Ada seorang guru disebuah pondok pesantren, dia tidak punya ijazah sekolah formal sejenis SMP/MTS/SMA/MA karena memang beliau tidak pernah sekolah formal. Beliau menganggap ijazah itu tidak penting, dan sekolah untuk mencari ijazah adalah sekolah yang tidak ikhlas.
Saya berbeda pendapat dengan beliau, menurut saya ikhlas itu letaknya dihati sekalipun kita sekolah dengan mengejar titel atau ijazah awalnya kita memang tidak bisa ikhlas, karena ikhlas itu perkara yang sangat sulit, tapi seiring berjalannya waktu kita bisa mencapainya dengan terus berusaha.
Ikhlas diibaratkan “menyuap nasi kedalam mulut” dihati kita tetap meyakini Allah yang mengenyangkan dan melaparkan kita nasi tidak ada manfaatnya, namun kita tetap makan. Begitu juga dengan ijazah atau titel.





