Tag Archives: Pendidikan

Belajar dan Pembelajaran

Belajar dan pembelajaran merupakan konsep yang saling berkaitan. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku akibat interaksi dengan lingkungan. Proses perubahan tingkah laku merupakan upaya yang dilakukan secara sadar berdasarkan pengalaman ketika berinteraksi dengan lingkungan. Pola tingkah laku yang terjadi dapat dilihat atau diamati dalam bentuk perbuatan reaksi dan sikap secara mental dan fisik.

 

Tingkah laku yang berubah sebagai hasil proses pembelajaran mengandung pengertian luas, mencakup pengetahuan, pemahaman, sikap, dan sebagainya. Perubahan yang terjadi memiliki karakteristik: (1) perubahan terjadi secara sadar, (2) perubahan dalam belajar bersifat sinambung dan fungsional, (3) tidak bersifat sementara, (4) bersifat positif dan aktif, (5) memiliki arah dan tujuan, dan (6) mencakup seluruh aspek perubahan tingkah laku, yaitu pengetahuan, sikap, dan perbuatan.

 

Keberhasilan belajar peserta didik dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal, yaitu kondisi dalam proses belajar yang berasal dari dalam diri sendiri, sehingga terjadi perubahan tingkah laku. Ada beberapa hal yang termasuk faktor internal, yaitu: kecerdasan, bakat (aptitude), keterampilan (kecakapan), minat, motivasi, kondisi fisik, dan mental.

 

Faktor eksternal, adalah kondisi di luar individu peserta didik  yang mempengaruhi belajarnya. Adapun yang termasuk faktor eksternal adalah:  lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat (keadaan sosio-ekonomis, sosio kultural, dan keadaan masyarakat).

 

Pada hakikatnya belajar dilakukan oleh siapa saja, baik anak-anak maupun manusia dewasa. Pada kenyataannya ada kewajiban bagi manusia dewasa atau orang-orang yang memiliki kompetensi lebih dahulu agar menyediakan ruang, waktu, dan kondisi agar terjadi proses belajar pada anak-anak. Dalam hal ini proses belajar diharapkan terjadi secara optimal pada peserta didik melalui cara-cara yang dirancang dan difasilitasi oleh guru di sekolah. Dengan demikian diperlukan kegiatan pembelajaran yang disiapkan oleh guru.

 

Pembelajaran merupakan seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar peserta didik, dengan memperhitungkan kejadian-kejadian eksternal yang berperanan terhadap rangkaian kejadian-kejadian internal yang berlangsung di dalam peserta didik (Winkel, 1991).

Pengaturan peristiwa pembelajaran dilakukan secara seksama dengan maksud agar terjadi belajar dan membuat berhasil guna (Gagne, 1985). Oleh karena itu pembelajaran perlu dirancang, ditetapkan tujuannya sebelum dilaksanakan, dan dikendalikan pelaksanaannya (Miarso, 1993)

 

Proses pembelajaran yang berhasil guna memerlukan teknik, metode, dan pendekatan tertentu sesuai dengan karakteristik tujuan, peserta didik, materi, dan sumber daya. Sehingga diperlukan strategi yang tepat dan efektif.

 

Strategi pembelajaran merupakan suatu seni dan ilmu untuk membawa pembelajaran sedemikian rupa sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efesien dan efektif (T. Raka Joni, 1992). Cara-cara yang dipilih dalam menyusun strategi pembelajaran meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik (Gerlach and Ely). Strategi belajar mengajar tidak hanya terbatas pada prosedur dan kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi pengajaran atau paket pengajarannya (Dick and Carey).

 

Faktor yang memengaruhi proses pembelajaran terdiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor-faktor yang berkaitan dengan pribadi guru sebagai pengelola kelas. Guru harus dapat melaksanakan proses pembelajaran, oleh sebab itu guru harus memiliki persiapan mental, kesesuaian antara tugas dan tanggung jawab, penguasaan bahan, kondisi fisik, dan motivasi kerja.

 

Faktor eksternal adalah kondisi yang timbul atau datang dari luar pribadi guru, antara lain keluarga dan lingkungan pergaulan di masyarakat. Faktor lingkungan, yang dimaksud adalah faktor lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan sekolah.

 

Berdasarkan pendekatan yang digunakan, secara umum ada dua strategi pembelajaran yaitu strategi yang berpusat pada guru (teacher centre oriented) dan strategi yang berpusat pada peserta didik (student centre oriented). Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru menggunakan strategi ekspositori, sedangkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik menggunakan strategi diskoveri inkuiri (discovery inquiry).

 

Pemilihan strategi ekspositori atau diskoveri inkuiri dilakukan atas pertimbangan karakteristik kompetensi yang menjadi tujuan yang terdiri dari sikap, pengetahuan dan keterampilan, serta karakteristik peserta didik dan sumber daya yang dimiliki. Oleh karena itu tidak ada strategi yang tepat untuk semua kondisi dan karakteristik yang dihadapi. Guru diharapkan mampu memilah dan memilih dengan tepat strategi yang digunakan agar hasil pembelajaran efektif dan maksimal.

 

 

Pemilihan strategi ekspositori dilakukan atas pertimbangan:

a.   karakteristik peserta didik dengan kemandirian belum memadai;

b.   sumber referensi terbatas;

c.    jumlah pesera didik dalam kelas banyak;

d.   alokasi waktu terbatas; dan

e.   jumlah materi (tuntutan kompetensi dalam aspek pengetahuan) atau bahan banyak.

 

Langkah-langkah yang dilakukan pada strategi ekspositori adalah sebagai berikut.

a.   Preparasi, guru menyiapkan bahan/materi pembelajaran

b.   Apersepsi diperlukan untuk penyegaran

c.    Presentasi (penyajian) materi pembelajaran

d.   Resitasi, pengulangan pada bagian yang menjadi kata kunci kompetensi atau materi pembelajaran.

 

Pemilihan strategi diskoveri inkuiri dilakukan atas pertimbangan:

a.   karakteristik peserta didik dengan kemandirian cukup memadai;

b.   sumber referensi, alat, media, dan bahan cukup;

c.    jumlah peserta didik dalam kelas tidak terlalu banyak;

d.   materi pembelajaran tidak terlalu luas; dan

e.   alokasi waktu cukup tersedia.

 

Langkah-langkah yang dilakukan pada strategi diskoveri inkuiri adalah sebagai berikut.

a.   Guru atau peserta didik mengajukan dan merumuskan masalah

b.   Merumuskan logika berpikir untuk mengajukan hipotesis atau jawaban sementara

c.    Merumuskan langkah kerja untuk memperoleh data

d.   Menganalisis data dan melakukan verifikasi

e.   Melakukan generalisasi

 

Strategi ekspositori lebih mudah bagi guru namun kurang melibatkan aktivitas peserta didik. Kegiatan pembelajaran berupa instruksional langsung (direct instructional) yang dipimpin oleh guru. Metode yang digunakan adalah ceramah atau presentasi, diskusi kelas, dan tanya jawab. Namun demikian ceramah atau presentasi yang dilakukan secara interaktif dan menarik dapat meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran.

 

Strategi diskoveri inkuiri memerlukan persiapan yang sungguh-sungguh, oleh karena itu dibutuhkan kreatifitas dan inovasi guru agar pengaturan kelas maupun waktu lebih efektif. Kegiatan pembelajaran berbentuk Problem Based Learning yang difasilitasi oleh guru. Strategi ini melibatkan aktivitas peseserta didik yang tinggi. Metode yang digunakan adalah observasi, diskusi kelompok, eksperimen, ekplorasi, simulasi, dan sebagainya.

 

Pengertian al-Tarbiyah

muwasafat tarbiyah Pengertian al TarbiyahIstilah pendidikan dalam konteks Islam  pada umumnya mengacu pada term al-tarbiyah, al-ta’dib, dan al-ta’lim. Dari ketiga istilah tersebut term yang popular digunakan dalam praktek pendidikan Islam ialah term al-tarbiyah.

Penggunaan sitilah al-Tarbiyah berasal dari kata rabb, dasarnya menunjukkan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur, dan menjaga kelestarian atau eksistensinya.

Al-Tarbiyah berasal dari tiga kata, yaitu : Pertama, rabba-yarbu yang berarti bertambah, tumbuh, dan berkembang. Kedua, rabiya-yarba berarti menjadi besar. Ketiga, rabba-yarubbu berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, dan memelihara.

Secara filosofis mengisyaratkan bahwa proses pendidikan Islam adalah bersumber pada pendidikan yang diberikan Allah sebagai “pendidik” seluruh ciptaan-Nya, termasuk manusia. Pengertian pendidikan Islam yang dikandung dalam term al-tarbiyah terdiri atas empat unsur pendekatan, yaitu : (1) memelihara dan mejaga fitrah anak didik menjelang dewasa (balgh). (2) mengembangkan seluruh potensi menuju kesempurnaan. (3) mengarahkan seluruh fitrah menuju kesempurnaan. (4) melaksanakan pendidikan secara bertahap.

Memahami Perintah Allah

Perintah ialah perkataan meminta kerja dari yang lebih tinggi tingkatannya kepada yang lebih rendah tingkatannya. Dalam Islam perintah Allah disebut Amar.

Pada dasarnya, perintah itu hukumnya wajib, sesuai dengan Qaidah:

اَلاَصْلُ فىِ اْلاَمْرِ لِلْوُجُوْبِ

Artinya jika perintah itu bebas, tidak disertai sesuatu yang  menunjukkan syarat tertentu maka hukumnya wajib.

Ini lah yang menjadi dasar penetapan sebagain besar ulama karena mereka beralasan dengan dalil aqli dan nakli. Berdasarkan dalil naqli (akal) karena sebagian ahli bahasa sebelum datang syara` mereka sepakat untuk mencela hamba sahaya yang tidak menjalankan perintah majikannya, dan mereka menamakannya hamba sahaya yang menentang perintah, karena melalaikan dan meninggalkan kewajiban. Dapat disimpulkan bahwa amr mutlak itu menunjukkan wajib. Firman Allah SWT:

Artinya : Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS. An-Nur: 63)

Dalam ayat ini Allah SWT, menertibkan atas orang yang meninggalkan perintahnya, dengan mengenakan fitnah dan atau siksaan di akhirat, jelaslah bahwa amar itu menunjukkan wajib.

Suatu perintah tanpa syarat, menunjukkan wajib, sebagaimana firman Allah: 

Artinya: Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat (QS. An-Nisa: 77)

Perkataan “dirikanlah” itu, suatu perintah dari Allah. Tiap-tiap perintah asalnya wajib, jadi shalat dan zakat itu hukumnya wajib. Kata-kata “shalat” meliputi segala macam shalat yang ada di dalam Islam. Yaiti shalat 5 kali sehari semalam, shalat dua haru raya, shalat rawatib, shalat tarawih dan sebagainya. Menurut hukum asal yang tadi, tentu harus kita tetapkan bahwa shalat dua hari raya, tarawih dan shalat rawatib dan sebagainya termasuk shalat wajib. Tetapi ada keterangan yang menetapkan bahwa shalat yang diwajibkan kepada kita hanya lima waktu saja sehari semalam seperti yang kita kerjakan setiap hari.

Macam-Macam Amar

Bentuk amar (suruhan) itu adakalanya berbeda dengan makna yang asli dengan ucapan “kerjakanlah” dan digunakan untuk makna yang bermacam-macam perintah menurut bentuknya sebagai berikut: 1. Menunjukkan Nadb (mandub = sunnat) Misalnya:

Artinya: Berikanlah kemerdekaan (mukatabah) kepada budak-budak, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka (QS. An-Nuur: 33)

Perintah ini tidak menunjukkan wajib, sebab kalau cicilan dihukumi wajib berarti memaksakan kepada orang yang mempunyai budak untuk melepaskan budaknya, tetapi perintah ini hanya sunnat, yang dapat memberikan kepada budak-budak untuk merubah nasibnya hingga menjadi merdeka.

2. Untuk Do`a (للدعاء)

Misanya firman Allah:

Artinya : “Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka” (QS. Al-Baqarah: 201)

3. Untuk Mengancam (للتهديد)

Misalnya:

اِعْمَلُوْا مَاشِئْتُمْ

Artinya: Kerjakanlah sekehendakmu (QS. Fushshilat : 40)

Perintah ini bukan menunjukkan wajib atau sebaliknya bebas berbuat, tetapi menunjukkan ancaman terhadap orang yang tidak ta`at kepada Allah berbuat sekehendaknya sendiri, dengan ancaman siksa diakhirat. 4. Untuk Menghormat (للإحرام)

Mislanya firman Allah:

Artinya: “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman” (QS. Al-Hijr: 46) Perintah ini menunjukkan penghormatan kepada ahli syurga

5. Untuk Melemahkan (للتعجيز)

Misalnya firman Allah: 

Artinya: “Buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu” (QS. Al-Baqarah: 23)

Amar disini menunjukkan kelemahan terhadap orang kafir, karena tidak sanggup membuat satu ayatpun yang sepadan dengan Al-Qur`an.

6. Untuk Menyerah (للتفويض)

Misalnya firman Allah:

Artinya: “Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan”. (QS. Thahaa: 72)

7. Agar Menyesal (للتلهيب)

Mislanya firmna LLah:

Artinya: “Matilah kamu karena kemarahanmu itu” (QS. Ali `Imran: 119) Perintah ini sebagai tanda penyesalan atas perbuatan yang tidak pantas dilakukan, maka lebih baik mati saja daripada hidup.

Bentuk Amar (Perintah)

Bentuk amar ada lima macam:

  1. Dengan menggunakan fi`il amar. Misalnya tentang dirikanlah shalat
  2. Dengan fiil mudhari` yang diberi lam amar. Misalnya firman Allah yang Artinya: “Dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)”. (QS. Al-Hajj: 29)
  3. Dengan menggunakan Isim Fiil Amar, Misalnya firman Allah yang Artinya: Artinya: “Jagalah dirimu; Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk” (QS. Al-Maidah: 105)
  4. Dengan menggunakan Isim Mashdar pengganti fiil, Misalnya firman Allah yang Artinya: Artinya: “Dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa” (QS. Al-Baqarah: 83)
  5. Dengan menggunakan kalimat berita (khabar), Misalnya firman Allah yang Artinya:  “Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali suci dari haidh” (QS. Al-Baqarah: 228)

Kesegeraan dalam Amar

Perintah adakalanya ditentukan waktunya dan adakalanya tidak. Jika suatu perintah disertai dengan waktu yang tertentu, seperti shalat lima waktu, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa perintah semacam itu mesti dikerjakan pada waktunya yang ditentukan.

Tetapi jika tidak dihubungkan dengan waktu yang tertentu, maka perintah (amar) itu berjalan dengan sesuatu yang sesuai dengan dasar pokoknya, yaitu: “Pada dasarnya amar itu tidak dilaksanakan dengan segera” Amar boleh ditunda mengerjakannya dengan cara tidak melalaikan pekerjaan itu.

Pada dasarnya amar menuntut untuk dilaksanakan walaupun waktunya ditentukan, tetapi ada antara awal dan akhirnya, kita dapat mengambil waktu yang akhir selagi belum keluar dari batas waktu yang ditentukan seperti mengqadha puasa ramadhan karena sakit atau bepergian, sebagaimana firman Misalnya firman Allah yang Artinya:

“Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain”. (QS. Al-Baqarah: 184)

Washilah Amar

Suatu perintah tidak akan terlaksana, kecuali disertai dengan sesuatu yang dapat mewujudkan terlaksananya perintah itu. Sesuatu inilah yang disebut washilah (perantara) baik berupa perbuatan, alat dan sebagainya.

Hubungan amar dengan washilah merupakan salah satu dasar dalam amar. Misalnya: Kita diperintahkan oleh syara` untuk mengerjakan shalat. Di anatara syarat sahnya salat ialah menutup aurat. Maka menutup aurat inipun diperintahkan juga. Dan untuk menutup aurat ini tidak akan dapat dilaksanakan apabila kita tidak menemukan alat penutupnya, maka berusaha untuk mendapatkan penutup aurat itupun diperintahkan juga.

ashilah ada tiga:

  1. Washilah yang timbulnya dari syara` (washilah syar`iyah) seperti memerintahkan shalat, berarti meliputi perintah menutup aurat.
  2. Washilah yang ditimbulkan dari adapt kebiasaan (washilah `urfiyah) seperti perintah naik loteng berarti meliputi perintah meletakkan tangga
  3. Washilah yang timbulnya dari akal (washilah `aqliyah) seperti perintah menghadap, berarti meliputi perintah untuk tidak membelakangi.

Perintah Sesuatu Berarti Melarang Lawannya

“Memerintahkan sesuatau berarti melarang sebaliknya”

artinya melarang untuk menjalankan sesuatu yang berlawanan dengan perintah itu, misalnya perintah beriman, berarti melarang syirik/kufur. Lawan itu adakalanya beberapa macam, misalnya perintah berdiri, berarti jangan duduk, berbaring, berjongkok dan sebagainya.

Karena perintah itu pada dasarnya menunjukkan wajib dan dari kelaziman wajib ialah meninggalkan semua yang berlawanan, maka setiap perintah berarti menunjukkan kelaziman meninggalkan semua yang berlawanan.

Selesainya Perintah

اِذَا فُعِلَ اْلمَأْمُوْرُ بِهِ عَلَى وَجْهِهِ يَخْرُجُ اْلمَأْمُوْرُ عَنْ عُهْدَةِ اْلاَمْرِ

Apabila yang diperintah sudah selesaidikerjakan sesuai dengan peraturan-peraturannya, maka yang diperintah itu bebas dari perintah itu” Suatu perintah yang disertai petunjuk-petunjuk cara mengerjakannya, jika telah dilaksanakan sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang semestinya, maka yang diperintah itu telah bebas dari tanggung jawab memenuhi perintah itu.

Misalnya perintah melaksanakan shalat kemudian perintah itu dilaksanakan sesuai dengan syarat rukunnya hingga selesai, maka orang yang diperintahkan itu telah bebas dari perintah itu, tidak usah melaksnakan lagi beberapa kali, kecuali dalam waktu yang berbeda, misalnya besok, dan besoknya.

Aspek Kecerdasan Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik

1.  Kognitif

Aspek kognitif adalah kemampuan intelektual siswa dalam berpikir, menegtahui dan memecahkan masalah.

Menurut Bloom (1956) tujuan domain kognitif terdiri atas enam bagian :

a.   Pengetahuan (knowledge)

mengacu kepada kemampuan mengenal materi yang sudah dipelajari dari yang sederhana sampai pada teori-teori yang sukar. Yang penting adalah kemampuan mengingat keterangan dengan benar.

b.   Pemahaman (comprehension)

Mengacu kepada kemampuan memahami makna materi. Aspek ini satu tingkat di atas pengetahuan dan merupakan tingkat berfikir yang rendah.

c.   Penerapan (application)

Mengacu kepada kemampuan menggunakan atau menerapkan materi yang sudah dipelajari pada situasi yang baru dan menyangkut penggunaan aturan dan prinsip. Penerapan merupakan tingkat kemampuan berfikir yang lebih tinggi daripada pemahaman.

d.   Analisis (analysis)

Mengacu kepada kemampun menguraikan materi ke dalam komponen-komponen atau faktor-faktor penyebabnya dan mampu memahami hubungan di antara bagian yang satu dengan yang lainnya sehingga  struktur dan aturannya dapat lebih dimengerti. Analisis merupakan tingkat kemampuan berfikir yang lebih tinggi daripada aspek pemahaman maupun penerapan.

e.   Sintesa (evaluation)

Mengacu kepada kemampuan memadukan konsep atau komponen-komponen sehingga membentuk suatu pola struktur atau bentuk baru. Aspek ini memerluakn tingkah laku yang kreatif. Sintesis merupakan kemampuan tingkat berfikir yang lebih tinggi daripada kemampuan sebelumnya.

f.    Evaluasi (evaluation)

Mengacu kemampuan memberikan pertimbangan terhadap nilai-nilai materi untuk tujuan tertentu. Evaluasi merupakan tingkat kemampuan berfikir yang tinggi.

Urutan-urutan seperti yang dikemukakan di atas, seperti ini sebenarnya masih mempunyai bagian-bagian lebih spesifik lagi. Di mana di antara bagian tersebut akan lebih memahami akan ranah-ranah psikologi sampai di mana kemampuan pengajaran mencapai Introduktion Instruksional. Seperti evaluasi terdiri dari dua kategori yaitu “Penilaian dengan menggunakan kriteria internal” dan “Penilaian dengan menggunakan kriteria eksternal”. Keterangan yang sederhana dari aspek kognitif seperti dari urutan-urutan di atas, bahwa sistematika tersebut adalah berurutan yakni satu bagian  harus lebih dikuasai baru melangkah pada bagian lain.

Aspek kognitif lebih didominasi oleh alur-alur teoritis dan abstrak. Pengetahuan akan menjadi standar umum untuk melihat kemampuan kognitif seseorang dalam proses pengajaran.

2. Afektif

Domain afektif atau intelektual adalah mengenai sikap, minat, emosi, nilai hidup dan operasiasi siswa.

Menurut Krathwol (1964) klasifikasi tujuan domain afektif terbagi lima kategori :

a.   Penerimaan (recerving)

Mengacu kepada kemampuan memperhatikan dan memberikan respon terhadap sitimulasi yang tepat. Penerimaan merupakan tingkat hasil belajar terendah dalam domain afektif.

b.   Pemberian respon atau partisipasi (responding)

Satu tingkat di atas penerimaan. Dalam hal ini siswa menjadi terlibat secara afektif, menjadi peserta dan tertarik.

c.   Penilaian atau penentuan sikap (valung)

Mengacu kepada nilai atau pentingnya kita menterikatkan diri pada objek atau kejadian tertentu dengan reaksi-reaksi seperti menerima, menolak atau tidak menghiraukan. Tujuan-tujuan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi “sikap dan opresiasi”.

d.   Organisasi (organization)

Mengacu kepada penyatuan nilai, sikap-sikap yang berbeda yang membuat lebih konsisten dapat menimbulkan konflik-konflik internal dan membentuk suatu sistem nilai internal, mencakup tingkah laku yang tercermin dalam suatu filsafat hidup.

e.  Karakterisasi /  pembentukan pola hidup (characterization by a value or value                complex)

Mengacu kepada karakter dan daya hidup sesorang. Nilai-nilai sangat berkembang nilai teratur sehingga tingkah laku menjadi lebih konsisten dan lebih mudah diperkirakan. Tujuan dalam kategori ini ada hubungannya dengan keteraturan pribadi, sosial dan emosi jiwa.

Variable-variabel di atas juga  telah memberikan kejelasan bagi proses pemahaman taksonomi afektif ini, berlangsungnya proses afektif adalah akibat perjalanan kognitif terlebih dahulu seperti pernah diungkapkan bahwa:

“Semua sikap bersumber pada organisasi kognitif pada informasi dan pengatahuan yang kita miliki. Sikap selalu diarahkan pada objek, kelompok atau orang hubungan kita dengan mereka pasti di dasarkan pada informasi yanag kita peroleh tentang sifat-sifat mereka.”

Bidang afektif dalam psikologi akan memberi peran tersendiri untuk dapat menyimpan menginternalisasikan sebuah nilai yang diperoleh lewat kognitif dan kemampuan organisasi afektif itu sendiri. Jadi eksistensi afektif dalam dunia psikologi pengajaran adalah sangat urgen untuk dijadikan pola pengajaran yang lebih baik tentunya.

3. Psikomotorik

Domain psikomotorik adalah kemampuan yang menyangkut kegiatan otot dan fisik.

Menurut Davc (1970) klasifikasi tujuan domain psikomotor terbagi lima kategori yaitu :

a.   Peniruan

terjadi ketika siswa mengamati suatu gerakan. Mulai memberi respons serupa dengan yang diamati. Mengurangi koordinasi dan kontrol otot-otot saraf. Peniruan ini pada umumnya dalam bentuk global dan tidak sempurna.

b.   Manipulasi

Menekankan perkembangan kemampuan mengikuti pengarahan, penampilan, gerakan-gerakan pilihan yang menetapkan suatu penampilan melalui latihan. Pada tingkat ini siswa menampilkan sesuatu menurut petunjuk-petunjuk tidak hanya meniru tingkah laku saja.

c.   Ketetapan

memerlukan kecermatan, proporsi dan kepastian yang lebih tinggi dalam penampilan. Respon-respon lebih terkoreksi dan kesalahan-kesalahan dibatasi sampai pada tingkat minimum.

d.   Artikulasi

Menekankan koordinasi suatu rangkaian gerakan dengan membuat urutan yang tepat dan mencapai yang diharapkan atau konsistensi internal di natara gerakan-gerakan yang berbeda.

e.   Pengalamiahan

Menurut tingkah laku yang ditampilkan dengan paling sedikit mengeluarkan energi fisik maupun psikis. Gerakannya dilakukan secara rutin. Pengalamiahan merupakan tingkat kemampuan tertinggi dalam domain psikomotorik.

Dari penjelasan di atas dapat dilihat bahwa domain psikomotorik dalam taksonomi instruksional pengajaran adalah lebih mengorientasikan pada proses tingkah laku atau pelaksanaan, di mana sebagai fungsinya adalah untuk meneruskan nilai yang terdapat lewat kognitif dan diinternalisasikan lewat afektif sehingga mengorganisasi dan diaplikasikan dalam bentuk nyata oleh domain psikomotorik ini.

Jenis-jenis Membaca

Membaca sebagai suatu aktivitas yang kompleks, mempunyai tujuan yang kompleks dan masalah yang bermacam-macam. Tujuan yang kompleks merupakan tujuan umum dari membaca. Di samping tujuan umum itu tentu terdapat pula bermacam ragam tujuan khusus yang menyebabkan timbulnya jenis-jenis membaca, ditinjau dari segi bersuara atau tidaknya orang waktu membaca itu terbagi atas:

1)      Membaca yang Bersuara

Yaitu suatu aktivitas atau kegiatan yang merupakan alat bagi guru, murid, ataupun pembaca bersama-sama orang lain. Jenis membaca itu mencakup:

a)      Membaca nyaring dan keras

Yakni suatu kegiatan membaca yang dilakukan dengan keras, dalam buku petunjuk guru bahasa Indonesia untuk SMA disebut membacakan. Membacakan berarti membaca untuk orang lain atau pendengar, guna menangkap serta memahami informasi pikiran dan perasaan penulis atau pengarangnya. Membaca nyaring ini biasa dilakukan oleh guru, penyiar TV, penyiar radio, dan lain-lain.

b)      Membaca Teknik

Membaca teknik biasa disebut membaca lancar. Dalam membaca teknik harus memperhatikan cara atau teknik membaca yang meliputi:

  • Cara mengucapkan bunyi bahasa meliputi kedudukan mulut, lidah, dan gigi.
  • Cara menempatkan tekanan kata, tekanan kalimat dan fungsi tanda-tanda baca sehingga menimbulkan intonasi yang teratur.
  • Kecepatan mata yang tinggi dan pandangan mata yang jauh.

c)      Membaca Indah

Membaca indah hampir sama dengan membaca teknik yaitu membaca dengan memperlihatkan teknik membaca terutama lagu, ucapan, dan mimik membaca sajak dalam apresiasi sastra.

2)      Membaca yang Tidak Bersuara (dalam hati)

Yaitu aktivitas membaca dengan mengandalkan ingatan visual yang melibatkan pengaktifan mata dan ingatan. Jenis membaca ini biasa disebut membaca dalam hati, yang mencakupi:

a)      Membaca teliti.

b)      Membaca pemahaman.

c)      Membaca ide.

d)     Membaca kritis.

e)      Membaca telaah bahasa.

f)       Membaca skimming.

g)      Membaca cepat.

Membaca teliti yaitu membaca yang menuntut suatu pemutaran atau pembalikan pendidikan yang menyeluruh.

Membaca pemahaman yaitu membaca yang penekanannya diarahkan pada keterampilan memahami dan menguasai isi bacaan. Jenis membaca inilah yang akan penulis kaji lebih dalam lagi.

Membaca ide yaitu membaca dengan maksud mencari, memperoleh serta memanfaatkan ide-ide yang terdapat pada bacaan.

Membaca kritis yaitu membaca yang dilakukan secara bijaksana, penuh tenggang hati, mendalam, evaluatif, serta analitis, dan bukan hanya mencari kesalahan.

Membaca telaah bahasa mencakup dua hal, yaitu:

  • Membaca bahasa asing yaitu kegiatan membaca yang tujuan utamanya adalah memperbesar daya kata dan mengembangkan kosa kata.
  • Membaca sastra yaitu membaca yang bercermin pada karya sastra dari keserasian keharmonisan antara bentuk dan keindahan isi.

Membaca skimming (sekilas) adalah cara membaca yang hanya untuk mendapatkan ide pokok9.

Membaca cepat adalah keterampilan memilih isi bahan yang harus dibaca sesuai dengan tujuan kita, yang ada relevansinya dengan kita, tanpa membuang-buang waktu untuk menekuni bagian-bagian lain yang tidak kita perlukan10.


9 Soedarso, Sistem Membaca Cepat dan Efektif (Jakarta: PT. Gramedia 1989) hlm. 84

10 Ibid., hlm. XIV-XV

Tujuan Membaca

Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Makna, arti (meaning) erat sekali berhubungan dengan maksud tujuan, atau intensif kita dalam membaca.

Henry Guntur Tarigan mengemukakan tujuan membaca adalah sebagai berikut:

  1. Membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for details or facts).
  2. Membaca untuk memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas).
  3. Membaca untuk mengetahui urutan atau susunan, organisasi cerita (reading for sequence or organization).
  4. Membaca untuk menyimpulkan, membaca inferensi (reading for inference).
  5. Membaca untuk mengelompokkan, membaca untuk mengklasifikasikan (reading to classify).
  6. Membaca menilai, membaca evaluasi (reading to evaluate).
  7. Membaca untuk memperbandingkan atau mempertentangkan (reading to compare or contrast)6.

Membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta misalnya untuk mengetahui penemuan-penemuan yang telah dilakukan oleh sang tokoh; apa-apa yang telah dibuat oleh sang tokoh; apa yang telah terjadi pada tokoh khusus, atau untuk memecahkan masalah-masalah yang dibuat oleh sang tokoh.

Membaca untuk memperoleh ide-ide utama misalnya untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang baik dan menarik, masalah yang terdapat dalam cerita, apa-apa yang dipelajari atau dialami sang tokoh, dan merangkum hal-hal yang dilakukan oleh sang tokoh untuk mencapai tujuannya.

Membaca untuk mengetahui urutan atau susunan, organisasi cerita seperti menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada setiap bagian cerita, apa yang terjadi mula-mula pertama, kedua, dan ketiga/seterusnya. Setiap tahap dibuat untuk memecahkan suatu masalah, adegan-adegan dan kejadian buat dramatisasi.

Membaca untuk menyimpulkan, membaca inferensi seperti menemukan serta mengetahui mengapa para tokoh merasakan seperti cara mereka itu, apa yang hendak diperlihatkan oleh sang tokoh berubah, kualitas-kualitas yang dimiliki para tokoh yang membuat mereka berhasil atau gagal.

Membaca untuk mengelompokkan atau mengklasifikasikan misalnya untuk menemukan serta mengetahui apa-apa yang tidak biasa, tidak wajar mengenai seseorang tokoh, apa yang lucu dalam cerita, atau apakah cerita itu benar atau tidak benar.

Membaca menilai, membaca mengevaluasi seperti untuk menemukan apakah sang tokoh berhasil atau hidup dengan ukuran-ukuran tertentu, apakah kita ingin berbuat seperti cara sang tokoh bekerja dalam cerita itu.

Membaca untuk memperbandingkan atau mempertentangkan dilakukan untuk menemukan bagaimana caranya sang tokoh berubah, bagaimana hidupnya berbeda dari kehidupan yang kita kenal, bagaimana dua cerita mempunyai persamaan, bagaimana sang tokoh menyerupai pembaca.

Nurhadi berpendapat bahwa tujuan membaca adalah sebagai berikut:

  1. Memahami secara detail dan menyeluruh isi buku.
  2. Menangkap ide pokok atau gagasan utama secara tepat.
  3. Mendapatkan informasi tentang sesuatu.
  4. Mengenali makna kata-kata.
  5. Ingin mengetahui peristiwa penting yang terjadi di masyarakat sekitar.
  6. Ingin memperoleh kenikmatan dari karya sastra.
  7. Ingin mengetahui peristiwa penting yang terjadi di seluruh dunia.
  8. Ingin mencari merk barang yang cocok untuk dibeli.
  9. Ingin menilai kebenaran gagasan pengarang.
  10. Ingin memperoleh informasi tentang lowongan pekerjaan.
  11. Ingin mendapatkan keterangan tentang pendapat seseorang (ahli) tentang definisi suatu istilah.7


6 Henry Guntur Tarigan, Loc. Cit

7 Nurhadi, Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca (Bandung: CV. Sinar Baru 1989) hlm. 14

Hakikat Disiplin dalam Pendidikan

Christopher Bjork, orang Amerika yang meneliti pendidikan di Indonesia, begitu tercengang menyaksikan upacara pelantikan pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di sebuah SMP. Dengan langkah berbaris rapi dan membentuk huruf U, pengurus OSIS yang baru menghadap Kepala Sekolah yang tengah berdiri di atas podium upacara, disaksikan oleh dewan guru dan siswa-siswi. Pengurus OSIS lama kemudian menyusul, membentuk hurup U juga, persis di belakang yang pertama. Pengambilan sumpah, dan penandatanganan dokumen kepengurusan, dilakukan dengan penuh hati-hati dan teratur. Semua berdiri tegak, diam dan khidmat mengikuti upacara tersebut.

Selain upacara pelantikan OSIS, Bjork juga mengamati upacara bendera tiap Senin. Menurut pengamatannya, hampir semua guru hadir pada upacara Senin itu, termasuk mereka yang sering absen mengajar. Di luar upacara resmi yang khidmat itu, Bjork juga mengamati bagaimana guru-guru mengajar di kelas. Di sini, Bjork menemukan fakta yang merisaukan hatinya. Ternyata guru-guru itu umumnya tidak menyiapkan bahan pelajaran dengan baik, datang terlambat dan tidak menggunakan media pembelajaran yang memadai. “Yang lebih mengejutkan lagi bagi saya adalah penerimaan yang luas terhadap perilaku semacam ini. Para siswa, orangtua, guru dan tata usaha, semua tetap tak terganggu dengan apa yang menurut saya adalah kurangnya perhatian pada proses belajar-mengajar di sekolah-sekolah itu,” kata Bjork (2005: xiv).

Apa yang dicatat oleh Bjork, saya kira, cukup akrab dengan kita, meskipun mungkin kita tak mau peduli atau malah menerimanya dengan senang hati. Hal serupa sebenarnya juga terjadi di tempat-tempat kerja. Ketika saya mengikuti Prajabatan di Rindam IV Tanjung Pura, seorang komandan berpidato bahwa ia sangat tidak suka dengan Batalion 705. Ternyata yang dia maksud adalah, tentara biasanya apel jam 7 pagi, kemudian masuk kantor. Nanti sore mau pulang, apel lagi jam 5. Dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore, boleh dikata tak ada yang dikerjakan. Maka jadilah Batalion 705! Coba Anda perhatikan perilaku serupa di kantor-kantor pemerintah. Waktu apel pagi, mereka berduyun-duyun datang. Tapi setelah masuk, tidak sedikit orang yang kerjanya hanya membaca koran, menggosip atau nonton TV. Kalau di kantor itu ada tenaga honorer, maka dialah yang sering jadi korban. Semua pekerjaan, kalau bisa, diserahkan kepada si honorer. Sementara mereka yang sudah PNS, yang gajinya jauh lebih besar, justru ongkang-ongkang kaki saja.

Rupanya, apa yang dilakukan oleh bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah dewasa itu, dilakukan pula oleh anak-anak siswa dan mahasiswa, tetapi dalam bentuk lain. Siswa atau mahasiswa senior dengan bersemangat melaksanakan kegiatan ‘Orientasi’ untuk siswa-siswi atau mahasiswa-mahasiswi baru. Orang-orang baru ini mereka perintahkan supaya datang tepat waktu, harus membawa barang-barang yang sulit dicari, dan berpakaian aneh-aneh. Jika semua perintah ini tidak ditaati, mereka akan dihukum. Ada yang dibentak-bentak dan dihina. Bahkan ada yang dipukul dan ditendang. Hampir tiap tahun media memberitakan adanya korban jiwa dalam kegiatan orientasi itu, baik di tingkat sekolah ataupun perguruan tinggi. Anehnya, praktik semacam ini masih saja dibiarkan.

Beberapa contoh yang saya kemukakan di atas hanyalah sebagian kecil dari kenyataan di masyarakat kita. Boleh dikata, semua contoh itu, disadari atau tidak, berhubungan dengan apa yang disebut dengan ‘disiplin’. Mari kita bertanya: Apakah disiplin berarti berbaris rapi dalam setiap upacara bendera? Mengapa kedisiplinan dalam upacara bendera lebih utama daripada mengajar dengan sungguh-sungguh? Mengapa ikut apel pagi dan sore lebih penting daripada mengerjakan tugas-tugas kantor? Mengapa dalam masa Orientasi anak-anak baru itu diperintahkan berpakaian aneh-aneh dan membawa barang-barang yang sulit dicari? Apakah itu akan menumbuhkan disiplin? Apakah dengan hukuman pukul dan tendang, disiplin akan tertanam pada diri seseorang? Apa sebenarnya arti disiplin? Mengapa disiplin itu perlu? Bagaimana menegakkan disiplin?

Makna Disiplin

Kata disiplin diambil dari bahasa Inggris, discipline. Menurut Longman Dictionary of English Languange and Culture (1992: 362) kata discipline memiliki empat makna, yaitu: 1. a method of training to produce obidience and self-control (satu metode pelatihan untuk menghasilkan ketaatan dan pengendalian diri); 2. a state of order and control gained as a result of this training (suatu keadaan teratur dan terkendali yang diperoleh sebagai hasil dari pelatihan ini); 3. punishment that is intended to produce obidience (hukuman yang bertujuan untuk menghasilkan ketaatan); 4. a branch of learning studied at a university (satu cabang ilmu yang dipelajari di universitas).

Dari berbagai pengertian di atas, dapatlah kiranya kita simpulkan bahwa dalam Bahasa Inggris, kata disiplin berarti metode atau cara pelatihan untuk melahirkan ketaatan dan pengendalian diri. Cara itu kadangkala berbentuk hukuman. Tetapi hasil dari penerapan metode pelatihan tersebut juga disebut disiplin. Dengan demikian, makna kata discipline adalah cara sekaligus hasil. Lalu mengapa satu cabang ilmu juga disebut ‘disiplin’? Karena ilmu (science) dikembangkan berdasarkan tata aturan tertentu yang secara sederhana disebut ‘metode ilmiah’. Setiap ilmuwan harus mengikuti metode ini dengan cermat dan konsisten, atau dengan kata lain, dengan penuh disiplin. Hasil dari kerja yang cermat dan konsisten dalam menjalankan metode ilmiah itu kemudian melahirkan temuan di bidang satu disiplin ilmu. Maka dalam hal ini, disiplin adalah metode sekaligus hasil.

Dalam Bahasa Arab modern (Wehr 1974: 10), kita menemukan kata ta’dîb yang berari pendisiplinan; qadhiyyah ta’dîbiyyah berarti tindakan pendisiplinan. Kamus Bahasa Arab al-Mu’jam al-Wasîth (1972: 10) menyebutkan, kata ta’dîb berarti al-tahdzîb atau al-mujâzât (penghalusan sesuatu atau pemberian hukuman). Disebutkan pula bahwa dalam tradisi orang Arab, ada yang disebut majlis al-ta’dîb yang berarti ‘Majelis Pendisiplinan’, mungkin mirip dengan ‘Majelis Kehormatan’ di DPR kita. Tujuan dari adanya majelis ini adalah menegakkan kemaslahan umum (mashlahah ‘âmmah).

Tetapi yang terpenting dari istilah ta’dîb sebenarnya adalah akar katanya, yaitu adab. Menurut  al-Mu’jam al-Wasîth (1972: 9), kata adab berarti (1) riyâdhat al-nafs bi al-ta’lîm wa al-tahdzîb ‘alâ mâ yanbaghi (Pelatihan diri melalui pengajaran dan penghalusan berkenaan dengan apa yang seharusnya dilakukan seseorang; (2) wa jumlatu mâ yanbaghî lidzî al-shinâ’ah aw al-fann, an yatamassaka bih, ka adab al-Qâdhî (segala hal yang seharusnya diikuti oleh seorang profesional di bidang pekerjaan atau keilmuwan seperti adab hakim). Dalam istilah kita, ‘adab’ di sini sama dengan ‘kode etik’. Al-Jurjâni dalam bukunya al-Ta’rîfat (1988: 15) mendefinisikan kata adab dengan ‘ibâratun ‘an ma’rifati mâ yahtarizu bih ‘an jamî’i anwâ’i al-khatha’ (suatu istilah yang menunjukkan suatu pengenalan terhadap hal-hal yang dapat memelihara seseorang dari aneka kesalahan).

Dengan demikian, kata adab dan ta’dîb dalam Bahasa Arab memiliki makna yang luas. Ia bisa berarti suatu pelatihan dalam rangka menghaluskan perilaku seseorang. Ia bisa pula berarti pemberian hukuman. Tetapi ta’dîb tidak selalu berarti ketundukan dan ketaatan karena tujuannya adalah menanamkan adab, yaitu hal-hal yang seharusnya diikuti, atau secara negatif, agar seseorang terpelihara dari berbagai kesalahan. Karena itulah, seorang pakar pendidikan Islam, Muhammad Naquib al-Attas (1984) berpendapat, istilah yang tepat untuk ‘pendidikan Islam’ bukanlah tarbiyyah, melainkan ta’dîb karena yang pertama bermakna memelihara dan menumbuhkembangkan, sedangkan yang kedua berarti menanamkan adab pada seseorang.

Dalam tradisi Islam klasik, istilah adab memang sangat banyak dikemukakan oleh para pemikir, terutama ketika membicarakan masalah-masalah etika. Hal ini antara lain karena adanya hadis Nabi saw yang terkenal: addabanî rabbî fa ahsana ta’dîbî (Aku dididik oleh Tuhanku sehingga Dia membuat pendidikanku itu amat baik). Saya menerjemah kata ta’dîb di hadis ini dengan ‘mendidik’, mengikuti pendapat al-Attas di atas. Maksud dari hadis ini adalah bahwa hidup Nabi Muhammad yang penuh lika-liku dan perjuangan—ia lahir sebagai yatim, kemudian piatu, hidup bersama kakek, kemudian bersama paman, lalu kawin dengan Khadijah, tetapi kemudian isteri tersayang ini meninggal, dan akhirnya ia terpaksa hijrah ke Madinah karena mau dibunuh oleh kaumnya—semua peristiwa ini adalah ta’dîb, pendidikan atau pendisiplinan dari Tuhan.

Demikianlah, para ulama klasik akhirnya lebih suka menggunakan istilah adab dalam menggambarkan pendidikan dalam Islam. Seorang pemikir Islam al-Mâwardi (w.450 H.) misalnya, menulis buku berjudul Adab al-Dunyâ wa al-Dîn (adab dunia dan agama). Dalam mukaddimah buku ini (al-Mâwardi 1992: 7), ia antara lain mengatakan: “Masalah yang paling penting dan besar, dan yang paling banyak manfaatnya adalah apa yang membuat agama dan dunia tegak, dan dengannya kebaikan dunia dan akhirat terjalin. Sebab dengan tegaknya agama, ibadah akan absah, dan dengan kesejahteraan dunia, kebahagian akan tercapai.” Untuk mencapai tegaknya agama dan urusan dunia sekaligus sehingga tercapai kebahagiaan hidup, al-Mâwardi kemudian memaparkan perlunya mengikuti berbagai norma yang disebutnya adab-adab (âdâb).

Tujuan dan Metode Disiplin

Sekilas dalam membahas makna disiplin di atas, kita sudah menyentuh mengapa disiplin itu perlu. Misalnya, makna disiplin dalam Bahasa Inggris menunjukkan bahwa tujuan dari disiplin adalah melahirkan ketaatan pada aturan dan pengendalian diri. Dalam pengertian Bahasa Arab, disiplin juga diperlukan untuk menegakkan kemaslahatan umum. Selain itu, tujuan disiplin juga adalah menjaga diri seseorang agar tidak jatun berbagai kesalahan, atau lebih luas lagi, agar seseorang bisa mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dalam pengertian terakhir ini, kata ta’dîb identik dengan pendidikan.

Dengan demikian, tujuan dari disiplin, jika kita melihatnya dalam pengertian yang luas, adalah tercapainya tujuan pendidikan itu sendiri. Untuk mencapai tujuan tersebut, tentu diperlukan metode-mdetode tertentu. Tidak ada ketentuan yang baku dalam hal metode ini kecuali dua hal: (1) metode tidak boleh bertentangan dengan tujuan; (2) metode yang baik adalah metode yang paling efektif dan efisien dalam mencapai tujuan.

Metode tidak boleh bertentangan dengan tujuan. Ini prinsip yang amat penting. Tujuan yang baik, yang dicapai melalui cara-cara yang salah, akan merusak tercapainya tujuan tersebut. Kalau saya mencuri dengan tujuan bersedekah kepada fakir miskin, tindakan saya itu tetap haram, dan sedekah saya tidak berpahala. Kalau saya ingin agar anak saya menjadi seorang yang baik, tetapi saya membiarkan dia bergaul dengan orang-orang yang nakal dan jahat, maka saya sudah melakukan cara yang bertentangan dengan tujuan.

Tetapi Anda mungkin akan berkata, kalau persoalan jelas hitam-putih seperti contoh-contoh di atas, maka takkan ada masalah. Yang jadi masalah adalah ketika cara-cara tertentu oleh sebagian orang dianggap wajar, sebagian lagi menganggapnya tidak wajar bahkan melanggar hukum. Misalnya, bisakah orangtua atau guru menempeleng anak didiknya yang melakukan kesalahan besar dengan tujuan agar anak itu jera? Di zaman sekarang, pemukulan pada anak bisa dijerat hukum karena dianggap melakukan tindak kekerasan pada anak.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya berpendapat bahwa perubahan sosial budaya masyarakat akan menentukan cara-cara apa saja yang dapat diterima dalam mendidik anak. Barangkali, di zaman dulu pukul dan tempeleng itu dianggap wajar dan biasa. Budaya masyakarat kita pada saat itu lebih bersifat paternalistik (tunduk pada figur ayah atau guru) dan komunal (kepentingan kelompok lebih diutamakan daripada kepentingan indvidu). Sekarang zaman berubah. Anak-anak kita semakin berpendidikan, dan budaya kita semakin individualis dalam arti orang dihargai lebih sebagai diri pribadi ketimbang sebagai anggota dari satu kelompok. Perubahan sosial ini membuat apa yang dulu wajar, sekarang malah dianggap melanggar hukum.

Apakah perubahan ini patut disyukuri atau disesali? Saya kira kita tak perlu bersyukur atau menyesal karena yang penting adalah prinsip kedua dalam menerapkan metode, yaitu sejauhmana sebuah metode efektif mencapai tujuan yang diinginkan. Kalau di zaman dulu anak-anak menjadi disiplin karena takut pada guru atau orangtua yang kalau marah bisa saja memukulnya, sekarang kalau dipukul barangkali mereka tidak akan bertambah disiplin, melainkan bertambah nakal. Jika demikian halnya, maka cara yang diterapkan harus diubah, yakni dengan cara-cara persuasif dan kasih sayang. Selain itu, karakter masing-masing anak dan latar belakang sosial keluarganya, seringkali berpengaruh pula terhadap metode apa yang efektif untuk anak tersebut. Maka dalam hal ini, seorang pendidik harus jeli dan bisa memahami karakter masing-masing anak didiknya. Anak miskin dari keluarga tidak terpelajar, yang tiap hari diomelin di rumah, mungkin akan berbeda cara penanganannya dengan anak orang berduit dari keluarga terpelajar. Singkat kata, tidak ada metode yang benar-benar universal.

Selain itu, yang tak kalah pentingnya adalah metode tanpa suara, tetapi amat berpengaruh, yaitu contoh teladan. Semua kita tahu akan hal ini, yakni bahwa contoh lebih fasih daripada kata-kata indah. Tetapi dalam praktik, hal ini tidaklah mudah. Bagaimana guru dapat menanamkan disiplin kalau dia sendiri sering terlambat dan sering tidak masuk? Bagaimana orangtua dapat menyuruh anaknya rajin shalat kalau dia sendiri seringkali meningalkan shalat?

Mengapa Manusia Perlu Disiplin?

Tetapi mengapa manusia perlu dilatih dan dididik dengan disiplin? Karena manusia adalah makhluk yang belum selesai. Sejak lahir, dia harus diasuh dan ditumbuhkembangkan, baik kehidupan fisik, psikis ataupun sosialnya. Manusia tidak seperti binatang yang tidak lama setelah lahir sudah bisa mengikuti pola hidup orangtuanya. Tetapi berbeda dengan binatang, manusia dapat terus maju dan berkembang. Ia dapat mewariskan kepandaiannya kepada generasi muda, yang akan mengembangkannya lagi sampai batas yang tak pernah diketahui. Manusia adalah makhluk yang terus-menerus menjadi.

Dalam proses menjadi itu, manusia harus menjalaninya melalui berbagai latihan dan pengajaran. Disiplin merupakan bagian dari latihan itu. Dalam Bahasa Arab disebut riyâdhah. Dengan latihan dan pembiasaan, manusia diharapkan akan terbiasa pada perbuatan baik, dan meninggalkan perbuatan jahat. Proses pembiasaan inilah yang sebenarnya dilakukan dalam menerapkan beragam metode di atas. Ini sebabnya, al-Ghazali (1995:57) mengatakan, al-khuluq adalah sisi batin dari perilaku, sedangkan al-khalq adalah sisi lahirnya. Pelatihan diperlukan untuk menanamkan pada batin seseorang kebiasaan akan suatu perbuatan. Jika suatu perbuatan itu sudah terbiasa sehingga ia mudah mengerjakannya tanpa hambatan batin lagi, maka perbuatan itu bisa disebut al-khuluq dan jamaknya al-akhlâq. Jika perbuatan itu baik, maka disebuat al-akhlâq al-karîmah, dan jika buruk disebut al-akhlâd al-sayyiah.

Akhirnya, perlu kiranya juga disinggung di sini bahwa dalam tradisi Islam, pendidikan itu bertujuan melahirkan keseimbangan. Karena itu dalam agama ada perintah untuk berbuat baik, ada larangan berbuat jahat. Ada ajaran tentang cinta kasih, adapula ajaran tentang keadilan. Menurut Cak Nur, kalau agama Yahudi menekankan keketatan hukum dan Kristen menekankan cinta kasih, maka Islam berada di tengah-tengah. Yahudi itu sangat ketat hukumnya karena ia adalah agama untuk orang-orang yang pernah diperbudak. Budak biasanya tidak taat kecuali diancam dengan hukum. Selanjutnya datang Nabi Isa untuk melonggarkan keketatan itu dengan ajaran cinta kasih. Akhirnya Muhammad menyempurnakannya dengan menggabungkan keadilan hukum dan cinta atau rahmat.

Dalam tradisi tasawuf, Tuhan itu juga memiliki dua jenis sifat yaitu sifat-sifat jamâl yang indah seperti penyayang, pengampun dan penerima taubat, dan sifat-sifat jalâl yang menakutkan seperti memaksa dan menyiksa. Gabungan antara kedua jenis sifat ini kemudian melahirkan kamâl atau kesempurnaan. Seorang Muslim diharapkan bersikap seimbang pula dalam hidupnya. Ia tak boleh begitu takut pada Tuhan sehingga putus asa, atau begitu berharap akan rahmat Tuhan sehingga berbuat dosa seenaknya. Manusia harus berada di tengah-tengah antara takut dan harap. Begitu pula dalam hal pendidikan. Anak yang hanya diberi kasih sayang tetapi tak pernah ditegur, mungkin akan menjadi anak yang manja. Sebaliknya, anak yang terus-menerus dimarahi mungkin akan menjadi tidak percaya diri. Disiplin adalah upaya menciptakan keseimbangan, dan keseimbangan itu memang tidak mudah.

Penutup

Kita sudah membahas makna disiplin, metode-metode penanaman disiplin dan tujuan disiplin itu sendiri. Tetapi ada satu hal penting yang belum kita analisis, yaitu kasus-kasus yang dipaparkan pada bagian awal tulisan ini. Mengapa semua itu dapat terjadi? Saya kira sebab utamanya adalah karena kita cenderung melihat disiplin secara formal tanpa memperdulikan substansinya. Kita memahami disiplin hanya pada kulitnya, bukan pada isinya. Kita ribut kalau murid lupa memakai kaos kaki seragam, dan lalu menghukunya, tetapi kita tak peduli kalau guru seringkali bolos atau mengajar asal-asalan. Kita juga melihat disiplin hanya sebagai kepatuhan mutlak tanpa melihat tujuan sesungguhnya dari penehakan disiplin itu sendiri. Apa yang dilakukan siswa dan mahasiswa pada program Orientasi adalah cermin dari kesalahan ini. Mari kita tinggalkan semua bentuk formalitas dan pemahaman yang dangkal terhadap disiplin itu.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Attas, Muhammad Naquib. 1984. Konsep Pendidikan dalam Islam. Bandung: Mizan.

Al-Ghazâlî, Muhammad bin Muhammad. 1995. Ihya’ ‘Ulûm al-Dîn jilid 3. Beirut: Dâr al-Fikr.

Al-Jurjânî, Ali bin Muhammad. 1988. Kitâb al-Ta’rîfât. Beirut: Dar la-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Mâwardi, Ali bin Muhammad. 1992. Adab al-Dunyâ wa al-Dîn. Beirut: Dar al-Fikr.

Bjork, Christopher. 2005. Indonesian education, Teachers, Schools and Central Bureaucracy. London: Routledge.

Longman, Dictionary of English Languange and Culture. 1992. Harlow: Longman

Mustafa, Ibrâhîm dkk. 1972. al-Mu’jam al-Wasîth. Istanbul : al-Maktabah al-Islamiyyah.

Wehr, Hans. 1974. A Dictionary of Modern Written Arabic. Beirut: Librarie du Liban.


disalain dari: DR. Mujiburrahman, MA. Makalah disampaikan dalam Seminar Pendidikan 1 dengan tema “Disiplin Tanpa teriakan” yang dilaksanakan oleh Ikatan Guru Indonesia Kota Banjarbaru, 5 Juni 2010.