FITUR Wakil Ketua DPC HANURA

Pulang Kampung Jadi Wakil Ketua DPC Partai Hanura Kabupaten Tanah Laut

10 Tahun lebih tinggal di Banjarbaru, disamping menuntut ilmu, kuliyah, dan bekerja, saya juga aktif mengikuti berbagai organisasi baik organisasi profesi, kepemudaan, kemahasiswaan, keagamaan, bahkan organisasi politik. Di Organisasi politik saya pernah More »

FITUR desa kikil

Pengalaman Menginjakkan Kaki Di Desa Kikil Kotabaru

Beberapa hari lalu (23-25/3/12) saya jalan-jalan ke  desa Kikil Kota Baru Kalimantan Selatan untuk keperluan bisnis (wess…) kecil-kecilan. Begitu banyak cerita dan pengalaman  yang ingin saya bagi disini, karena inilah pertama kalinya More »

FITUR Tambang Ilegal

Masyarakat Kecamatan Kintap Demo Tambang Ilegal

Sejak hari Senin (20/02/2012) kemaren masyarakat sekecamatan Kintap berdemo di jalan pelabuhan khusus batu bara di Desa Pandansari. Mereka menuntut agar para pengusaha batu bara bisa bekerja sama, yaitu dengan membeli hasil More »

FITUR Ular Sawa

Pengalaman Pribadi: Mencari Ikan dapat Ular Sawa (Pyton)

Kemaren baru beli lukah, niat hati menyalurkan hoby lama yaitu mamasang lukah, lukah pun dipasang. Ibarat orang bertani tanah sudah dicangkul, padi sudah ditanam, tinggal menunggu hasilnya. Tadi malam mimpinya dapat ikan More »

Budaya Banjar Khataman Qur`an

Masyarakat banjar (suku di Kalimantan Selatan) terkenal sangat religius. Sehingga segala aktifitas-aktifitas penting seperti membuat rumah, pergi haji, dan sebagainya selalu dimulai dengan acara-acara keagamaan. Terlebih lagi mengenai pendidikan, setiap kali anak mencapai satu pencapaian misalnya selesai belajar mengaji satu juz, dua juz, dan seterusnya sering diadakan upacara kecil-kecilan sebelum meningkat lebih lanjut, biasanya hanya disaksikan oleh guru mengaji, teman-teman mengaji si anak dan orang tua si anak yang ingin menyaksikan kemajuan anaknya.

Ketika anak sudah khatam belajar 30 juz Al-Qur`an, baru diadakan acara besar yang diberi nama Batamat Al-Qur`an (Kataman Qur`an) karena menurut mereka seseorang yang berhasil menamatkan al-Qur’an dianggap sangat luar biasa karena sudah berhasil menyelesaikan sesuatu yang sangat agung dan mulia sekaligus pembuktian kepada masyarakat kalau yang bersangkutan adalah orang yang taat beribadah kepada Allah SWT.

Di desa-desa seorang anak mulai mengaji pada umur 6 sampai 7 tahun, dan kebiasaan anak sudah menamatkan Al-Qur’an pada usia sekitar 9 sampai 12 tahun. Mereka malu apabila peristiwa itu terjadi pada umur yang lebih tua.

Menurut kebiasaan, batamat qur`at dirayakan dengan meriah dan dilaksanakan bersama-sama dengan teman mengaji. Didalam pagar dan kampung melayu anak-anak betamat pada umur sekitar 9 tahun sampai 12 tahun. Tetapi meskipun sudah pernah upacara betamat Qur’an, namun ketika ia kawin biasanya dilakukan pula upacara betamat Qur’an yang merupakan sisipan dalam upacara perkawinan.

Upacara betamat al-Qur’an anak-anak biasanya didahului dengan arak-arakkan yang diikuti oleh mereka yang betamat. Ketika turun dibacakan shalawat dan dihamburkan beras kuning. Biasanya upacara betamat ini dilakukan pada bulan rabi’ul awal.[1]

Mereka yang betamat duduk menghadap kitab suci Al-Qur’an masing-masing. Al-Qur’an tersebut ditaruh diatas rehal atau bantal dan didepan mereka ditaruh pula balai-balai berisi kue-kue tradisional yang mereka bawa sendiri. Ada juga nasi ketan satu gantang atau lebih yang dibentuk dengan cara tertentu. Di Martapura, nasi ketan dibentuk sehingga berwujud seperti gunung dan diberi hiasan inti dan telur rebus bisa juga ditambah dengan aneka warna bendera atau kambang sarai[2].

Peralatan yang digunakan dalam upacara ini adalah payung kembang bertingkat tiga yang dirangkai dengan bunga-bunga seperti bunga kenanga, cempaka, melati, mawar dan bunga kaca piring. Payung kembang tersebut dihiasi pula dengan kertas-kertas berwarna. Payung ini dipegang oleh seseorang yang khusus ditugasi untuk memayungi mereka yang betamat. Siapa yang kena giliran membaca, payung harus berada diatas kepalanya. Peralalatan upacara yang digunakan selain payung kembang, rehal, juga talam untuk menaruh kendi berisi air dan gelas.

Senantiasa dalam upacara ini ada seseorang tertentu yang bertugas mendengarkan bacaan dengan khidmat dan membetulkannya jika terdapat kesalahan (menjagai atau menyimak), biasanya dimintakan kepada guru mengaji si anak untuk memulai acara dengan membacakan surah al-Fatihah oleh semua hadirin, lalu anak-anak itu bergantian disuruh membaca dari surah ad-Dhuha sampai surah al-Lahab, yang selalu diiringi koor oleh hadirin setiap kali seorang anak menyelesaikan gilirannya.

Suatu hal yang unik dalam trdisi betamat al-Qur’an ini adalah apabila bacaan al-Qur’an itu sampai pada surah al-Fiil, maka telur rebus yang ditaruh dalam balai-balai diperebutkan oleh hadirin. Bagi yang berhasil mendapatkannya dan memakan telur rebus itu sampai habis, berarti ia cekatan dalam menuntut ilmu agama dan orang tersebut sangat mudah mencerna pelajaran agama yang diberikan kepadanya[3].

Setelah selesai membacakan semua surah, guru mengaji atau seorang ulama kemudian memimpin membaca do’a khatamul Qur’an. Sementara do’a dibacakan, gunungan nasi ketan dibawa keruang belakang untuk diiris-iris guna disajikan kepada hadirin. Sementara hidangan diedarkan, lapik dan payung kambang disingkirkan, adakalanya payung kambang tersebut disimpan saja disudut rumah atau jika ada hajat besoknya dibawa kesebuah kuburan keramat dan ditinggalkan disana[4].

Sedangkan betamat Al-Qur’an yang dilaksanakan pada saat perkawinan, bisa dilaksanakan siang hari dan terkadang pada malam hari. Apabila dilaksanakan pada siang hari, waktunya pagi hari sebelum mempelai bersanding. Ada pula yang melaksanakan malam, yaitu sehari sebelum hari perkawinan.

Pakaian yang digunakan pada upacara betamat Qur’an ini untuk putranya kebanyakan memakai baju teluk balanga, sedangkan perempuannya memakai baju kurung basisit dan bisa juga menggunakan pakaian haji bagi wanitanya.

Rujukan: Daud, Alfani, Islam dan Budaya Banjar. Jakarta: PT. Raja Grapindo Persada, 1997.



[1] Bulan yang dianggap bagus oleh masyarakat untuk mengadakan suatu acara
[2] Bilah bambu dengan hiasan dari kertas
[3] Hal ini dikaitkan dengan keberadaan surah al-Fiil yang diturunkan ketika kaum muslimin dalam menghadapi serangan bala tentara abrahah yang ingin menghancurkan ka’bah, namun berkat bantuan Allah SWT kemenangan berpihak kepada kaum muslimin
[4] Umpamanya, pernah diucapkan kaul apabila si anak yang bersangkutan menamatkan al-Qur’an, ia akan dibawa ziarah ke kubah tertentu. Untuk menunaikan kaul ini, payung kembang sisa upacara dibawa ke kubah dan diti nggalkan disana ketika ziarah.

Kebiasaan Haji Orang Banjar

kabah Kebiasaan Haji Orang Banjar



A.  PENDAHULUAN

Bangsa Banjar ialah penduduk asli sebagian wilayah Propinsi Kalimantan Selatan, yaitu selain Kabupaten Kota Baru.[1] Bangsa Banjar sering diidentikkan dengan Islam, sehingga pada kasus orang dayak yang memeluk agama Islam dikatakan sebagai “menjadi orang Banjar”.[2]

Dalam kenyataannya memang boleh dikatakan “semua” orang Banjar menganut agama Islam, dan mereka relatif taat menjalankan agamanya,[3] termasuk menjalankan Rukun Islam yang kelima yaitu Haji. Kegairahan orang Banjar untuk menunaikan ibadah haji tinggi sekali. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya jumlah orang yang naik Haji di daerah Kalimantan Selatan yang sebagain besar penduduknya adalah orang Banjar.

Penghormatan orang Banjar kepada mereka yang naik Haji sangat tinggi pula, dan  relatif tidak berkurang seiring dengan banyaknya orang yang naik haji. Pergi haji bagi masyarakat Banjar merupakan hal yang sangat diidam-idamkan, dengan adanya keinginan itu mereka rajin menabung untuk biaya berangkat haji.

Orang banjar yang akan naik haji akan dilepas dengan sangat ritualistis dan disambut demikian pula ketika kembali, begitu juga keberangkatan haji kedua atau ketiga kalinya tetap diupacarakan seperti halnya ketika pergi pertama kali.

B. GAIRAH NAIK HAJI ORANG BANJAR

Kegairahan orang Banjar untuk menunaikan ibadah haji tinggi sekali. Intensitas orang pergi haji mencapai angka 125 orang per 100.000 penduduk, dan urutan ke empat tertinggi dibandingkan dengan residentie-residentie lainnya. Insentitas tetap tinggi pada tahun 1975 sampai tahun 1980, yaitu berturut-turut 123, 42, 57, 203, 126, dan 225 orang per 100.000 penduduk Kal-Sel.[4]. Pada tahun 2007 ini pun jemaah Haji Kalimantan Selatan tetap tinggi, kalau saja Kuato tidak di batasi.

Untuk musim haji tahun 2007, Kalsel mendapat jatah (kuota) haji 3.641 orang. Prof Fahmi Arief Kakanwil Depag kalsel, mengatakan, jumlah yang masuk dalam daftar tunggu mencapai 16.500 orang. “Jumlah itu baru habis pada 2011.[5]

Meskipun jumlah para haji meningkat akhir-akhir ini. Tetapi penghormatan kepada mereka relatif tidak berkurang, pergi haji bagi masyarakat Banjar merupakan hal yang sangat diidam-idamkan, dengan adanya keinginan itu mereka rajin menabung untuk biaya berngkat haji. Orang yang sudah bergelar haji akan mendapat penghormatan yang lebih dari yang tidak, gelar haji sepertinya ada pengaruh tersendiri bagi masyarakat Banjar. Jika mereka memang alim sebelumnya, penghormatan orang kepadanya lebih meningkat sekembalinya dari Makkah. Jika mereka sudah agak berumur, mereka biasa dipanggil sebagai tuan (pa tuan, untuk pria dan ma tuan, untuk wanita) atau haji (pa haji atau ma haji). Ketika mereka akan pergi ke Mekkah, mereka akan dilepas dengan sangat ritualistis dan disambut demikian pula ketika kembali.[6]

Kegairahan untuk melakukan ibadah haji untuk kedua kalinya tetap besar, keberangkatan haji kedua atau ketiga kalinya tetap diupacarakan seperti halnya ketika pergi pertama kali. Bagi orang-orang Banjar mempunyai seorang kerabat yang bermukim di Makkah, apapun juga pekerjaannya, merupakan kebanggaan tersendiri. Bayangan orang selalulah bermukim di Makkah berarti mengaji, dan mereka yang kembali biasanya mendapat penghormatan sebagai ulama, meskipun lama kelamaan mungkin penghormatan itu merosot. Namun kenyataannya mereka pernah bermukim di Makkah tetap menyebabkan mereka dianggap lebih dari orang lainnya.[7]

C. RITUAL HAJI ORANG BANJAR

Ketika akan pergi ke Mekkah, Orang Banjar yang akan menunaikan ibadah Haji akan dilepas dengan sangat ritualistis dan disambut demikian pula ketika kembali. Mereka melakukan berbagai kegiatan sunnat yang dianjurkan ketika bepergian, seperti sholat sunnat dua rakaat menjelang berangkat, membaca do’a ketika berada diatas kendaraan yang dianjurkan dalam kagiatan bepergian apapun dan tidak terbatas pada perjalanan haji dan umrah saja. Perjalanan haji dianggap kegiatan yang penuh resiko, dan kegiatan-kegiatan sunnat yang dianjurkan dianggap antara lain berfungsi untuk menghindarkan resiko tersebut. Resiko yang dimaksud konon bahaya yang dihadapi selama dalam perjalanan dan godaan-godaan syaitan yang dapat menyebabkan ibadah yang dilakukan berkurang atau hilang nilainya.[8]

Pergi merantau untuk menunaikan ibadah haji dan saat itu utamanya pergi haji, biasanya dilepas dengan berbagai upacara, yang berkelanjutan sampai yang bersangkutan kembali. Maksud dari upacara-upacara ini ialah untuk keselamatan yang bepergian selama dalam perjalanan sampai kembali, jaminan bahwa ia akan bertemu kembali dengan anggota kerabat dekat yang melepasnya bepergian. Peramalan dan harapan agar dihormati orang selama dirantau, dan pemberian restu saat berangkat dan saat tiba kembali.[9]

Berikut ini akan digambarkan berturut-turut kegiatan upacara yang dilakukan menjelang kepergian seorang warga untuk menunaikan ibadah haji. Upacara pelepasan pada saat berangkat, selamtan-selamatan selama masih dirantau yang dilaksanakan oleh kerabat dekat yang tinggal dan upacara penerimaan kembali anggota kerabat yang kembali dari tanah suci.


  1. 1. Ritual Menjelang Keberangkatan


Pada malam menjelang berangkat diadakan selamatan dengan mengundang tetangga-tetangga dekat, kerabat dekat, dan seorang atau beberapa orang alim di kampung itu, yang akan memimpin acara berdo’a dan bacaan-bacaan yang dibaca secara bersama-sama. Di antarannya:

1.   Membaca Surah Yasiin,[10]

2.   Sholawat Kamilah[11] sebanyak 27 kali,

3.   Fatihah empat[12] tiga kali,

4.   Ayat Kursi,[13] dan diakhiri dengan

5.   membaca Surah Fatihah

Ada pula yang diisi dengan:


  1. Qasidah burdah,

  2. surah Yasiin,

  3. Fatihah empat, dan

  4. salawat Munjiah[14]


Ritual sebagaimana tersebut di atas diakhiri dengan do’a Halarat dan makan bersama. Saji-saji yang harus disediakan adalah:


  1. Nasi ketan dengan inti sekurang-kurangnya satu gantang,[15]

  2. Cucur[16],

  3. Tapai Ketan, dan

  4. Ketupat Bangsul,[17]


Saji-saji ini biasanya harus dibawa ditengah majlis sebelum dibacakan do’a halarat, yang sebenarnya dihidangkan untuk tamu-tamu ialah biasanya nasi dengan lauk pauknya ditambah dengan hidangan dari saji-saji tadi. [18]

Di Rangas dan Anduhum selamatan ini juga dilakukan sesudah sembahyang isya menjelang yang bersangkutan meninggalkan rumahnya siang berikutnya. Acaranya hanyalah membaca surah yasiin bersama dan do’a selamat, dan diakhiri dengan makan bersama, tanpa ada hidangan berupa saji seperti halnya di Dalam Pagar.

Selain daripada itu, di Dalam Pagar dan Martapura umumnya ada kebiasaan memintakan restu berupa sembahyang hajat untuk keselamatan yang berangkat kepada tokoh-tokoh ulama tertentu, baik yang berada di kampung sendiri ataupun yang agak jauh rumahnya. Besok paginya, beberapa saat sebelum meninggalkan rumah, juga diadakan selamatan, yang akan berangkat haji duduk dekat tawing halat,[19] dan di Dalam Pagar biasanya di atas lapik.[20] Acara dimulai dengan membaca: surah Yasiin bersama, kemudian do’a selamat atau
do,a halarat, kadang sebelum do’a dibaca pula sholawat kamilah bersama.

Di Dalam Pagar hidangan yang pokok ialah nasi ketan (dengan inti). Sedangkan di Rangas konon tidak ada hidangan wajib yang spesifik; disini sering dihidangkan kue-kue yang dibeli dari pasar. Di Dalam Pagar acara dilanjutkan dengan menepung tawari[21] yang akan berangkat oleh kerabat dekatnya yang akan tinggal dan para hadirin tertentu, lalu kemudian dihidangkan kepadanya saji berupa minyak kelapa, gula pasir, kacang hijau (mentah), garam dan air putih, masing-masing dalam sebuah tempat sendiri-sendiri dan sebuah piring berisi sebuah kelapa (sekerat), gula merah dan garam, kesemua saji ini biasanya diletakkan di dalam sebuah talam, yang bersangkutan diminta untuk memakan (dalam bahasa setempat dikatakan sebagai mengutup, menggigit dengan gigi seri) sedikit daripada yang dihidangkan dalam piring, dan apa yang lebih dahulu diambilnya konon meramalkan, atau mungkin lebih baik merupakan do’a dan harapan tentang perlakuan yang akan diterimanya selama dirantau.

Jika ia mengambil garam untuk dicicipinya, maka segala perkataannya akan diperhatikan orang dan ia akan memperoleh penghargaan di sana. Bila kelapa yang diambilnya konon segala perkataannya akan terasa enak didengar orang, dan bila yang diambilnya gula merah, segala yang dikatakannya atau diperbuatnya dirasakan manis atau sedap oleh orang, sebaliknya bila ia tidak mengambil salah satunya, konon pertanda segala perlakuan yang telah disebutkan tadi tidak akan diperolehnya dinegeri orang.[22]

Di Rangas dan Anduhum tidak diketahui adanya acara menepung tawari adanya saji berupa lambang kemakmuran, dan acara mengutup saji. Seperti yang terjadi di Dalam Pagar. Di sana acara langsung dilanjutkan dengan mengucapkan kalimat syahadat, yang dilakukan oleh si calon haji dan salah seorang kerabat dekatnya (orang tua, anak, saudara, suami, istri), yang akan ditinggalkan. Kerabat yang akan ditinggal mengucap kalimat syahadat yang diiringi oleh yang akan pergi dengan mengucapkan kalimat kedua. Konon karena kedua kalimat syahadat melambangkan Allah (kalimat pertama) dan Muhammad (kalimat kedua), yang adalah tidak akan terpisah selama-lamanya, maka yang berangkat (dilambangkan sebagai Muhammad) tidak akan meninggal dunia sebelum bertemu kembalidengan yang ditinggalkan (dilambangkan sebagai Allah).

Di Rangas segera, setelah membaca dua kalimat syahadat dibacakan adzan, lalu yang bersangkutan membaca do’a dan langsung berdiri dan keluar dari rumahnya, diiringi oleh orang banyak. Pada saat meninggalkan pintu salah seorang yang alim membacakan sholawat dan menghamburkan beras kuning yang di sahuti berasmai ramai. Tatkala duduk di atas kendaraan yang bersangkutan membaca do’a pula. Do’a yang di baca ketika akan turun dari rumah bsrisi penyerahan diri pada tuhan tentang kejadian kejadian yang akan dating, dan yang dibaca ketika dalam kendaraan pada pokoknya berisi pujian kepada Tuhan yang memungkinkan manusia menggunakan fasilitas angkutan yang mereka gunakan.[23]

2. Ritual Selama Masih Dirantau.

Sejak saat berangkat setiap malam Jum`at kerabat yang tinggal menyelenggarakan selamatan untuk keselamatan yang pergi. Di Rangas acaranya di mulai sejak senja, yaitu sembahyang magrib bersama, sembahyang hajat bersama, membaca surah Yasin bersama, do’a, sembahyang isya bersama, dan di akhiri dengan makan malam bersama. Di Dalam Pagar demikian juga adanya, hanya acara sembahyang hajat diganti dengan membaca sholawat kamilah atau sholawat munjiah bersama, sebagian ada yang memulainya sesudah sembahyang Isya atau pada siang hari Jum`at setelah kembali dari mesjid. Khusus pada malam hari Arafah (malam tanggal 9 Dzulhijjah), diadakan pula kegiatan selamatan yang sering dimulai sesudah sembahyang isya. Kali ini undangannya lebih banyak dari biasanya, sedang acaranya sering sama saja seperti selamatan pada malam sebelum berangkat.

Di Dalam Pagar konon selamatan ini penting sekali, karena saji-saji dan bacaan-bacaan akan dirasakan akibatnya oleh kerabatnya di Makkah, yaitu mengurangi panasnya terik matahari di sana.

3. Ritual  Penyambutan

Seperti halnya pada waktu berangkat, pada waktu penjemputan juga ramai. Beberapa orang tetangga dan kerabat dekat sengaja menjemput kelapangan terbang dan kemudian bersama-sama menuju rumah. Di rumah diadakan persiapan-persiapan, yaitu membuat pintu gerbang (lawang sakiping)[24] yang dihiasi dengan rumbai-rumbai (biasanya) daun kelapa muda, dan memasang langit-langit dari kain putih mulai dari pintu rumah ke pintu gerbang. Orang haji yang baru tiba harus melalui pintu gerbang dan lewat di bawah langit-langit itu ketika menuju rumahnya. Di Rangas, orang pulang haji tidak langsung menuju rumah, melainkan pergi ziarah terlebih dahulu ke kuburan orang tua atau kerabat dekat lainnya, ada juga dalam kesempatan itu singgah dahulu kekuburan keramat tertentu. Di kuburan itu ia membaca surah yasiin. Di Dalam Pagar acara ziarah biasanya dilakukan setelah beberapa hari kemudian. Pada saat menaiki anak tangga atau memasuki pintu di bacakan sholawat dan dihamburkan beras kuning, seperti halnya ketika berangkat. Setelah menyalami hadirin, kadang-kadang disertai pelukan hangat, ia segera mengambil tempat duduk di atas lapik yang telah disiapkan di dekat tawing halat, lalu ada acara mengembalikan bacaan syahadat atau menyatukan kembali dua kalimat syahadat.

Di Rangas acaranya segera berakhir dengan do’a dan hidangan makanan kecil. Di Dalam pagar sebelum menyatukan kembali dua kalimat syahadat, kerabat yang ditinggalkan menepung tawari kerabatnya yang baru tiba, baru kemudian acara mempersatukan dua kalimat syahadat, lalu diakhiri dengan pembacaan do’a. hidangan yang teradat di kampung terakhir ini adalah nasi ketan dengan inti, kadang-kadang ditambah dengan hidangan lain. Berkenaan dengan pelukan hangat bagi atau dari seorang haji baru tampaknya mempunyai nilai tersendiri, berkat yang diperoleh sang saji biasanya memerlukan sekali menggunakan harum-haruman yang sengaja dibawanya dari negeri yang jauh itu. Pelukan-pelukan hangat ini juga diberikannya kepada tetangga-tetangganya di mesjid pada minggu-minggu pertama ia mengikuti sembahyang Jum`at.[25]

D.  ANALSIS

1. Terlalu Mementingkan  Ibadah Sunnat

Ibadah haji diwajibkan hanya sekali dalam seumur hidup, seterusnya adalah sunnat. Ada orang yang menunaikan ibadah haji berkali-kali, dan ia berniat bahwa haji yang ia tunaikan itu bukan kali yang terakhir. Artinya orang itu berupaya menegakkan yang sunnat, padahal banyak sekali kewajiban lain yang perlu ditegakkan seperti menggangkat sanak familinya dari lembah kebodohan dan Lumpur kemaksiatan.

Sekali berhaji diperlukan dana tidak kurang dari 30 juta rupiah[26]. dimana dana itu dapat digunakan untuk membiayai sekolah seorang anak terlantar barangkali dari TK sampai SMU, atau digunakan untuk mencetak buku-buku agama untuk dibagikan secara gratis kepada masyarakat muslim yang tertinggal di daerh-daerah terasing, atau membantu saudara kita umat islam lainnya yang berurai air mata di lembah kemiskinan dan kefakiran. Nabi Saw memperingatkan ; Kaadal faqru ayya-kuuna kufran; hampir-hampir kefakiran itu mengakibatkan kekufuran”.

Oleh karenanya mengangkat saudara kita muslim dari kancah penderitaan adalah suatu kewajiban yang harus kita laksanakan dalam hidup bermasyarakat. Nabi Saw bersabda : “Man qadhaa li akhikhil muslim haajatan kaana lahu minal ajri Kaman hajja wa’tamara; artinya : “Barangsiapa (orang muslim) yang menyelesaikan hajat / keperluan seseorang muslim lainnya, ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah”.

Terlalu mementingkan hal yang sunnat bisa dikatakankan menurutkan hawa nafsu yang tercela, karena hawa nafsu bukan saja pada hal-hal yang berakibat kem
aksiatan, tetapi juga pada hal-hal yang kita perkirakan “kebaikan”. Ibnu Atha’illah al-Askandari berkata : “tanda seseorang dikategorikan menuruti hawa nafsu ialah bersegeranya melaksanakan ketaatan bersifat sunnat, tetapi melalaikan kewajiban fardhu”.[27]

2. Haji Sebagai Lambang Kehormatan

Orang yang sudah bergelar haji akan mendapat penghormatan yang lebih dari yang tidak, gelar haji sepertinya ada pengaruh tersendiri bagi masyarakat Banjar. Jika mereka memang alim sebelumnya, penghormatan orang kepadanya lebih meningkat sekembalinya dari Makkah. Jika mereka sudah agak berumur, mereka biasa dipanggil sebagai tuan (pa tuan, untuk pria dan ma tuan, untuk wanita) atau haji (pa haji atau ma haji). Bagi orang-orang Banjar mempunyai seorang kerabat yang bermukim di Makkah, apapun juga pekerjaannya, merupakan kebanggaan tersendiri. Bayangan orang selalulah bermukim di Makkah berarti mengaji, dan mereka yang kembali biasanya mendapat penghormatan sebagai ulama, meskipun lama kelamaan mungkin penghormatan itu merosot. Namun kenyataannya mereka pernah bermukim di Makkah tetap menyebabkan mereka dianggap lebih dari orang lain.

Hal ini sudah melenceng dari konsep Islam yang memandang  seseorang dari taqwanya bukan dari kedudukannya, juga akan mengubah kegairahan menunaikan ibadah haji yang dilandasi niat suci, bisa berubah menjadi ingin dihormati, ingin di katakana orang kaya, dan ingin dikatakan sebagai orang yang sudah tidak berdosa.

3. Ritual Haji Menjadi Wajib

Ritual haji sangat berpengaruh positif,  terhadap orang yang menunaikan ibadah haji maupun bagi sanak kerabat  yang ditinggalkan. Bagi orang yang pergi haji, meninggalkan kampung halaman dalam waktu lama, akan merasa terhibur dengan pelepasan yang  meriah dan sangat ritual serta penyambutan yang lebih meriah ketika kembali ke kampung halaman.

Begitu juga dengan sanak kerabat yang ditinggalkan, terlebih  lagi ketika yang menunaikan ibadah haji masih berada di Mekkah. Mereka meyakini orang yang menunaikan haji senantiasa dilindungi oleh Allah ketika berangkat sampai kembali  dengan ritual-ritual yang mereka jalankan di kampung halaman. Karena tujuan ritual yang mereka lakukan adalah untuk memohon keselamatan bagi yang pergi selama dalam perjalanan sampai kembali, dan dipertemukan kembali dengan anggota keluarganya, serta ketika dalam melaksanakan ibadah haji tidak ada gangguan-gangguan yang menghambat perjalanan ibadah mereka.

Sisi negatifnya adalah, ritual-ritual yang mereka laksanakan di yakini menjadi sebuah kewajiban yang kalau ditinggalkan akan berdosa. Hal ini bisa di artikan menambah syariat Islam yang sudah sempurna.

E.  KESIMPULAN

Pergi haji bagi masyarakat Banjar adalah ibadah yang sangat didambakan, oleh karena itu ketika ada kesempatan, ongkos yang mencukupi, mereka tidak akan menyia-nyiakannya, berbagai ibadah sunat mereka mereka kerjakan demi menambah nilai pahala ritualitas ibadah haji. Ketika mereka berangkat, mereka dilepas dengan berbagai upacara, yang berkelanjutan sampai mereka tiba kembali ke Tanah Air.

Walaupun ibadah haji hanya diwajibkan sekali dalam seumur hidup, namun kegairahan masyarakat Banjar untuk melaksanakannya lagi tetap tinggi. Padahal seandainya mereka pergunakan uangnya untuk keperluan membantu keluarga ataupun masyarakat lainnya yang kurang mampu, umpamanya membiayai anak-anak untuk terus bisa melanjutkan pendidikan lebih tinggi lagi, sehingga akan menjadi generasi yang handal.

Orang yang sudah bergelar haji akan mendapat penghormatan yang lebih dari yang tidak. Bagi orang-orang Banjar mempunyai seorang kerabat yang bermukim di Makkah, apapun juga pekerjaannya, merupakan kebanggaan tersendiri. Bayangan orang selalulah bermukim di Makkah berarti mengaji.

Banyak pengaruh positif yang di hasilkan dalam ritual haji, namun di balik semua itu ada juga pengaruh negatif yang mengancam keimanan dan harus di benahi.


DAFTAR PUSTAKA




Banjarmasinpost, Daftar Haji Didata Ulang, http://www.banjarmasinpost.co.id /content/ view/ 9385/ 288/

Daud, Alfani. Islam dan Masyarakat Banjar. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997

Nafarin, Husin. Fikrah. Refleksi Nilai-nilai Islam dalam Kehidupan. Jakarta: El-Kahfi, 2004

DAFTAR ISI




HALAMAN JUDUL  ………………………………………………………….          i

DAFTAR ISI  …………………………………………………………………..         ii

HAJI DAN MASYARAKAT BANJAR



A.  PENDAHULUAN   ………………….…………………………………….         1

B. GAIRAH NAIK HAJI ORANG BANJAR ……………………………….         2

C. RITUAL HAJI ORANG BANJAR ……………………………………….         3


  1. Ritual Menjelang Keberangkatan    …………………………………….         4

  2. Ritual Selama Masih Dirantau. …………………………………………         8

  3. Ritual  Penyambutan   …………………………………………………..         9


D.  ANALSIS   …………………………………………………………………       10

1. Terlalu Mementingkan  Ibadah Sunnat   …………………………………       10

2. Haji Sebagai Lambang Kehormatan …………………………………….       11

3. Ritual Haji Menjadi Wajib    ……………………………………………..       12

E.   KESIMPULAN    …………………………………………………………..       13

DAFTAR PUSTAKA     ……………………………………………………….       14



[1] Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1997) . Cet. 1, h. 1-4

[2] Ibid, h. 5

[3] Ibid, h. 143-173

[4] Ibid, h. 173

[5] Banjarmasinpost, Daftar Haji Didata Ulang, http://www.banjarmasinpost.co.id /content/ view/ 9385/ 288/

[6]Alfani Daud, Op.cit, h. 173

[7] ibid., h. 188.

[8]ibid, h.  223.

[9] Ibid, h. 475

[10] Surah ke 36 dari Al-Qur`an

[11]Shalawat Kamilah adalah Salawat yang sempurna, yang dipercayai akan memperluas rezki orang yang mengamalkannya

[12] Istilah untuk membaca empat surah pendek yaitu Surah Al-Fatihah, As-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas

[13] Ayat kuris juga sering disebut dengan  ayat Allahula, yaitu ayat 225 dari  Al-Qur`an Surah Al-Baqarh.

[14] salawat yang menyelamatkan, dipercayai akan melindungi orang yang mengamalkannya dari malapetaka yang akan menimpa

[15] Gantang adalah takaran yang biasanya digunakan oleh masyarakat Banjar untuk menakar beras, satu Gantang kurang leibh 4 liter.

[16] Nama kue yang terbuat dari tepung beras berbentuk lempeng

[17] salah satu bentuk ketupat ini dimasak dengan santan Penghidangan ketupat bangsul merupakan harapan yang akan pergi haji tetap bangsul/kembali r/>
[18] Alfani Daud, Op. cit, h. 173

[19] Tawing halat yaitu dinding rumah yang terletak di ruang tengah, dipercayai sebagai penghalat dari segala kejahatan orang-orang halus.

[20] Lapik, merupakan susunan dari tapih/sarung yang disusun sedemikian rupa.

[21] Memercikkan air dicampur minyak likat baboreh dengan menggunakan anyaman daun kelapa yang disebut tepung tawar

[22] Alfani Daud, Op. cit., 475-477.

[23] Ibid

[24] Terbuat dari papan/ triplek yang dibentuk, berupa mesjid didirikan dimuka jalan , pada jalan yang akan dilewati oleh orang yang dating haji.

[25] Ibid., h.478-479.

[26] ONH Tahun 2006 Rp 27.000.000,- dan Tahun 2007 sekitar Rp. 28.500.000,-

[27] Husin Nafarin, Fikrah. Refleksi Nilai-nilai Islam dalam Kehidupan (Jakarta Selatan : el-Kahfi, 2004), h. 8-9.

MANDI HAMIL BAGI MASYARAKAT BANJAR, WAJIB KAH?

banjar MANDI HAMIL BAGI MASYARAKAT BANJAR, WAJIB KAH? Berbagai upacara mandi yang ditemukan di lapangan ialah upacara mandi menjelang kawin pertama kali, upacara mandi bagi seorang wanita yang pertama kali hamil, berbagai upacara mandi sebaagi cara penyembuhan, dan mandi sebagai salah satu syarat atau bentuk amalan.

Tidak semua wanita yang hamil pertama kali harus menjalani upacara mandi. Konon yang harus menjalaninya ialah yang keturunannya secara turun temurun memang harus menjalaninya. Pada upacara mandi hamil, mungkin si calon ibu sebenarnya bukan tergolong yang wajib menjalaninya, tetapi konon bayi yang dikandungnya mungkin mengharuskannya melalui ayahnya dan dengan demikian si calon ibu ini pun harus menjalaninya pula. Lalai melakukan upacara itu konon menyebabkan yang bersangkutan atau salah seorang anggota kerabat dekat “dipingit”. Sebagai akibat peristiwa “pemingitan” itu proses kelahiran berjalan lambat.[1]

Seperti sudah dikemukakan di atas, tidak semua wanita hamil pertama kali harus melakukan upacara mandi. Yang harus melakukannya hanyalah mereka yang memang keturunan dari orang-orang yang selalu melaksanakannya. Namun dalam kenyataannya banyak ibu-ibu muda yang melaksanakan upacara itu dalam bentuknya yang sangat sederhana, meskipun konon sebenarnya tidak ada keharusan baginya untuk melakukan hal itu.

Di Anduhum dan di Rangas prosedur yang lengkap tidak berhasil ditemukan, sekalipun dinyatakan sebagian ada dilakukan oleh keturunan tertentu. Di kalangan mereka yang secara tradisional melaksanakannya pun tampaknya ada kecendrunagn untuk menyederhanakan upacara itu, mungkin karena menghindarai pembiayaannya yang besar.

Untuk melaksanakan upacara ini kadang-kadang dipadakan saja dengan meminta banyu baya kepada seorang bidan, membuat banyu Yasin sendiri yang kemudian dicampur dengan bunga-bungaan dan melakukan sendiri upacara di rumah yang dibantu oleh wanita-wanita tua yang masih berhubungan kerabat dekat dengannya atau dengan suaminya.

Sebagai syarat melaksanakan upacara mandi ini disiapkan nasi ketan dengan inti, yang dimakan bersama setelah upacara selesai. Upacara mandi yang demikian sederhana ini sebenarnya juga dilaksanakan pada kehamilan ketiga, kelima dan seterusnya di Dalam Pagar dan sekitarnya, khususnya apabila terdapat kesukaran pada kehamilan sebelumnya.[2]


MASA KEHAMILAN

1. Upaya Mendapatkan Keselamatan

Wanita yang hamil pertama kali (tian mandaring) harus diupacara mandikan. Keharusan melakukan upacara mandi hamil ini konon hanyalah berlaku bagi wanita nag turun temurun melakukan upacara ini. Seorang wanita yang keturunannya seharusnya tidak mengharuskan dilakukannya upacara itu, tetapi karena kondisi si bayi dalam kandungan mengharuskannya melalui ayahnya, si wanita itu harus pula menjalaninya. Jika tidak konon wanita itu dapat dipingit, sehingga umpamanya si bayi lambat lahir dan akibatnya ia sangat menderita karenanya.[3]

Dalam kehidupan masyarakat Banjar yang masih terikat akan tradisi lama, apabila seseorang wanita yang sedang hamil untuk kali pertamanya, ketika usia kehamilan mencapai tiga bulan atau pada kehamilan tujuh bulan maka diadakanlah suatu upacara dengan maksud atau tujuan utama untuk menolak bala dan mendapatkan keselamatan. Karena menurut kepercayaan sebagian masyarakat Banjar, bahwa wanita yang sedang hamil tersebut suka diganggu mahluk-mahluk halus yang jahat.[4]

Upacara ini juga mempunyai maksud dan tujuan untuk keselamatan bagi ibu yang sedang hamil serta keselamatan bagi seluruh keluarganya. Bagi masyarakat Banjar Hulu Sungai khususnya, menganggap bahwa angka ganjil seperti 3, 7 dan 9 bagi yang hamil merupakan saat-saat yang dianggap sakral. Bukankah kelahiran sering terjadi pada bulan ke7 dan bulan ke-9? Dan menurut kepercayaan mereka bahwa roh-roh halus dan hantu selalu berusaha mengganggu si ibu dan dan bayi dalam kandungan, karena menurut mereka bahwa wanita hamil 3 bulan itu baunya harum.[5]

Pada masyarakat Banjar Batang Banyu telah diketahui ada suatu upacara yang disebut “Batapung Tawar Tian (hamil) Tiga Bulan”, menyusul kemudian dilaksanakan upacara mandi “Tian Mandaring” ketika kehamilan telah berusia tujuh bulan. Tetapi pada masyarakat Banjar Kuala sampai saat ini hanya mengenal dan melakukan upacra mandi “Tian Mandaring” atau sering pula disebut upacara mandi “Bapagar Mayang”. Dikatakan demikian karena upacara tersebut dikelilingi oleh benang yang direntangkan dari tiang ke tiang tersebut di tebu (manisan) serta tombak (bila ada), sehingga merupakan ruang persegi empat pada benang-benang tersebut disangkutkan mayang-mayang pinang dan kelengkapan lainnya. Adapun tata pelaksanaan upacara “Mandi Tian Mandaring” ini akan dikupas pada pembahasan selanjutnya.

Upacara mandi dengan bepagar mayang ini kebanyakan dilaksanakan oleh kelompok, tutus bangsawan atau tutus candi, tetapi pada kebanyakan rakyat biasa atau orang yang tidak mampu tetapi ingin melaksanakan upacara in, maka pelaksanaan cukup sederhana saja tanpa menggunakan pagar mayang.

Selain upacara yang berupa mandi tersebut, adapula beberapa upaya yang diusahakan oleh para orang tua untuk anak atau menantunyayang sedang hamil sebagai wujud sebuah pengharapan dari seluruh keluarga agar ibu yang akan melahirkan kelak selamat dan tidak ada gangguan pada saat persalinan (kada halinan) serta anak yang lahir sempurna keadaannya. Upaya-upaya tersebut antara lain:

1. Mengingatkan anak menantunya yang sedang hamil untuk menghindari dari hal-    hal yang bersifat pantangan (tabu).

2. Memberikan doa atau bacaan al-Qur’an untuk dijadikan amalan selama masa     kehamilan.

3. Meminta air (banyu tawar) yang telah dibacakan doa-doa dari seorang tabib atau     orang pintar.[6]

2. Hal-hal yang Berupa Pantangan

Sebagian dari kelompok masyarakat yang masih memakai adat tradisi lama, hal-hal yang bersifat pantangan atau pamali masih mereka yakini, namun sebagiannya tidak memperdulikan hal-hal yang bersifat pantangan tersebut. Sebab sebagian beranggapan bahwa hal-hal yang seperti tidak masuk akal (mustahil) dapat mempengaruhi kehamilan. Hal-hal yang berupa pantangan tersebut antara lain:

1. Tidak boleh duduk di depan pintu, dikhawatirkan akan susah melahirkan.

2. Tidak boleh keluar rumah pada waktu senja hari menjelang waktu maghrib,     dikhawatirkan kalau diganggu mahluk halus atau roh jahat.

3. Tidak boleh makan pisang dempet, dikhawatirkan anak yang akan dilahirkan akan     kembar dempet atau siam.

4. Jangan membelah puntung atau kayu api yang ujungnya sudah terbakar, karena     anak yang dilahirkan bisa sumbing atau anggota badannya ada yang buntung.

5. Jangan meletakan sisir di atas kepala, ditakutkan akan susah saat melahirkan.[7]

6. Dilarang pergi ke hutan, karena wanita hamil menurut kepercayaan mereka baunya     harum sehingga mahluk-mahluk halus dapat mengganggunya.

7. Dilarang menganyam bakul karena dapat berakibat jari-jari tangannya akan     berdempet menjadi satu.[8]

Pantangan-pantangan tersebut di atas bukan hanya pada si calon ibu saja, tetapi juga berlaku terhadap suaminya.

3. Pemeliharaan Kehamilan dan Keselamatan

Cara pemeliharaan kehamilan tidaklah berbeda dengan wanita-wanita dari suku lain. Pusat Kesehatan Masyarakat (puskesmas) banya
k mereka kunjungi untuk memeriksa kehamilan. Selain itu pemeriksaan kehamilan secara tradisional pun mereka lakukan yaitu dengan cara:

1. Melakukan pijatan atau dengan istilah Banjar “Baurut” pada seorang dukun      beranak atau bidan kampung yang ahli dalam bidang pijatan (urut).

2. Membatasi diri untuk tidak terlalu suka minum air es.

3. Memperbanyak makan sayur dan buah-buahan.

4. Jika perut terasa sakit karena masuk angin, oleh bidan kampung disuruh     meminum air rebusan gula merah dengan jahe (tipakan).

5. Jika kaki bengkak, maka digosok dengan wadak panas atau ramuan beras kencur.

UPACARA MANDI HAMIL

1. Nama Upacara dan Tahap-tahapnya.

Berbagai nama bagi upacara mandi hamil ialah: mandi-mandi matian, mandi baya, mandi bepapai dan badudus. Dinamakan mandi baya karena menggunakan antara lain banyu baya, air yang disiapkan oleh bidan khusus untuk keperluan tersebut. Dinamakan bapapai karena memapai, yaitu memercikan air dengan berkas daun-daunan, merupakan salah satu acara pokok dalam upacara ini. Badudus ialah istilah lain bagi upacara mandi (bandingkan dengan duduk dalam ras.1968: Glosary dan Index), demikian pula mandi-mandi atau bamandi-mandi. Tambahan kata batian pada istilah mandi-mandi untuk membedakannya dengan upacara mandi lainnya (hamil, batian, memperoleh hamil). Kata baya dalam ungkapan banyu baya dan mandi baya tidak jelas artinya.[9]

Untuk mengetahui makna atau pengertian, baiklah kita lihat atau kita tinjau dari pengertian istilah atau nama dari upacara ini, yaitu “Betapung Tawar Tian Tiga Bulan”. Betapung berasal dari kata tapung dalam bahasa Banjar maksudnya mengikat atau mendekatkan antara satu benda dengan benda yang lain. “Ba” adalah satu awalan dalam bahasa Banjar, di mana digunakan untuk menunjukan pekerjaan dan berfungsi sebagai penegas dari kata tapung. Sedangkan tawar berarti terang atau selamat. Sedangkan tian maksudnya adalah kehamilan atau hamil atau kandungan yang berada dalam rahim ibu yang sedang mengandung.

Oleh Karena itu Batapung Tawar Tian Tiga Bulan berarti suatu upacara yang bertujuan untuk mendapatkan keselamatan bagi wanita yang sedang hamil atau mengandung tiga bulan.

Secara kata atau istilah berarti bahwa Batapung Tawar Tian Tiga Bulan ialah memercikan air tepung tawar kepada wanita yang sedang hamil tiga bulan.[10]

2. Waktu Penyelenggaraan Upacara

Upacara mandi ini harus dilaksanakan pada umur kehamilan tujuh bulan atau tidak lama sesudahnya. Upacara mandi ini harus dilaksanakan pada waktu turun bulan, khususnya pada hari-hari dalam minggu ke tiga bulan Arab. Apabila karena sesuatu hal upacara mandi tidak dapat dilaksanakan pada waktu tersebut, pelaksanaannya ditunda pada bulan berikutnya. Juga upacara ini harus dilaksanakan pada waktu turun matahari, upacara ini biasanya dilakukan sekitar jam 14.00 dan tidak pernah setelah jam 16.00. Secara darurat upacara mandi ini pernah dilaksanakan di Dalam Pagar, yaitu pada saat si wanita sudah hampir melahirkan. Si wanita ini sudah lama sakit akan melahirkan, dan oleh bidan yang menolongnya dinyatakan bahwa meskipun si wanita bukan keturunan yang harus melakukan upacara itu, tetapi si bayi mengharuskannya melalui ayahnya. Oleh karena itu upacara mandi secara darurat dilaksanakan, yaitu hanya sekedar menyiram dan memerciki si ibu dengan banyu baya. Segera setelah selesai dimandikan tersebut konon lahirlah bayinya.

3. Tempat Penyelenggaraan Upacara

Para informan di Dalam Pagar menyatakan upacara ini harus dilaksankan di dalam pagar mayang. Pada upacara yang berhasil diamati di Akar Bagantung dan Teluk Selong (1979), pagar mayang memang digunakan, tetapi pada upacara mandi yang dilaksanakan di Dalam Pagar (1980) tidak dibangun pagar mayang, melainkan cukup dilaksanakan di atas palatar belakang.[11]

4. Pihak yang Terlibat dalam Upacara

Pihak yang terlibat dalam upacara ini di antaranya:

  • Orang tua dari kedua belah pihak baik itu ibu kandung atau ibu mertua.
  • Saudara-saudara, kerabat-kerabat seperti julak (saudara ibu), uma kacil (adik ibu)   dan begitu pula dari pihak mertua.
  • Di pimpin oleh bidan kampong (dukun beranak) dan Tuan Guru (mualim) yang    membacakan doa selamat setelah upacara berakhir.

Selain pihak-pihak di atas masih ada yang terlibat dalam upacara tersebut, yakni para undangan yaitu wanita-wanita tetangga dan kerabat dekat, umumnya terdiri dari ibu-ibu muda dan wanita-wanita muda yang sudah kawin. Wanita-wanita tua yang hadir biasanya adalah mereka yang banyak tahu tentang upacara ini atau karena diperlukan untuk membantu bidan melaksanakannya.

5. Persiapan dan Perlengkapan Upacara

Upacara mandi hamil mengharuskan tersedianya 40 jenis penganan atau “wadai ampat puluh”. Mungkin sebenarnya berjumlah 41, atau bahkan lebih. Wadai 40 ini terdiri dari: apam (putih dan merah), cucur (putih dan merah), kawari, samban, tumpiangin (sejenis rempeyek di Jawa, tetapi kali ini tidak menggunakan kacang tanah melainkan kelapa iris), cicin (cincin, perhiasan dipakai di jari, dua jenis dan tiga warna), parut hayam (perut lilit ayam, tiga warna), sarang samut (sarang semut, tiga warna), cangkaruk (cengkaruk), ketupat (empat jenis), nasi ketan putih (dengan inti di atasnya), wajik, kokoleh (putih dan merah), tapai, lemang, dodol, madu kasirat (sejenis dodol tapi masih muda), gagati (empat jenis), dan sesisir pisang mahuli.[12]

Sedangkan hidangan untuk para tamu ialah nasi ketan (dengan inti) dan apam dari wadai 40 ini, tetapi bisa juga ketupat dan sayur tumis ditambah dengan nasi ketan, atau hidangan lainnya. Tetapi di Anduhum konon kadang-kadang ada keharusan (dahulu) menghidangkan bubur ayam, yang mungkin mengandung perlambang tertentu pula. Dapat diduga meskipun terdapat kesamaan dalam jumlah jenis penganan yang harus dihidangkan pada upacara mandi hamil di Martapura namun terdapat perbedaan tentang keharusan adanya jenis-jenis penganan tertentu tergantung pada kerabat yang melaksanakannya. Pada upacara mandi yang diamati di Dalam Pagar terdapat detail-detail seperti yang akan dijelaskan di bawah ini.

Kue apam dan cucur, masing-masing berwarna merah dan putih, adalah kue-kue yanag biasa dipergunakan sebagai syarat upacara batumbang, yang dilaksanakan setelah upacara mandi selesai. Kue samban dan kawari merupakan lambang jenis kelamin bayi yang akan lahir. Samban melambangkan jenis kelamin perempuan dan kawari melambangkan jenis kelamin pria. Apam, cucur, kokoleh, wajik, nasi ketan, dodol dan madu kasirat merupakan kue-kue yang harus ada karena menggunakan air sungai Kitanu. Nasi ketan kuning dan telur rebus di atasnya merupakan sajian untuk buaya kuning yang konon (dahulu) menghuni sebuah lubuk dekat balai padudusan di tepi sungai Kitanu. Kue gagati jumlahnya harus sembilan dan ketupat jumlahnya harus tujuh. Tidak berhasil diungkapkan untuk siapa disajikan dan mengapa harus sembilan dan tujuh, sedangkan kue-kue lainnya tidak harus demikian.

Di Dalam pagar mayang, atau di tempat upacara mandi akan dilaksanakan, diletakan perapen, dan berbagai peralatan mandi. Sebuah tempayan atau b
ejana plastik berisi air tempat merendam mayang pinang (terurai), beberapa untaian bunga (kembang berenteng), sebuah ranting kambat, sebuah ranting balinjuang dan sebuah ranting kacapiring. Sebuah tempat air yang lebih kecil berisi banyu baya, yaitu air yang dimantrai oleh bidan, sebuah lagi berisi banyu Yasin, yaitu air yang dibacakan surah Yasin, yang sering dicampuri dngan banyu Burdah yaitu air yang dibacakan syair Burdah. Selain itu pada pengamatan di Dalam Pagar, terdapat sebuah gelas berisi air (banyu) sungai Kitanu. untuk keperluan mandi ini terdapat juga kasai (bedak, param) temugiring dan keramas asam jawa atu jeruk nipis. Dahulu, sebagai tempat duduk si wanita hamil itu diletakan sebuah kuantan (sejenis panci terbuat dari tanah yang diletakan tengkurap dan di atasnya diletakan bamban (bamban bajalin). Merupakan alat mandi pula ialah mayang pinang yang masih dalam seludangnya, kelapa tumbuh (berselimut kain kuning), benang lawai dan kelapa muda.

Untuk keperluan mandi hamil diperlukan dua buah piduduk. Sebuah akan diserahkan kepada bidan yang memimpin upacara dan yang membantu proses kelahiran, dan sebuah lagi sebagai syarat upacara. Yang pertama dilengkapi dengan rempah-rempah dapur, sedangkan yang sebuah lagi termasuk di dalamnya alat-alat yang diperlukan untuk melahirkan, ayam, pisau dan sarung berwarna kuning. Konon jenis kelamin ayam harus sesuai denagn jenis kelamin bayi yang akan lahir, sehingga praktis tidak mungkin disediakan, dan demikian pula alat-alat yang diperlukan untuk melahirkan biasanya juga belum tersedia, namun harus tegas dinyatakan sebagai ada. Bagian dari piduduk yang belum tersedia ini dikatakan sebagai “dihutang”, sebagai syarat menyediakan barang yang belum ada ini harus disediakan nasi ketan dengan inti, yang dihidangkan kepada hadirin setelah upacara selesai.

6. Proses Upacara

Berikut upacara mandi yang terjadi di Teluk Selong, sebuah kampung yang terletak bersebrangan sungai dengan Dalam Pagar.

Wanita hamil yang diupacarakan memakai pakaian yang indah-indah dan memakai perhiasan, duduk di atas lapik di ruang tengah sambil memangku sebiji kelapa tumbuh yang diselimuti kain kuning menghadapi sajian wadai ampat puluh. Setelah beberapa lama duduk dengan disaksikan oleh para undangan wanita, perempuan hamil itu turun ke pagar mayang sambil menggendong kelapa tumbuh tadi. Ketika ia turun ke pagar mayang, ia menyerahkan kelapa yang digendongnya kepada orang lain, bertukar pakaian dengan kain basahan kuning sampai batas dada, lalu duduk di atas bamban bajalin, sedemikian sehingga kuantan tanah langsung remuk. Para wanita tua yang membantunya mandi (jumlahnya selalu ganjil, sekurang-kurangnya tiga dan paling banyak tujuh orang dan seorang di antaranya bertindak sebagi pemimpinnya, yaitu biasanya bidan) menyiraminya dengan air bunga, membedakinya dengan kasai temugiring lalu mengeramasinya.

Selanjutnya para pembantunya itu berganti-ganti mamapaikan berkas mayang, berkas daun balinjuang dan berkas daun kacapiring kepadanya dan kadang-kadang juga kepada hadirin di sekitarnya. Proses berikutnya ialah menyiramkan berbagai air lainnya, yaitu banyu sungai Kitanu, banyu baya, yang telah dicampur dengan banyu Yasin atau banyu doa, dan banyu Burdah. Setiap kali disiram dengan air-air tersebut, si wanita hamil diminta untuk menghirupnya sedikit. Sebuah mayang pinang yang masih belum terbuka dari seludangnya diletakkan di atas kepala wanita hamil tersebut lalu ditepuk, diusahakan sekali saja sampai pecah. Mayang dikeluarkan dari seludangnya lalu diletakkan di atas kepala wanita hamil dan disirami dengan air kelapa muda tiga kali berturut-turut dengan posisi mayang yang berbeda-beda. Kali ini juga airnya harus dihirup oleh wanita hamil itu.

Kemudian diambil dua tangkai mayang dan diselipkan di sela-sela daun telinga si wanita hamil masing-masing sebuah. Lalu dua orang perempuan tua membantunya meloloskan lawai dari kepala sampai ke ujung kaki, tiga kali berturut-turut. Untuk melepaskan lawai dari kakinya, pada kali yang pertma ia melangkah ke depan, kali yang ke dua melangkah ke belakang dan terakhir kembali melangkah ke depan.

Sesudah itu badannya dikeringkan dan ia berganti pakaian lalu keluar dari pagar mayang. Di luar telah tersedia sebiji telur ayam yang harus dipijakinya ketika melewatinya. Ketika ia keluar untuk kembali ke ruang tengah ini dibacakan pula shalawat berramai-ramai. Di ruang tengah si wanita hamil itu kembali duduk di atas lapik di hadapan tamu-tamu, disisiri dan disanggul rambutnya.  Pada saat itu juga di tepung tawari, yaitu dipercikan minyak likat beboreh dengan anyaman daun kelapa yang dinamakan tepung tawar.

Setelah itu lalu batumbang dibacakan doa selamat oleh salah seorang hadirin. Sementara itu si wanita hamil menyalami semua wanita yang hamil menyalami semua wanita yang hadir, lalu masuk ke dalam kamarnya. Setelah itu hidangan pokok diedarkan dan kemudian ditambah dengan hidangan tambahan berupa nasi ketan (dengan inti), apam, cucur dan kue-kue lainnya yang sebelumnya dipamerkan sebagai saji. Sebagian kue saji harus disiapkan untuk dibawa pulang oleh bidan dan perempuan-perempuan tua yang tadi membantu si wanita hamil itu mandi.

7. Arti Lambang dan Makna di Balik Upacara

Dalam upacara mandi ini dilambangkna kelancaran proses kelahiran dengan berbagai cara, yaitu:

  1. Pecahnya kuantan tanah ketika diduduki melambangkan pecahnya ketuban.
  2. Pecahnya mayang dengan sekali tepuk saja menandakan proses  kelahiran akan     berjalan dengan lancar, tetapi bila perlu ditepuk beberapa kali agar pecah, konon     menandakan proses kelahiran akan terganggu (halinan baranak), meskipun          diharapkan akan berakhir dengan selamat juga.
  3. Proses kelahiran diperagakan dengan meloloskan lawai pada tubuh si wanita     mengisyaratkan mudahnya proses itu.
  4. Pecahnya telur ketika dipijak juga melambangkan prose kelahiran yang cepat pula.
  5. Kelapa tumbuh yang dipangku dan kemudian digendong melambangkaan bayi.
  6. Memerciki dengan tepung tawar ialah guna memberkatinya.
  7. Dan batumbang konon akan memperkuat semangatnya.

PENUTUP

Pada sebagian masyarakat Banjar dalam hal kehamilan masih melakukan daur hidup yang berupa upacara adat maupun berupa hal-hal yang dipercayai sehingga menimbulkan adanya pantangn atau tabu.

Upacara kehamilan yang berupa upacara mandi tian mandaring sampai sekarang masih berlangsung terutama sering dilakukan di daerah-daerah pedesaan yang masih kuat dengan tradisi dalam kehidupan sehari-hari sedangkan pada masa perkotaan yang sudah mengalami perkembangan kemajuan alam pikiran dan teknologi sebagian telah meninggalkan beberapa upacara adat dan tidak lagi mengindahkan berupa hal-hal yang dipercayai yang bersifat mustahil. Kalaupun mereka lakukan, kadang-kadang sudah berpadu dengan unsur modern. Baik dalam adat upacara maupun dalam pelaksanaan upacara lebih menitik beratkan pada unsur-unsur yang praktis daripada unsur-unsur yang bersifat magis.

Bagi masyarakat Banjar yang masih memakai adat, terutama yang berhubungan dengan kehamilan dan kelahiran dengan segala pantangannya, dalam hal upacara adat selalu mereka selenggarakan walaupun diimplemantasikan dalam bentuk upacara yang sangat sederhana sekali sebatas sebagai persyaratan belaka. Karena mereka khawatir akan dapat berakibat buruk terhadap bayi yang dikandungnya apabila tidak melaksanakan upacara adat. Oleh karena tujuan utama penyelenggaraan upacara untuk mengusir r
oh-roh jahat yang dapat mengganggu kehamilan.

Adanya lapisan kebudayaan lama / asli dengan segala unsur religinya yang berakulturasi yang mana unsur agama lebih banyak sekali mempengaruhi adat  istiadat kebudayaan masyarakat Banjar. Karena masyarakat Banjar merupakan penganut agama Islam yang kuat, namun walaupun demikian sebagian masyarakat Banjar masih mempercayai kepercayaan lama yang berupa kepercayaan terhadap roh-roh halus yang dapat mengganggu kehidupannya. Karena itu setiap upacara adat yang merupakan daur hidupnya suku Banjar dilaksanakan secara Islami namun tidak meninggalkan unsur kepercayaan lama, dan sampai sekarang masih berkembang di masyarakat walaupun sebagiannya sudah hampir punah.

DAFTAR RUJUKAN

  1. Daud, Alfani. 1997. Islam dan Masyarakat Banjar. Jakarta. Raja Grafindo Persada.
  2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Rirektorat Permuseuman Museum negri Propinsi Kal-Sel Lambung Mangkurat 1999/2000. Upacara Kehamilan dan Kelahiran dalam Pandangan Masyarakat Banjar.
  3. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Direktorat Sejarah daan Nilai Tradisional. 1981/1982. Upacara Tradisional (sejak anak dalam kandungan, lahir sampai dewasa).

[1] Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1997, hal.259.
[2] Ibid., hal.268.
[3] Ibid., hal.263.
[4] Departemen Pend. &Kebud…., Upacara Kehamilan & Kelahiran dalam Pandangan Masyarakat Banjar.
[5] Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Upacara Tradisional (sejak anak dalam kandungan, lahir sampai dewasa), 1981, hal.25.
[6] Departemen Pend. & Kebud….., op.cit.
[7] Ibid., hal…
[8] Proyek Inventarisasi……, op. cit.
[9] Alfani Daud, loc. cit., hal. 263.
[10]  Proyek Inventarisasi……, op. cit.h.25.
[11] Alfani daud, op.cit., hal.265.
[12] Ibid., hal.264.

Cinta Mati, Mulan Jamila

mulan jameela1 Cinta Mati, Mulan Jamila

Hai sahabatku, jangan pernah
Merebahkan kesalahanmu
Pada semua yang kau anggap
Merebut kekasih hatimu
Mencuri pasangan jiwamu

*
Dan sesungguhnya bila kamu
Kehilangan cinta sejatimu
Itu semua karna kamu
Tak sungguh-sungguh pelihara
Dan menjaga cinta matimu

Reff:
Cinta mati harus dijaga sampai mati
Jangan sampai ke lain hati
Nanti jadinya patah hati
Hati-hati menjaga hati
Mata hati

Repeat *
Repeat Reff [4x]

Download Lagunya di sini

Musik Bikin Bayi Cerdas?

bayi cerdas2 Musik Bikin Bayi Cerdas?

Musik tidak cuma merupakan materi hiburan yang memanjakan telinga. Alunan suara yang berirama ini bisa dimanfaatkan untuk merangsang janin agar kelak menjadi anak cerdas dan kreatif. Bahkan musik bisa dipakai untuk memutar janin sungsang kembali ke posisi normal.






Anda mungkin sudah sering membaca bahwa musik-musik tertentu bisa merasangsang perkembangan otak (kecerdasan) bayi yang ada dalam kandungan. Namun anda tidak tahu di mana anda bisa mendapatkan musik tersebut. Jika itu masalah anda, saya bisa membantu. Musik ini adalah musik yang digunakan oleh pakar terapi musik untuk diperdengarkan kepada bayi dalam kandungan dan bayi usia 0-3 tahun.





CD Music Therapy Bayi Cerdas ini masih menjadi best seller di tokoTOP.com hingga saat ini. Banyak sekali peminat dari indonesia, malaysia, singapore dan brunei memesan CD ini. Kalau sekarang anda sedang hamil, saya sangat menganjurkan anda memperdengarkan musik-musik kepada bayi dalam kandungan anda. Dengan demikian perkembangan otak bayi anda akan sangat pesat dan sempurna.



Mungkin bukan anda yang sedang hamil, tetapi mungkin istri anda sedang hamil, atau anda tahu ada seseorang yang anda kenal sedang hami. Sarankanlah mereka untuk menggunakan CD ini. Banyak juga pelanggan tokoTOP.com yang membeli CD ini sebagai hadiah. Pasti..! CD ini adalah hadiah yang sangat tepat dan sangat bermanfaat.



Musik telah dipakai sebagai media pengobatan sejak tahun 550 sebelum Masehi, dan dikembangkan Pythagoras dari Yunani. Konsep musik ini diterapkan bersama oleh pakar musik Peter Huebner dan komposer-komposer musik klasik Jerman, dalam bentuk musik terapi-medis-resonansi atau istilah asingnya Mdical Resonance Therapy Music, disingkat MRT-M.



Daya pengobatan MRT-M ini membawa dampak positif pada ibu hamil, baik yang sehat maupun dengan gangguan. Penurunan angka kelahiran prematur merupakan salah satu pengaruh efek pengobatan musik tersebut. Setiap orangtua tentu ingin mempunyai anak pandai, cerdas, dan tidak mengalami kesulitan dalam perkembangan emosionalnya. Untuk mendapatkan itu semua, tidak hanya diperlukan gizi yang cukup, tetapi juga diperlukan stimulasi memadai sejak anak masih dalam kandungan.

Stimulasi yang paling baik, dalam arti mendapat respons dari janin adalah suara ibu dan musik klasik. Pendapat ini berdasarkan penelitian pada tahun 1980-an yang dilakukan dr Alfred Tomatis, ahli telinga hidung dan tenggorok, psikolog, dan pendidik dari Perancis. Penelitian itu menunjukkan, suara ibu dan musik klasik dapat merangsang otak sehingga menimbulkan gerakan motorik tertentu pada janin dan bayi baru lahir. Suara ibu dan musik klasik dapat mengatur cepat atau lambatnya denyut jantung janin dan bayi, serta merangsang penambahan berat badan bayi. Ketukan musik juga mempunyai efek terhadap kepandaian anak dalam matematika.

Musik juga dapat memperingan kasus keracunan kehamilan sampai efek antistres bagi ibu yang akan menjalani operasi caesar. Singkat kata, dengan pangaruh MRT-M proses melahirkan menjadi lebih alami dan mengurangi trauma, serta ibu merasa lebih ceria dan tenang. Sebuah penelitian juga menunjukkan, ibu hamil yang bekerja di tempat bising mempunyai kecenderungan anaknya menjadi hiperaktif.

Musik erat kaitannya dengan daya pendengaran. Orang yang mempunyai kesulitan pendengaran mempunyai kecenderungan tingkat toleransi rendah terhadap frustasi. Mereka juga mempunyai rasa percaya diri yang rendah, pemalu, selalu merasa khawatir, dan sulit berteman. Orang-orang dengan kesulitan pendengaran juga cenderung menghindar dari kelompoknya, tidak mempunyai motivasi, tidak tertarik ke sekolah atau bekerja. Kalaupun sekolah atau bekerja, mereka tidak bertingkah laku baik.

BAGAIMANA musik mempengaruhi otak bayi? Proses pengenalan musik akan melibatkan banyak daerah di otak. Di otak terdapat pusat asosiasi penglihatan dan pendengaran yang berfungsi mengartikan obyek yang dilihat dan didengar. Informasi dari pusat yang berada di permukaan otak tersebut akan diteruskan ke pusat emosi yang diatur di dalam sistem limbic.

Dari pusat pengatur emosi ini perasaan sedih timbul oleh rangsangan musik dengan kunci minor dan tempo perlahan. Emosi sedih membawa dampak perubahan fisiologi tubuh berupa denyutan jantung yang lebih lambat, tekanan darah meningkat, serta peningkatan suhu tubuh. Sebaliknya musik dengan kunci major dan tempo cepat akan membawa perasaan bahagia diikuti pernapasan yang lebih cepat.

Menilik rangkaian perubahan sistem organik tubuh manusia terhadap musik, dapat dikatakan hampir seluruh sistem tubuh terpengaruhi, baik melalui sistem psikologi, neurologis maupun hormonal.


Musik klasik dapat memberikan rangsangan pada bayi karena kaya komponen suara atau beragam alat musik yang tergabung di dalamnya. Stimulasi musik klasik ini bisa mulai diberikan sejak janin berusia empat bulan. Pada masa ini janin sedang membentuk sel-sel otak, dan syaraf janin sudah memberikan respons pada stimulasi suara.



Stimulasi musik klasik sebaiknya dilakukan setiap hari minimal setengah jam. Musik klasik ini bisa didengarkan sambil melakukan kegiatan lain. Bagi ibu hamil yang tidak begitu menyukai musik klasik dan selalu ketiduran bila mendengarnya, tidak perlu khawatir karena meskipun ibu tertidur janin tetap bisa mendengarkan musik itu.

Bikin Blog WordPress dengan Domain dan Hosting Gratis

finished Bikin Blog WordPress dengan Domain dan Hosting GratisPosting ini untuk menguraikan langkah-langkah cara menginstall WordPress di webhosting 000Webhost.com secara manual alias tanpa Fantastico Autoinstaller. Juga untuk memenuhi janji kepada rekan yang meminta tutorial ini di posting: Cara Install WordPress dengan CO.CC. Ok lanjut di karenakan sekarang ini Fantastico Autoinstaller tidak berfungsi dan keluar pesan seperti ini:

We are upgrading autoinstaller at the moment. We do not have exact date when it wil be finished.
However, you can upgrade account and immediatelly start using another autoinstalled that has 50 scripts ready to install in one click!

Maka di perlukan jalur manual untuk menginstall script WordPress di 000Webhost.com, ok ini tutorialnya:

1. Silahkan Download WordPress Lalu Ekstrak file Zip WordPressnya menjadi folder.
2. Lalu Login ke Account 000Webhost.com anda, dan buat MySQL database, click gambar MySQL yang dikotak merah seperti ini:
mysqldatabase Bikin Blog WordPress dengan Domain dan Hosting Gratis

3. Lalu buat MySQL Database name dan MySQL Username, seperti ini:

setmysql Bikin Blog WordPress dengan Domain dan Hosting Gratis

Klik Create Database.Ingat! Nama Database dan nama username harus sama, misal DB name anda: 28393003_namakamu dan DB username: 28393003_namakamu.

4. Lalu upload WordPress yang anda Download tadi ke 000Webhost.com, cara upload bisa lewat FTP (File Transfer Protocol) yang ada di dalam 000Webhost, dan bisa juga dengan FTP eksternal seperti Smart FTP, FileZilla dan sebagainya. Namun di posting ini saya jelaskan dengan gunakan FTP FileZilla:
A. Silahkan Download FTP FileZilla.
B. Bersiaplah mengupload WordPress.

5. Setelah FileZilla terinstall, anda aktifkan dan masukan account username, password dan nama domain anda dan di port isi angka 21, seperti gambar berikut:

isiaccountfilesilla Bikin Blog WordPress dengan Domain dan Hosting Gratis

Keterangan. Di posting ini saya gunakan domain rumahabi.co.cc, maka saya isi nama domain isi saja alamat domain kamu TANPA http:// atau www. langsung nama domain kamu = namakamu.com dan di PORT isi angka 21. Lalu klik Connect/koneksi cepat.

6. Lalu klik Public_html, seperti gambar berikut:

transferpublihtml Bikin Blog WordPress dengan Domain dan Hosting Gratis

7. Mulai upload seluruh WordPress yang ada di folder yang tadi anda ekstrak, drag seluruh file di dalam folder WordPress dan klik kanan lalu tekan upload, seperti gambar berikut:

transferwppublic Bikin Blog WordPress dengan Domain dan Hosting Gratis

Tunggu proses upload, biasanya memakan waktu sekitar 5 hingga 10 menit, tergantung juga kecepatan koneksi internet anda.

8. Setelah WordPress selesai terupload ke root direktori atau public_html anda, maka anda harus melakukan sedikit perubahan pada file configurasi Wordpess. Masuk ke 000Webhost.com lalu klik Another File Manager, seperti pada gambar yang saya kotak merah berikut ini:

anotherfilemanager Bikin Blog WordPress dengan Domain dan Hosting Gratis9. Ganti wp-config-sample.php menjadi wp-config.php, lakukan seperti pada gambar berikut:

renamewpconfig Bikin Blog WordPress dengan Domain dan Hosting Gratis

10. Setelah itu edit WP-Config.php, seperti gambar berikut ini:

editwpconfig Bikin Blog WordPress dengan Domain dan Hosting Gratis

11. Di sini masukan Database username, Database host, password seperti yang anda masukan di MySQL yang anda buat tadi, contoh gambarnya:

database1 Bikin Blog WordPress dengan Domain dan Hosting Gratis



Atau:

// ** MySQL settings – You can get this info from your web host ** //
/** The name of the database for WordPress */
define(’DB_NAME’, ‘database username kamu‘);
/** MySQL database username */
define(’DB_USER’, ‘database username kamu‘);
/** MySQL database password */
define(’DB_PASSWORD’, ‘password kamu‘);
/** MySQL hostname */
define(’DB_HOST’, ‘mysql6.000webhost.com‘); <–seperti ini (Masukan DB_HOST yg anda dapat saat isi Mysql database dilangkah nomor 3).


Lalu klik Opslan En Afsluiten di bagian atas, seperti ini:

opslanenafsluiten Bikin Blog WordPress dengan Domain dan Hosting Gratis

12. Setelah itu delete default.php di Public_HTML agar tampilan WordPress anda yang muncul, bukan tampilan default 000Webhost.

13. Kemudian, klik nama domain anda atau buka di browser, misalnya www.namaanda.com yg anda pilih saat daftar di 000Webhost , akan muncul tampilan seperti ini:

finalwpinstallation Bikin Blog WordPress dengan Domain dan Hosting Gratis

Isi dengan judul blog anda dan email. Lalu klik “Install WordPress”.

14. Setelah itu akan muncul tampilan baru, yg memberi info tentang Account anda untuk login ke blog WordPress, seperti Admin, dan password random kurang lebih begini bentuknya: 289012asjuw.

15. Login ke blog WordPress anda lalu ganti passwordnya dengan yg lebih mudah dingat.

Dan untuk melihat hasilnya silahkan ke: deniarisandi.co.cc

Begitulah langkah-langkah untuk install WordPress di 000Webhost tanpa Fantastico Autoinstaller. Di posting berikut saya akan uraikan men-seting permalink SEO untuk WordPress anda.

__________________________________

Download Artikel membuat blog  ini dan tutorial membuat blog lainnya  secara lengkap  di http://deniarisandi.4shared.com

__________________________________

Semoga bermanfaat dan sampai jumpa.