Tag Archives: Ungkapan Tidak Jelas

Belajar Waktu Muda Bagai Mengukir Batu

Mengukir Batu 300x200 Belajar Waktu Muda Bagai Mengukir BatuSatu lagi pepatah Arab yang cukup terkenal dan mempunyai makna yang sangat dalam,

التَّعلّم فِي الصِّغَرِ كَالنَّقْشِ على الْحَجَرِ ** التَّعلّم فِي الْكِبَرِ ِ كَالنَّقْشِ عَلَى الْمَاءِ

 Belajar diwaktu muda laksana mengukir diatas batu, dan belajar diwaktu tua laksana melukis diatas air

Syubbanul Yaum Rijalul Gadd I Pemuda Hari Ini Pemimpin Besok Hari

 شبان اليوم رجال الغد

w  201728229 300x231 Syubbanul Yaum Rijalul Gadd I Pemuda Hari Ini Pemimpin Besok Hari–Syubbanul yaum rijalul gadd–
Pemuda hari ini adalah pemimpin besok hari

Pepatah arab yang satu ini sangat terkenal, biasa dibawakan dalam pidato tentang pemuda, biasa pula disandingkan dengan perkataan Soekarno: Berisakan saya sepuluh pemuda maka akan ku guncang dunia

Man Jadda Wajada I Barang Siapa Yang Bersungguh-sungguh Akan Berhasil

Man Jadda Wajada 300x162 Man Jadda Wajada I Barang Siapa Yang Bersungguh sungguh Akan Berhasil

Barang Siapa Yang Bersungguh-sungguh Akan Berhasil

Man Jadda Wajada inilah salah satu pesan positif yang disampaikan dalam film Negri 5 Menara. Dalam Film tersebut digambarkan dengan parang yang tumpul bisa saja memotong kayu keras dengan usaha yang luar biasa.  Jauh sebelum film itu dibuat, kalimat  motivasi man jadda wajada telah sangat terkenal di dunia pesantren, biasanya kalimat tersebut bersama dengan kalimat-kaimat motivasi lainnya yang terhimpun dalam satu kitab mahfuzhat (hafalan) wajib dihafalkan oleh tiap-tiap santri.

Lebih Cepat Lebih Baik

Kahirul Birri Ajiluhu Khat Tsulus 300x212 Lebih Cepat Lebih Baik

Kebaikan terbaik adalah yang tercepat

“lebih cepat lebih baik” selogan ini yang dibawa JK – Win dalam mengikuti pertarungan memperebutkan RI 1 pada PEMILU 2009 silam. Bukan pemilu yang kita bahas pada tulisan kali ini tapi terbatas pada kata yang menjadi selogan itu saja.

Selogan tersebut agak mirip dengan  satu ungkapan yang cukup terkenal dikalangan muslim, ungkapan dalam bahasa Arab :

Cara Mengetahui Satu Ungkapan Termasuk Hadits atau Bukan Menggunakan Media Digital

Sekarang ini, kita sudah hidup dizaman digital, sehingga apapun dengan mudah dapat kita ketahui secara cepat dan mudah.

Satu contoh umum, dalam skripsi yang halamnnya berjumlah misalnya 302 halaman. Dengan mudah kita bisa menemukan, berapa jumlah kata “adalah” jumlah kata “mungkin”, dan dengan sekali Enter kita bisa mengganti semua kata “adalah” menjadi “ialah” atau kata “mungkin” menjadi “makin” atau lainnya, menggunakan fasilitas FIND dan REPLACE di MS. WORD

Memaknai تعلموا قبل أن تسودوا

تعلموا قبل أن تسودوا

Sebuah pernyataan yang disampaikan oleh Sayyidina Umar Ibnu Khtattab  yang dalam kitab-kitab hadits, lafazhnya:

تفقهوا قبل أن تسودوا

Pernyataan tersebut dapat ditemui dalam Kitab  Shaih Bukhari pada pembukaan Bab Ightibath Fil Ilmi wal Hikmah. Atau  pada kitab hadits sunan addarimi nomor hadits 250, lengkapnya sebagai berikut:

Benarkah Orang Alim Adalah Kekasih Allah Sekalipun Ia Fasik

Penghargaan Islam terhadap Ilmu sangat tinggi. Ini terlihat sejak Allah menurunkan  ayat pertama-Nya kepada Nabi Muhammad. Iqra` (bacalah) ,  juga pada ayat-ayat lain:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الأَلْبَابِ 

“Katakanlah:  “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS.Az-Zumar: 9)

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu (agama) beberapa derajat.” (QS. Al-Mujaadilah:11)

Selaras dengan ayat-ayat di atas, Rasulullah bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَطْلُبُ فِيْهِ عِلْمًا، سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ، وَالْحِيْتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ، وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ، وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Barangsiapa menempuh suatu jalan yang padanya dia mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan dia menempuh jalan dari jalan-jalan (menuju) jannah, dan sesungguhnya para malaikat benar-benar akan meletakkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu, dan sesungguhnya seorang penuntut ilmu akan dimintakan ampun untuknya oleh makhluk-makhluk Allah yang di langit dan yang di bumi, sampai ikan yang ada di tengah lautan pun memintakan ampun untuknya. Dan sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu atas seorang yang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada malam purnama atas seluruh bintang, dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya maka sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat banyak.” (HR. Abu Dawud no.3641, At-Tirmidziy no.2683)

Begitulah Islam memandang Ilmu.  Mungkin karena penghargaan Islam terhadap ilmu yang teramat tinggi ini, yang menyebabkan ada yang kebablasan menyatakan pandangannya dengan mengatakan bahwa orang yang berilmu (alim) adalah kekasih Allah sekalipun ia fasik. Berikut pernyataannya dalam bahasa Arab yang saya ambil dari blog penashhih.wordpress.com

العالم حبيب الله ولو كان فاسقا و الجاهل عدوالله ولوكان عابدا

“Orang alim adalah kekasih Allah sekalipun ia fasik, dan orang yang bodoh adalah musuh Allah sekalipun ia Ahli Ibadah”

Sampai saat ini pernyataan tersebut diatas tidak diketahui siapa yang mengucapkannya pertama kali, tapi yang jelas itu bukan dari Hadits Nabi. Karena tidak terdapat dalam kitab-kitab Hadis bahkan tidak ada dalam kitab-kitab hadis dhaif sekalipun. Juga karena maknanya yang bertentangan dengan Firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ لا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلاً مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلاً يُضِلُّ بِهِ كَثِيراً وَيَهْدِي بِهِ كَثِيراً وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ الَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الأَرْضِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, Maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?.” dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,  (yaitu) orang-orang yang melanggar Perjanjian Allah sesudah Perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. mereka Itulah orang-orang yang rugi.(QS. Al-Baqarah: 26-27)

Dalam ayat lain Allah menyamakan orang yang fasik dengan kafir, dan mengancam balasan bagi orang Fasik adalah neraka.

أَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا لا يَسْتَوُونَ  أَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ جَنَّاتُ الْمَأْوَى نزلا بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ وَأَمَّا الَّذِينَ فَسَقُوا فَمَأْوَاهُمُ النَّارُ كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا وَقِيلَ لَهُمْ ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ

Apakah orang-orang beriman itu sama dengan orang-orang yang fasik? mereka tidak sama. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, Maka bagi mereka jannah tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan. dan Adapun orang-orang yang Fasik (kafir) Maka tempat mereka adalah Jahannam. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya.” (QS. As-Sajadah: 18-20)

Ada ratusan hadist  shahih yang menerangkan tentang orang fasik, namun kali ini saya hanya menunjukkan hadis yang sesuai dengan judul kita,  yaitu orang alim (berpengatahuan agama) yang fasik. Riwayat HR. Addarimi No.300

إياكم والعالم الفاسق فبلغ عمر بن الخطاب فكتب إليه وأشفق منها ما العالم الفاسق قال فكتب إليه هرم يا أمير المؤمنين والله ما أردت به الا الخير يكون إمام يتكلم بالعلم ويعمل بالفسق فيشبه على الناس فيضلون

قال حسين سليم أسد : إسناده صحيح

Sekalipun Islam sangat menjunjung tinggi Ilmu, namun Islam juga punya batasan-batasan.  Tidak semua orang yang punya Ilmu (alim) disukai Allah, orang alim yang fasik justru sangat membahayakan, dia bisa menyesatkan. Karena sangat sulit bagi orang kebanyakan  membedakan mana ucapan dan perbuatannya yang benar dan yang salah.