kelak, bila tiba masanya, dirikanlah pesantren di Gresik.” Pesan yang tak terlalu sulit, sebetulnya.




Tapi, ia diminta mencari tanah yang sama persis dengan tanah dalam sebuah bungkusan ini. Selesai bertafakur, Raden Paku berangkat mengembara. Di sebuah perbukitan di Desa Sidomukti, Kebomas, ia kemudian mendirikan Pesantren Giri. Sejak itu pula Raden Paku dikenal sebagai Sunan Giri. Dalam bahasa Sansekerta, ”giri” berarti gunung.



Namun, tak ada peninggalan yang menunjukkan kebesaran Pesantren Giri –yang berkembang menjadi Kerajaan Giri Kedaton. Tak ada juga bekas-bekas istana. Kini, di daerah perbukitan itu hanya terlihat situs Kedaton, sekitar satu kilometer dari makam Sunan Giri. Di situs itu berdiri sebuah langgar berukuran 6 x 5 meter.

Di sanalah, konon, sempat berdiri sebuah masjid, tempat Sunan Giri mengajarkan agama Islam. Ada juga bekas tempat wudu berupa kolam berukuran 1 x 1 meter. Tempat ini tampak lengang pengunjung. ”Memang banyak orang yang tidak tahu situs ini,” kata Muhammad Hasan, Sekretaris Yayasan Makam Sunan Giri, kepada GATRA.



Syahdan, Pesantren Giri terkenal ke seluruh penjuru Jawa, bahkan sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Menurut Babad Tanah Jawi, murid Sunan Giri juga bertebaran sampai ke Cina, Mesir, Arab, dan Eropa. Pesantren Giri merupakan pusat ajaran tauhid dan fikih, karena Sunan Giri meletakkan ajaran Islam di atas Al-Quran dan sunah Rasul.



Ia tidak mau berkompromi dengan adat istiadat, yang dianggapnya merusak kemurnian Islam. Karena itu, Sunan Giri dianggap sebagai pemimpin kaum ”putihan”, aliran yang didukung Sunan Ampel dan Sunan Drajat. Tapi, Sunan Kalijaga menganggap cara berdakwah Sunan Giri kaku. Menurut Sunan Kalijaga, dakwah hendaklah pula menggunakan pendekatan kebudayaan.



Misalnya dengan wayang. Paham ini mendapat sokongan dari Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Jati. Perdebatan para wali ini sempat memuncak pada peresmian Masjid Demak. ”Aliran Tuban” –Sunan Kalijaga cs– ingin meramaikan peresmian itu dengan wayang. Tapi, menurut Sunan Giri, menonton wayang tetap haram, karena gambar wayang itu berbentuk manusia.



Akhirnya, Sunan Kalijaga mencari jalan tengah. Ia mengusulkan bentuk wayang diubah: menjadi tipis dan tidak menyerupai manusia. Sejak itulah wayang beber berubah menjadi wayang kulit. Ketika Sunan Ampel, ”ketua” para wali, wafat pada 1478, Sunan Giri diangkat menjadi penggantinya. Atas usulan Sunan Kalijaga, ia diberi gelar Prabu Satmata.



Diriwayatkan, pemberian gelar itu jatuh pada 9 Maret 1487, yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Gresik. Di kalangan Wali nan Sembilan, Sunan Giri juga dikenal sebagai ahli politik dan ketatanegaraan. Ia pernah menyusun peraturan ketataprajaan dan pedoman tata cara di keraton. Pandangan politiknya pun dijadikan rujukan.



Menurut Dr. H.J. De Graaf, lahirnya berbagai kerajaan Islam, seperti Demak, Pajang, dan Mataram, tidak lepas dari peranan Sunan Giri. Pengaruhnya, kata sejarawan Jawa itu, melintas sampai ke luar Pulau Jawa, seperti Makassar, Hitu, dan Ternate. Konon, seorang raja barulah sah kerajaannya kalau sudah direstui Sunan Giri.

Pengaruh Sunan Giri ini tercatat dalam naskah sejarah Through Account of Ambon, serta berita orang Portugis dan Belanda di Kepulauan Maluku. Dalam naskah tersebut, kedudukan Sunan Giri disamakan dengan Paus bagi umat Katolik Roma, atau khalifah bagi umat Islam. Dalam Babad Demak pun, peran Sunan Giri tercatat.

Ketika Kerajaan Majapahit runtuh karena diserang Raja Girindrawardhana dari Kaling Kediri, pada 1478, Sunan Giri dinobatkan menjadi raja peralihan. Selama 40 hari, Sunan Giri memangku jabatan tersebut. Setelah itu, ia menyerahkannya kepada Raden Patah, putra Raja Majapahit, Brawijaya Kertabhumi.



Sejak itulah, Kerajaan Demak Bintoro berdiri dan dianggap sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa. Padahal, sebenarnya, Sunan Giri sudah menjadi raja di Giri Kedaton sejak 1470. Tapi, pemerintahan Giri lebih dikenal sebagai pemerintahan ulama dan pusat penyebaran Islam. Sebagai kerajaan, juga tidak jelas batas wilayahnya.

Tampaknya, Sunan Giri lebih memilih jejak langkah ayahnya, Syekh Maulana Ishak, seorang ulama dari Gujarat yang menetap di Pasai, kini Aceh. Ibunya Dewi Sekardadu, putri Raja Hindu Blambangan bernama Prabu Menak Sembuyu. Kisah Sunan Giri bermula ketika Maulana Ishak tertarik mengunjungi Jawa Timur, karena ingin menyebarkan agama Islam.



Setelah bertemu dengan Sunan Ampel, yang masih sepupunya, ia disarankan berdakwah di daerah Blambangan. Ketika itu, masyarakat Blambangan sedang tertimpa wabah penyakit. Bahkan putri Raja Blambangan, Dewi Sekardadu, ikut terjangkit. Semua tabib tersohor tidak berhasil mengobatinya.



Akhirnya raja mengumumkan sayembara: siapa yang berhasil mengobati sang Dewi, bila laki-laki akan dijodohkan dengannya, bila perempuan dijadikan saudara angkat sang dewi. Tapi, tak ada seorang pun yang sanggup memenangkan sayembara itu. Di tengah keputusasaan, sang prabu mengutus Patih Bajul Sengara mencari pertapa sakti.



Dalam pencarian itu, patih sempat bertemu dengan seorang pertapa sakti, Resi Kandayana namanya. Resi inilah yang memberi ”referensi” tentang Syekh Maulana Ishak. Rupanya, Maulana Ishak mau mengobati Dewi Sekardadu, kalau Prabu Menak Sembuyu dan keluarganya bersedia masuk Islam. Setelah Dewi Sekardadu sembuh, syarat Maulana Ishak pun dipenuhi.



Seluruh keluarga raja memeluk agama Islam. Setelah itu, Dewa Sekardadu dinikahkan dengan Maulana Ishak. Sayangnya, Prabu Menak Sembuyu tidak sepenuh hati menjadi seorang muslim. Ia malah iri menyaksikan Maulana Ishak berhasil mengislamkan sebagian besar rakyatnya. Ia berusaha menghalangi syiar Islam, bahkan mengutus orang kepercayaannya untuk membunuh Maulana Ishak.



Merasa jiwanya terancam, Maulana Ishak akhirnya meninggalkan Blambangan, dan kembali ke Pasai. Sebelum berangkat, ia hanya berpesan kepada Dewi Sekardadu –yang sedang mengandung tujuh bulan– agar anaknya diberi nama Raden Paku. Setelah bayi laki-l
aki itu lahir, Prabu Menak Sembuyu melampiaskan kebenciannya kepada anak Maulana Ishak dengan membuangnya ke laut dalam sebuah peti.



Alkisah, peti tersebut ditemukan oleh awak kapal dagang dari Gresik, yang sedang menuju Pulau Bali. Bayi itu lalu diserahkan kepada Nyai Ageng Pinatih, pemilik kapal tersebut. Sejak itu, bayi laki-laki yang kemudian dinamai Joko Samudro itu diasuh dan dibesarkannya. Menginjak usia tujuh tahun, Joko Samudro dititipkan di padepokan Sunan Ampel, untuk belajar agama Islam.



Karena kecerdasannya, anak itu diberi gelar ”Maulana `Ainul Yaqin”. Setelah bertahun-tahun belajar, Joko Samudro dan putranya, Raden Maulana Makhdum Ibrahim, diutus Sunan Ampel untuk menimba ilmu di Mekkah. Tapi, mereka harus singgah dulu di Pasai, untuk menemui Syekh Maulana Ishak.


Rupanya, Sunan Ampel ingin mempertemukan Raden Paku dengan ayah kandungnya. Setelah belajar selama tujuh tahun di Pasai, mereka kembali ke Jawa. Pada saat itulah Maulana Ishak membekali Raden Paku dengan segenggam tanah, lalu memintanya mendirikan pesantren di sebuah tempat yang warna dan bau tanahnya sama dengan yang diberikannya.



Kini, jejak bangunan Pesantren Giri hampir tiada. Tapi, jejak dakwah Sunan Giri masih membekas. Keteguhannya memurnikan agama Islam juga diikuti para penerusnya. Sunan Giri wafat pada 1506 Masehi, dalam usia 63 tahun. Ia dimakamkan di Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

___________________________________________________________

Tulisan yang anda baca saat ini, bisa anda dapatkan secara lengkap disini, Silahkan menuju halaman download atau klik ikon dibawah ini


deniarisandi.co.cc :::hanya untuk berbagi:::