Beberapa hari lalu (23-25/3/12) saya jalan-jalan ke desa Kikil Kota Baru Kalimantan Selatan untuk keperluan bisnis (wess…) kecil-kecilan. Begitu banyak cerita dan pengalaman yang ingin saya bagi disini, karena inilah pertama kalinya saya menginjakkan kaki ke daerah ini, sebelumnya saya hanya pernah sampai di Batu Licin dan tidak pernah jauh dari itu. Kalau dihitung-hitung dari desa saya (kintap) sekitar 250 Km kalau dari Banjarmasin sekitar 350-400 Km.
Kikil sebenarnya bukan nama desa yang tercatat dipeta administratif, hal inilah yang menyulitkan saya untuk menemukan alamat lengkap desa tersebut, beruntung saya sempat memotret majid yang ada disana dan menemukan nama desa sebenarnya adalah Desa Buluh Kuning, Kecamatan Sungai Durian, Kabupaten Kotabaru. Kikil mungkin hanya julukan untuk satu dusun didesa tersebut.
Sebelum sampai ketujuan sebenarnya, kami tim petualang yang terdiri dari 5 orang termasuk saya disuguhkan dengan gunung-gunung batu putih yang begitu indah beraneka bentuk mulai dari yang biasa, berbentuk rumah, bahkan berbentuk piramida mesir. Gunung-gunung indah ini sangat panjang membentang melewati beberapa desa dari sekitar desa cantung hingga desa manggalau, kalau diperhatikan gunung tersebut seperti benteng raksasa atau tembok yang melindungi desa-desa disekitarnya. Andai saya punya waktu luang yang banyak diperjalalan itu, saya ingin memanjat salah satu gunung tersebut dan menancapkan bendera merah putih dipuncaknya. Sebenarnya gunung batu putih seperti ini pernah saya lihat di Goa Batu Hapu kabupaten Tapin (Rantau) dan Desa Miawa kabupaten Tapin (Rantau) namun baru kali ini yang sangat panjang dan itu sangat menarik bagi saya.

Salah satu Gunung Batu Putih

Gunung Batu Putih Lainnya

Gunung Batu Ptih lainnya 2
Sampai di Desa Kikil jam 20.00 Wita, masih terlalu dini untuk tidur meskipun rasa lelah diperjalanan sangat terasa namun waktu yang masih tersisa sebelum tidur saya sempatkan untuk mengunjungi beberapa rumah warga desa kami yang menetap disana, dan menghabiskan waktu hingga jam 1 malam dengan berbagi cerita.
Desa Kikil belum dialiri listrik dari PLN tapi masyarakat disini sudah menggunakan listrik dari generator (genset), ada juga yang menggunakan disel, dan beberapa menggunakan listrik tenaga matahari, dan tidak sedikit yang masih menggunakan lampu sumbu (colok) yang menggunakan minyak tanah.
Besoknya saya sempatkan shalat subuh berjamaah di Masjid Al-Mujahidin untuk melihat kehidupan beragama warga desa disini, sepertinya desa ini lebih agamis dari desa sayaa, buktinya yang shalat subuh berjamaah banyak yaitu sekitar 5 atau 7 orang, di Desa saya biasanya single 1 imam 1 ma`mum.
Yang sangat berbeda dari desa saya, warga desa kikil bangun lebih pagi sekitar jam 3 atau jam 4 subuh sudah banyak warung kopi (bukan warung jablai) yang sudah buka, awalnya saya kira penduduk desa ini mungkin sebagian besar pekerjaannya manurih (menyadap karet), karena keadaan seperti ini biasanya hanya ada didesa-desa penghasil karet seperti di Rantau, ternyata tidak, masyarakat disini sebagian besarnya bukan petani karet, mungkin mereka sudah terbiasa bangun subuh (bukan pagi) dan kelihatannya pada subuh hari desa ini menjadi tempat singgah (peristirahatan) bus dan angkutan barang dari grogot ke Banjarmasin dan sebaliknya.
Pagi harinya sekitar jam 08.00 Wita tibalah saya melaksanakan tugas utama saya didesa ini, yaitu survie. Kami ber lima ditemani oleh 2 orang masyarakat yang menetap disini berjalan kaki menyusuri sungai (saya tidak tau namanya), mendaki gunung tinggi menjulang, melewati lembah, yang kalau dihitung-hitung mungkin sekitar 3-4 KM, kami sudah tidak sanggup lagi berjalan lebih jauh dari itu karena medan yang tidak memungkinkan dan akhirnya diputuskan untuk dicukupkan sampai disitu dan kami pun kembali ke perkampungan.
Dalam perjalalan dihutan tersebut, saya melihat disana masih banyak pohon-pohon besar yang tidak pernah lagi ditemukan didesa saya, bahkan buah Kuranji yang terakhir pernah saya lihat waktu saya SD kelas 5, disini masih ada, masih hutan asli rupanya.

Salah Satu Pohon Besar di Hutan Di Desa Kikil Kotabaru

Pohon Besar lainnya di Hutan Di Desa Kikil Kotabaru
Sebenarnya masih banyak pohon yang lebih besar dari gambar diatas namun saya tidak sempat mengambil gambar, stamina sudah loyo dan konsntrasi berkurang, kalau berhenti berjalan sebentar saja bisa ketinggalan rombongan.
Jam 3 sore (15.00 WITA) kami sudah sampai di perkampungan lagi, kami pun bergegas untuk kembali ke kampung halaman.
Diperjalanan menuju pulang, petualangan kami sepertinya belum berakhir, sampai di daerah desa Serongga rupanya mobil yang kami bawa kehabisan Kampas padahal waktu sudah mulai malam, bengkel sudah tutup dan yang paling penting tidak ada bengkel mobil didaerah ini apalagi yang lengkap dengan sperpartnya, walhasil mobil kami paksakan untuk sampai di Batu Licin dan Alhamdulillah berhasil.
Di Batu Licin kami beristirahat dan niatnya nginap disini besok pagi mobil dibawa ke bengkel, namun sekitar jam 11.30 malam rencana berubah dengan beberapa pertimbangan akhirnya kami putuskan untuk berangkat malam itu juga, mobil kami jalankan semampunya.
Ceritanya berakhir sampai disini, terlalu menyedihkan jika dilanjutkan.
Kami baru sampai dikampung halamanan sekitar jam 2 siang harinya.
Nice post gan. salam blogger banua.
singgah jg ya di blog ane…